Selasa, 7 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Deretan Kenaikan Harga Gadget dan Konsol Gegara Krisis RAM

Deretan Kenaikan Harga Gadget dan Konsol Gegara Krisis RAM
Foto: Ali Pli/Unsplash

Data dari lembaga riset IDC menunjukkan pengiriman PC global turun beberapa kuartal berturut-turut sebelum mulai membaik — dan salah satu penahan utama pemulihan adalah harga jual rata-rata yang terus naik. Konsumen menunda pembelian karena harga tidak terasa “worth it”, sementara harga tidak turun karena pasokan komponen masih ketat.

Toko-toko elektronik di ITC Roxy Mas atau mal-mal besar kota lain mulai melaporkan konsumen yang lebih sering bertanya tapi lebih jarang bertransaksi. Bukan karena tidak mampu — tapi karena merasa harga hari ini kemungkinan turun besok. Padahal kalau Ramageddon bertahan, ekspektasi itu belum tentu terpenuhi dalam waktu dekat.

Importir dan distributor lokal juga merasakan tekanan dari dua arah: harga pokok barang naik, sementara daya beli konsumen Indonesia yang masih dalam pemulihan pasca-pandemi belum sepenuhnya pulih. Margin mereka terjepit.

Kapan Harga Bisa Normal Lagi?

Para analis belum sepakat. Skenario optimistis menyebut pertengahan 2026 sebagai titik di mana kapasitas produksi chip baru mulai mengimbangi permintaan — asumsinya pertumbuhan investasi AI sedikit melambat dan ekspansi fab berjalan sesuai jadwal. Dua asumsi besar yang keduanya masih belum pasti.

Skenario pesimistis: permintaan AI terus tumbuh lebih cepat dari kapasitas produksi, dan harga memori tetap tinggi hingga 2027 atau lebih. Dalam skenario ini, harga gadget konsumer tidak akan kembali ke titik pra-Ramageddon — mereka hanya akan stabil di level yang lebih tinggi.

Yang bisa dilakukan konsumen saat ini cukup pragmatis: kalau gadget yang ada masih bisa dipakai, tunda dulu pembelian baru. Kalau memang harus beli, bandingkan harga lintas platform dan pilih produk dengan spesifikasi yang cukup — bukan berlebihan — untuk kebutuhan nyata. Membayar lebih untuk RAM ekstra yang tidak terpakai di tengah krisis pasokan memori adalah ironi yang tidak perlu.

Ramageddon mungkin terdengar seperti skenario fiksi ilmiah. Tapi tagihannya sangat nyata — dan datang lebih cepat dari yang diperkirakan siapa pun.


Ringkasan 3 Poin:

  • Permintaan chip memori dari pusat data AI meledak jauh lebih cepat dari kemampuan pabrikan menambah kapasitas produksi, menciptakan kelangkaan global yang disebut “Ramageddon.”
  • Apple, Microsoft, Sony, dan Nintendo sudah menaikkan harga produk lama tanpa pembaruan fitur — bukan karena inflasi biasa, tapi karena komponen memori jadi rebutan dengan sektor AI.
  • Konsumen Indonesia terdampak ganda: kenaikan harga komponen global bertemu fluktuasi kurs, membuat gadget impor makin mahal di pasaran lokal setidaknya hingga 2026.

FAQ Singkat:

Apa itu Ramageddon? Istilah untuk krisis kelangkaan chip memori global yang dipicu lonjakan permintaan dari sektor AI, yang berdampak pada kenaikan harga gadget konsumer di seluruh dunia.

Apakah harga gadget akan turun lagi? Belum pasti. Ekspansi kapasitas produksi chip baru diperkirakan baru terasa pada 2026-2027, sementara permintaan AI terus tumbuh. Harga mungkin stabil di level lebih tinggi, bukan kembali ke harga lama.

Apa yang bisa dilakukan konsumen sekarang? Tunda pembelian jika gadget lama masih layak pakai, bandingkan harga lintas platform, dan pilih spesifikasi sesuai kebutuhan nyata — bukan membeli RAM ekstra di saat pasokan sedang ketat.

Halaman:123Semua Halaman

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda