Sabtu, 4 Juli 2026 WIB
BREAKING
HUKUM KRIMINAL

Manash Pratim Gohain, Jurnalis TOI yang Kawal NEP 2020

Manash Pratim Gohain menulis soal NEP 2020 di ruang redaksi
Manash Pratim Gohain membangun nama lewat liputan NEP 2020, politik, dan kebijakan publik. (Ilustrasi: AI)

Mengapa liputannya relevan bagi publik

NEP 2020 bukan sekadar dokumen pendidikan. Di India, kebijakan itu menyentuh arah kurikulum, tata kelola kampus, sertifikasi, hingga kesiapan tenaga kerja muda. Karena itu, jurnalis yang mampu menerjemahkan perubahan teknis ke bahasa yang mudah dipahami punya nilai besar di media. Pembaca butuh penjelasan. Bukan jargon.

Di situlah posisi Gohain terasa menonjol. Ia memadukan laporan berita dan pendekatan reflektif. Hasilnya, pembaca tidak hanya tahu apa yang diputuskan pemerintah, tetapi juga mengerti siapa yang terdampak dan kenapa isu itu patut diikuti. Ini penting, sebab kebijakan pendidikan sering tampak jauh dari keseharian sampai dampaknya muncul di kelas, ujian, biaya kuliah, atau peluang kerja.

Untuk pembaca Indonesia, profil seperti ini memberi pelajaran yang cukup berharga tentang cara jurnalisme kebijakan bekerja. Liputan pendidikan tidak berhenti pada angka anggaran atau daftar aturan. Yang lebih penting justru jejaknya pada ruang kelas, beasiswa, akreditasi, dan kesempatan kerja. Begitu satu kebijakan berubah, rantainya bisa panjang. Sangat panjang.

Model kerja semacam itu makin relevan saat media berlomba menayangkan kabar secepat mungkin. Wartawan seperti Gohain menunjukkan bahwa kecepatan tetap bisa berjalan bersama kedalaman. Satu isu dibedah dari berbagai sisi, lalu disusun rapi agar mudah dibaca publik. Pembaca memang ingin cepat. Tapi mereka juga butuh utuh.

Warisan kerja yang dibangun pelan-pelan

Dalam lanskap jurnalisme India, nama Manash Pratim Gohain menempati posisi yang cukup khas: bukan sekadar peliput politik, bukan pula murni wartawan pendidikan. Ia berdiri di persimpangan keduanya. Dan justru di sana, pengaruh tulisannya terasa. Isu-isu yang ia tangani sering punya efek berlapis, dari ruang sidang kebijakan sampai ruang belajar.

Rekam jejak lebih dari 2.500 artikel memberi sinyal lain: konsistensi. Di dunia redaksi, konsistensi sering lebih sulit dijaga daripada satu tulisan besar yang viral sesaat. Gohain tampaknya memilih jalur itu. Ia membangun kepercayaan melalui kerja panjang, lewat laporan yang berulang, teliti, dan terhubung dengan kebutuhan pembaca.

Bagi pembaca yang mengikuti isu pendidikan dan kebijakan publik, sosok seperti ini penting untuk dikenali. Dari satu nama wartawan, kita bisa membaca arah liputan sebuah media, prioritas isu yang dianggap penting, dan cara berita diterjemahkan menjadi informasi publik. Itu sebabnya profil jurnalis senior bukan sekadar riwayat kerja. Ada peta isi redaksi di sana.

Angka 2.500 artikel terasa mencolok, tapi yang lebih penting adalah jejak yang ditinggalkannya: kebiasaan membaca kebijakan dengan mata publik, bukan mata birokrasi. Dan ke depan, kerja semacam ini kemungkinan masih dibutuhkan, terutama saat pendidikan, keterampilan, dan pasar kerja terus berubah cepat di banyak negara.

Halaman:12Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda