Senin, 29 Juni 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Akselerasi Teknologi, Jatim Jajaki Kerja Sama AI Skala Besar dengan…

Akselerasi Teknologi, Jatim Jajaki Kerja Sama AI Skala Besar dengan…
kerja sama AI antara Jawa Timur dan Daerah Otonomi Guangxi Zhuang, China, dibahas dalam pertemuan tatap muka di Hotel Borobudur, Jakarta, Sabtu, 27 Juni 2026. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — kerja sama AI antara Jawa Timur dan Daerah Otonomi Guangxi Zhuang, China, dibahas dalam pertemuan tatap muka di Hotel Borobudur, Jakarta, Sabtu, 27 Juni 2026. Agenda ini mempertemukan delegasi Jawa Timur dengan pejabat tinggi Guangxi untuk membuka peluang kolaborasi teknologi, investasi digital, dan pengembangan ekosistem kecerdasan buatan.

Pertemuan itu terasa penting karena Guangxi, terutama Nanning sebagai pusat China (Guangxi) Pilot Free Trade Zone atau GXFTZ, dikenal agresif menawarkan insentif bagi investor. Jawa Timur melihat celah itu sebagai jalan masuk untuk mempercepat lompatan teknologi. Bukan sekadar wacana. Delegasi daerah ingin pulang membawa skema kerja sama yang bisa langsung dikerjakan.

Dr. Ir. Jamhadi, MBA, yang memoderatori sekaligus memimpin rapat, mengatakan dialog berlangsung produktif. Ia menyebut pejabat Guangxi menaruh perhatian besar pada kemitraan di sektor Artificial Intelligence. Menurut Jamhadi, salam hormat dari pihak Guangxi juga disampaikan untuk kepemimpinan Jawa Timur.

Insentif Nanning bukan hibah bebas, tapi skema kompetisi

Dalam keterangannya, Jamhadi juga meluruskan informasi soal kabar stimulus berupa lahan 500 meter persegi dan suntikan modal 5 juta RMB atau sekitar Rp 13 miliar dari pemerintah Nanning. Ia menegaskan fasilitas itu bukan hibah cuma-cuma yang otomatis diterima investor. Skemanya berjalan lewat Program Yongjiang, yakni program penjaringan talenta internasional dan kompetisi inovasi.

“Skema insentif di Nanning, khususnya untuk ranah teknologi cerdas, bersifat struktural dan berbasis pada pencapaian kinerja. Dana stimulan tersebut merupakan bentuk matching fund atau dana pendampingan yang dicairkan secara bertahap berdasarkan progres atau milestone proyek inovasi yang berhasil memenangkan seleksi ketat,” ujar Jamhadi dalam keterangan tertulis, Minggu, 28 Juni 2026.

Pola seperti ini penting dipahami pelaku usaha Indonesia. Banyak investor tergoda angka besar, lalu berhenti di permukaan. Padahal, di balik insentif ada syarat performa, bukti jalan proyek, dan kemampuan menjalankan bisnis di lapangan. Kalau tak siap, dana tak cair. Ruang kerja ada, tapi hanya untuk korporasi yang benar-benar beroperasi di sana.

Jamhadi menyebut fasilitas 500 meter persegi di China-ASEAN AI Innovation Cooperation Center ditujukan bagi korporasi yang aktif mengembangkan operasi nyata. Otoritas setempat, kata dia, mencari mitra dari Indonesia untuk pelatihan model komputasi, anotasi data, dan penerapan AI di sektor pendidikan, pariwisata, sampai ketahanan agraria.

Jawa Timur tawarkan data center, keamanan siber, dan KEK Singhasari

Delegasi Jawa Timur tidak datang dengan tangan kosong. Mereka mengajukan penawaran investasi yang menyasar sektor-sektor yang sedang tumbuh cepat di Indonesia. Salah satu yang paling menonjol ialah dorongan agar investor asal China masuk ke pembangunan data center, keamanan siber, dan bisnis digital skala besar di Kawasan Ekonomi Khusus atau KEK Singhasari.

Bidikan ini masuk akal. Kebutuhan pusat data terus naik, sementara perusahaan dan pemerintah daerah kini mengandalkan sistem digital untuk layanan publik, transaksi, dan penyimpanan informasi. Jika investasi mengalir ke sini, ekosistem teknologi Jawa Timur bisa bergerak lebih cepat. Rantai manfaatnya panjang: penyedia layanan internet, perusahaan software, tenaga kerja digital, sampai UMKM yang memakai sistem berbasis awan.

Rencana itu disebut segera difinalisasi untuk diusulkan secara resmi kepada Gubernur Jawa Timur. Artinya, forum di Jakarta bukan sekadar ramah tamah antardelegasi. Ada jalur birokrasi yang harus ditempuh, lalu masuk ke tahap penilaian kebijakan dan kesiapan lahan, infrastruktur, serta regulasi. Di titik ini, pemerintah daerah biasanya menimbang dampak ekonomi, kesiapan daerah, dan kepastian hukum investasi.

Penawaran Jawa Timur juga meluas ke fasilitas industri dan bangunan pintar berbasis smart building. Ada pula rencana investasi PLTD berkapasitas 30 megawatt di Sumenep yang telah mengantongi izin resmi dari PLNTS, menurut bahan sumber yang diterima redaksi. Di atas itu, delegasi menyodorkan konsep smart farming di lahan siap pakai seluas 4.500 hektare yang dikelola mitra lokal.

Dari lab AI ke sawah pintar

Kalau dilihat lebih dekat, daftar tawaran itu menunjukkan satu hal: Jawa Timur ingin menjahit teknologi dengan kebutuhan riil. Bukan hanya mengejar laboratorium AI yang canggih di atas kertas, tapi juga penerapan yang bisa dirasakan masyarakat. Pendidikan bisa memakai sistem pembelajaran adaptif. Pariwisata bisa mengandalkan analitik pengunjung. Sektor pertanian bisa mengadopsi sensor, prediksi cuaca, dan pengaturan tanam yang lebih presisi.

Smart farming jadi bagian yang menarik. Selama ini, banyak program teknologi kandas karena terpisah dari kebutuhan petani. Kalau lahan 4.500 hektare itu benar-benar masuk skema kerja sama, pertanyaannya tinggal satu: seberapa jauh teknologi bisa menekan biaya, menaikkan hasil panen, dan mengurangi risiko gagal tanam? Jawaban itu yang nanti menentukan apakah proyek ini hidup atau hanya berhenti di presentasi.

Pertemuan tersebut juga memperlihatkan pola diplomasi investasi yang makin umum di daerah. Pemerintah daerah tidak lagi hanya menunggu pusat. Mereka aktif mencari mitra, membangun jejaring, lalu memetakan sektor yang paling siap ditanam modal. Jawa Timur mencoba menempatkan diri sebagai pintu masuk kerja sama teknologi antara Indonesia dan China, khususnya di bidang AI dan ekonomi digital.

Forum di Hotel Borobudur dihadiri sejumlah tokoh. Di antaranya Prof. Dr. Ir. Marsudi Wahyu Kisworo, Dewan Pengarah BRIN yang juga memimpin Apvokasi; pakar teknologi informasi Prof. Ir. Onno Widodo Purbo bersama Nurlina Noertam Purbo dari Onno Center; serta Dr. Ir. Dyah Wahyu Ermawati, Kepala DPMPTSP Jawa Timur, yang hadir mewakili Gubernur Jawa Timur. Dari sektor perbankan, hadir Nathalia Nuryani SE (Amey).

Dengan komposisi seperti itu, kerja sama AI ini punya modal serius: ada regulator, ada pakar, ada dunia usaha, dan ada saluran investasi. Tinggal satu pekerjaan besar yang sering menentukan nasib banyak forum serupa — mengeksekusi kesepakatan tanpa kehilangan arah. Jamhadi menutup penjelasannya dengan nada optimistis. “Fokus utama mereka adalah membangun kemitraan di sektor Artificial Intelligence demi menyokong kemajuan di berbagai lini industri,” ujarnya.

Ringkasan singkat

1. Jawa Timur dan Guangxi Zhuang membahas kerja sama AI skala besar di Jakarta, dengan fokus pada investasi digital dan ekosistem teknologi.

2. Insentif Nanning lewat Program Yongjiang bukan hibah bebas, melainkan matching fund berbasis seleksi dan milestone proyek.

3. Jawa Timur menawar peluang di data center, keamanan siber, smart building, PLTD Sumenep, dan smart farming 4.500 hektare.

FAQ singkat

Apa fokus utama pertemuan ini? Kolaborasi kecerdasan buatan, investasi digital, dan penguatan ekosistem teknologi.

Kenapa Nanning menarik? Karena memiliki insentif investasi yang terstruktur di kawasan perdagangan bebas GXFTZ.

Apa untungnya bagi Jawa Timur? Ada peluang masuknya modal, transfer teknologi, dan penguatan sektor digital serta pertanian cerdas.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda