Senin, 6 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Australia Naikkan Denda Rp1 Triliun bagi Platform yang Langgar Aturan

Australia Naikkan Denda Rp1 Triliun bagi Platform yang Langgar Aturan
Australia menaikkan denda Rp1 triliun bagi platform pelanggar aturan remaja. (Ilustrasi: AI)

Menteri Komunikasi Australia Anika Wells juga bicara keras. Ia mengatakan laporan rutin dari eSafety membuatnya belum puas dengan langkah yang diambil perusahaan teknologi. “Jelas bagi saya bahwa platform media sosial menggunakan berbagai cara khas perusahaan teknologi besar dan hanya melakukan upaya seminimal mungkin agar terlihat patuh,” ujarnya.

Wells menambahkan, perusahaan media sosial adalah salah satu korporasi paling kaya dan berpengaruh di dunia. Karena itu, menurut dia, mereka harus dimintai pertanggungjawaban. Nada pemerintah Australia jelas: jangan hanya menjual janji. Tunjukkan hasil.

Di lapangan, beberapa platform memang sudah menguji cara verifikasi baru. Ada yang memakai kecerdasan buatan untuk memperkirakan usia berdasarkan foto. Ada pula yang meminta unggahan kartu identitas resmi pemerintah. Tapi model ini juga menyisakan pertanyaan: seberapa akurat, seberapa aman, dan seberapa mudah disalahgunakan?

Kenapa kebijakan ini jadi perhatian banyak negara

Australia tidak bergerak sendirian. Keberhasilan kebijakan mereka diamati banyak negara yang sedang mempertimbangkan langkah serupa, termasuk Inggris, Indonesia, Uni Emirat Arab, dan Selandia Baru. Bagi pemerintah lain, model Australia menarik karena tegas. Bagi pengkritik, model ini memunculkan pertanyaan baru soal privasi, verifikasi umur, dan kebiasaan anak berpindah ke ruang internet yang lebih sulit diawasi.

Perusahaan teknologi sendiri sebelumnya sudah memperingatkan risiko itu. Jika akses ke platform utama dibatasi, remaja bisa saja pindah ke layanan lain yang tidak diatur ketat. Jalurnya bisa lebih gelap. Lebih susah dilacak. Dan itu justru bisa membuat pengawasan makin rumit.

Namun, argumen pendukung kebijakan tak kalah kuat. Sejumlah penelitian menunjukkan penggunaan internet dan media sosial yang berlebihan dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan kesejahteraan remaja. Keluhan orang tua juga terdengar seragam: terlalu banyak layar, terlalu banyak waktu habis, terlalu sedikit jeda.

Sebuah studi yang dipublikasikan bulan ini di British Medical Journal menyebut belum ada bukti cukup bahwa larangan media sosial secara signifikan menurunkan penggunaan di kalangan remaja. Penelitian itu melibatkan lebih dari 400 responden muda dan membandingkan data sebelum aturan berlaku dengan tiga bulan setelahnya. Hasilnya menunjukkan masih terjadi penghindaran aturan dalam skala besar.

Halaman:123Semua Halaman

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda