PANGLAGAN — Upaya membawa tradisi Tabuik ke panggung dunia kini memasuki babak baru yang krusial. Kementerian Kebudayaan meminta Pemerintah Kota Pariaman dan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat segera menyiapkan dokumen usulan agar tradisi Tabuik masuk dalam daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Langkah ini memerlukan kajian akademik yang mendalam serta penyusunan dokumen pendukung yang komprehensif dari pemerintah daerah setempat.
Keputusan ini akan membawa dampak besar bagi sektor pariwisata Sumatera Barat. Jika berhasil terdaftar di UNESCO, proteksi terhadap kelestarian Tabuik akan semakin kuat sekaligus melipatgandakan kunjungan wisatawan mancanegara ke Pariaman. Hal ini otomatis akan menggerakkan roda ekonomi pelaku UMKM dan industri kreatif lokal secara signifikan. Wisatawan tidak hanya datang sebagai penonton, tetapi juga sebagai penggerak ekosistem ekonomi kreatif di pesisir barat Sumatra.
Kajian Akademik Jadi Kunci Utama
Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha, menegaskan bahwa proses pendaftaran ke lembaga kebudayaan dunia tersebut membutuhkan persiapan matang di tingkat daerah. Kementerian Kebudayaan siap memfasilitasi proses administrasi, namun materi substansi harus datang dari riset lokal yang kuat. Pemerintah daerah tidak bisa hanya mengandalkan kemegahan festival tahunan tanpa didukung oleh dokumentasi sejarah yang sahih.
“Pendaftarannya memang melalui Kementerian Kebudayaan, namun kita harus banyak menyusun kajiannya,” ujar Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha di sela-sela menghadiri puncak Pesona Budaya Tabuik Piaman 2026 di Pariaman, Minggu.
Giring menambahkan bahwa Tabuik memiliki nilai keunikan visual dan prosesi yang sangat tinggi. Mulai dari detail desain ornamennya yang bersayap, teknik pembuatan manual yang rumit, hingga ritual puncak prosesi menghoyak Tabuik sebelum akhirnya dilarung ke tengah laut lepas. Semua elemen fisik dan nilai filosofis di balik ritual ini harus tertuang secara presisi dalam naskah akademik yang diajukan ke Paris.
Komitmen Pemerintah Daerah Pariaman
Merespons permintaan tersebut, Penjabat Wali Kota Pariaman, Yota Balad, menyatakan komitmen penuhnya untuk segera bergerak cepat demi membawa festival tahunan ini ke panggung dunia. Pihak Pemkot Pariaman akan segera membentuk tim khusus bersama Pemprov Sumatera Barat. Langkah taktis pertama adalah mengumpulkan para sejarawan, akademisi, dan tokoh adat (niniak mamak) untuk menyamakan persepsi mengenai sejarah panjang Tabuik.
“Kami siap mempersiapkan apa dan bagaimananya agar Tabuik masuk UNESCO,” kata Wali Kota Pariaman Yota Balad.
Yota mengklaim bahwa pergelaran Tabuik tahun ini merupakan yang paling meriah sepanjang sejarah pelaksanaannya. Antusiasme penonton pecah. Selain karena kehadiran Wakil Menteri Kebudayaan yang sempat bernyanyi menghibur warga, jumlah perputaran uang di lapangan selama festival ditaksir melonjak tajam dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ratusan pedagang kaki lima dan sektor perhotelan di Pariaman meraup untung berlipat ganda selama prosesi berlangsung.
Target Kebudayaan Indonesia di Kancah Global
Upaya mendorong kebudayaan lokal ke ranah internasional memang sedang gencar dilakukan oleh pemerintah pusat. Giring membocorkan bahwa dalam waktu dekat, Indonesia akan kembali menerima kabar baik dari UNESCO terkait pengakuan kuliner tradisional. Langkah ini diharapkan menjadi pembuka jalan bagi warisan budaya takbenda lainnya dari Nusantara.
Tahun ini tempe akan disahkan oleh UNESCO.
Pemerintah berharap momentum pengesahan tempe ini dapat menular pada usulan-usulan kebudayaan lain dari berbagai daerah, termasuk Tabuik dari Pariaman. Keunikan tradisi pesisir barat Sumatra ini dinilai sudah sangat layak bersanding dengan warisan budaya dunia lainnya. Kini bola panas berada di tangan pemerintah daerah untuk segera membuktikan keseriusan mereka menyusun dokumen usulan tersebut.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.