Senin, 29 Juni 2026 WIB
BREAKING
HUKUM KRIMINAL

Manash Pratim Gohain, Jurnalis TOI yang Kawal NEP 2020

Manash Pratim Gohain menulis soal NEP 2020 di ruang redaksi
Manash Pratim Gohain membangun nama lewat liputan NEP 2020, politik, dan kebijakan publik. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Manash Pratim Gohain dikenal sebagai jurnalis senior The Times of India yang selama lebih dari dua dekade menulis soal pendidikan, politik, dan tata kelola pemerintahan. Fokus utamanya jelas: kebijakan publik yang punya dampak langsung ke warga, terutama lewat liputan tentang National Education Policy (NEP) 2020.

Jejak itu penting karena Gohain tidak berhenti di level keputusan pemerintah. Ia mengurai efeknya ke sekolah, kampus, mahasiswa, sampai pasar kerja. Di tengah debat tentang mutu pendidikan, akreditasi, dan pelatihan kerja, nama Gohain muncul sebagai wartawan yang konsisten menghubungkan aturan dengan kehidupan nyata di lapangan. Pendek, tapi kena.

Rekam jejak Manash Pratim Gohain di pendidikan dan politik

Berdasarkan keterangan yang tersedia, Gohain telah menghasilkan lebih dari 2.500 artikel dan bekerja di The Times of India selama lebih dari 20 tahun. Angka itu bukan sekadar angka pajangan. Itu menandakan ritme kerja yang stabil, disiplin liputan yang panjang, dan penguasaan isu yang tidak dibangun dalam semalam.

Ia dikenal luas lewat laporan mendalam mengenai NEP 2020, reformasi akreditasi, dan inisiatif skilling. Tiga isu ini saling terkait erat. Pendidikan berubah, standar mutu diperketat, dan kebutuhan tenaga kerja ikut bergeser. Dalam liputannya, Gohain kerap bergerak di titik temu antara kebijakan dan publik, tempat sebuah keputusan bisa terasa abstrak di atas kertas, tapi sangat konkret saat menyentuh ruang kelas atau kantor pencari kerja.

Bidang lain yang juga ia liput mencakup politik mahasiswa, kebijakan perkotaan, dan gerakan sosial. Kombinasi itu membuat tulisannya tidak terjebak di satu sudut pandang. Ia membaca politik dari dekat, tetapi tetap membawa kacamata kebijakan dan pelayanan publik. Hasilnya, pembaca tidak cuma tahu siapa berkata apa, melainkan juga apa dampaknya bagi sistem yang lebih besar.

Di redaksi berita, kemampuan seperti ini jarang datang sendirian. Wartawan perlu peka terhadap data, sabar mengikuti proses, dan tekun membaca dokumen kebijakan yang sering kali berbelit. Gohain tampaknya membangun reputasinya lewat tiga hal itu. Bukan lewat teriakan. Bukan lewat sensasi.

Mengapa liputannya relevan bagi publik

NEP 2020 bukan sekadar dokumen pendidikan. Di India, kebijakan itu menyentuh arah kurikulum, tata kelola kampus, sertifikasi, hingga kesiapan tenaga kerja muda. Karena itu, jurnalis yang mampu menerjemahkan perubahan teknis ke bahasa yang mudah dipahami punya nilai besar di media. Pembaca butuh penjelasan. Bukan jargon.

Di situlah posisi Gohain terasa menonjol. Ia memadukan laporan berita dan pendekatan reflektif. Hasilnya, pembaca tidak hanya tahu apa yang diputuskan pemerintah, tetapi juga mengerti siapa yang terdampak dan kenapa isu itu patut diikuti. Ini penting, sebab kebijakan pendidikan sering tampak jauh dari keseharian sampai dampaknya muncul di kelas, ujian, biaya kuliah, atau peluang kerja.

Untuk pembaca Indonesia, profil seperti ini memberi pelajaran yang cukup berharga tentang cara jurnalisme kebijakan bekerja. Liputan pendidikan tidak berhenti pada angka anggaran atau daftar aturan. Yang lebih penting justru jejaknya pada ruang kelas, beasiswa, akreditasi, dan kesempatan kerja. Begitu satu kebijakan berubah, rantainya bisa panjang. Sangat panjang.

Model kerja semacam itu makin relevan saat media berlomba menayangkan kabar secepat mungkin. Wartawan seperti Gohain menunjukkan bahwa kecepatan tetap bisa berjalan bersama kedalaman. Satu isu dibedah dari berbagai sisi, lalu disusun rapi agar mudah dibaca publik. Pembaca memang ingin cepat. Tapi mereka juga butuh utuh.

Warisan kerja yang dibangun pelan-pelan

Dalam lanskap jurnalisme India, nama Manash Pratim Gohain menempati posisi yang cukup khas: bukan sekadar peliput politik, bukan pula murni wartawan pendidikan. Ia berdiri di persimpangan keduanya. Dan justru di sana, pengaruh tulisannya terasa. Isu-isu yang ia tangani sering punya efek berlapis, dari ruang sidang kebijakan sampai ruang belajar.

Rekam jejak lebih dari 2.500 artikel memberi sinyal lain: konsistensi. Di dunia redaksi, konsistensi sering lebih sulit dijaga daripada satu tulisan besar yang viral sesaat. Gohain tampaknya memilih jalur itu. Ia membangun kepercayaan melalui kerja panjang, lewat laporan yang berulang, teliti, dan terhubung dengan kebutuhan pembaca.

Bagi pembaca yang mengikuti isu pendidikan dan kebijakan publik, sosok seperti ini penting untuk dikenali. Dari satu nama wartawan, kita bisa membaca arah liputan sebuah media, prioritas isu yang dianggap penting, dan cara berita diterjemahkan menjadi informasi publik. Itu sebabnya profil jurnalis senior bukan sekadar riwayat kerja. Ada peta isi redaksi di sana.

Angka 2.500 artikel terasa mencolok, tapi yang lebih penting adalah jejak yang ditinggalkannya: kebiasaan membaca kebijakan dengan mata publik, bukan mata birokrasi. Dan ke depan, kerja semacam ini kemungkinan masih dibutuhkan, terutama saat pendidikan, keterampilan, dan pasar kerja terus berubah cepat di banyak negara.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda