Untuk menjembatani, Bapanas mendorong pemerintah daerah menghubungkan wilayah dengan harga tinggi ke asosiasi peternak yang membutuhkan penyerapan. Langkah link and match ini bertujuan mewajarkan harga di tingkat produsen tanpa menaikkan harga konsumen.
Penyerapan Melalui Program Makan Bergizi Gratis
Selain SPHP, pemerintah juga mengandalkan program Gerakan Pangan Murah (GPM) dan Makan Bergizi Gratis (MBG). Meskipun tingkat serapan GPM masih terbatas, pelaksanaan rutin diharapkan memberi efek pengungkit harga di tingkat peternak. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) juga didorong untuk membeli langsung dari peternak unggas saat MBG sepenuhnya aktif kembali pertengahan Juli.
Asep Saepudin dari Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo) mengakui situasi ini sudah mencapai titik kritis. “Ini sudah jadi musibah bagi peternak. Harga Rp15.000 per kg sudah sangat jelek, apalagi sekarang Rp13.000–14.000 di Jawa Barat,” ujarnya pada Sabtu (27/6/2026).
Kenaikan Bahan Baku Tekan Margin Peternak
Merosotnya harga ayam di kandang dipicu lonjakan harga sejumlah bahan pokok produksi. HPP peternak broiler sudah mencapai Rp22.000–23.000 per kilogram, jauh melampaui harga jual saat ini. Jika harga tetap tidak terkoreksi, banyak peternak kecil terancam gulung tikar.
Subsidi jagung pakan dirancang memotong biaya produksi peternak. Namun, dengan realisasi baru mencapai 55,5 ribu ton dari target 213,2 ribu ton, momentum penyerapan masih memerlukan akselerasi. Pemerintah menargetkan program ini berlangsung hingga akhir 2026, seiring harapan kondisi pasar mengalami perbaikan menjelang liburan sekolah dan peningkatan konsumsi telur serta daging ayam di musim mendatang.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.