JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit kini naik di sebagian besar sentra produksi nasional, setelah pemerintah menggelar tiga kali pertemuan intensif dan mengerahkan Satgas Pangan Polri untuk menekan ratusan perusahaan yang membeli TBS di bawah harga pasar.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut sekitar 90 persen perusahaan sawit sudah menyesuaikan harga pembelian TBS dari petani. Angka itu naik signifikan dari posisi sebelumnya, ketika sekitar 270 perusahaan masih tercatat belum bergerak. Kini sisanya tinggal sekitar 130 perusahaan.
Dari 270 Perusahaan, Kini Tersisa 130
Pemulihan harga ini bukan terjadi sendiri. Kementerian Pertanian yang dipimpin langsung Mentan Amran bersama Wakil Menteri Pertanian Sudaryono terus mengawal proses ini dari dekat, dengan dukungan penuh Satgas Pangan Polri. Perusahaan yang belum naik harga diperiksa, bukan sekadar diimbau.
Sebelumnya, anjloknya harga TBS dinilai janggal. Harga CPO dunia sedang naik. Dolar menguat. Tapi harga yang diterima petani justru melorot. Itu yang memicu intervensi pemerintah.
“Harga TBS sudah naik, 80-85 persen, mungkin saat ini 90 persen sudah naik. Tetapi yang belum naik, tetap kita telusuri bersama Satgas,” kata Mentan Amran, dikutip, Rabu (17/6/2026).
Ia menambahkan, pemerintah tidak cukup hanya melihat harga naik sesaat. “Kemarin kan 270, sekarang ini tinggal 100 lebih ya, 130-an perusahaan. Jadi tinggal sedikit. Yang belum menaikkan tetap diperiksa. Nah, sinyalnya sudah naik, tapi kita monitor. Bukan saja naik lalu turun kembali, tidak. Kita monitor seluruh Indonesia,” ujarnya.
15 Juta Petani Sawit Jadi Taruhan
Ini bukan sekadar soal harga komoditas. Sekitar 15 juta petani sawit menggantungkan hidup pada TBS. Ketika harga tertekan tanpa alasan pasar yang jelas, merekalah yang paling pertama merugi.
Pemerintah menegaskan petani harus menjadi pihak pertama yang merasakan manfaat ketika pasar CPO membaik. Bukan pihak yang paling terakhir tahu.
Sejumlah daerah sentra sawit kini melaporkan harga TBS bergerak mendekati, bahkan sesuai, harga acuan yang ditetapkan pemerintah daerah masing-masing. Kondisi ini memberi napas lega bagi petani setelah tekanan harga yang cukup tajam beberapa waktu terakhir.
Mentan Amran menegaskan pengawasan tidak akan berhenti meski tren sudah membaik. Keberpihakan terhadap petani, kata dia, merupakan arahan langsung Presiden. Kementerian Pertanian dan Satgas Pangan akan terus mengawal tata niaga sawit agar berjalan lebih sehat, transparan, dan berkeadilan.
“Kita ingin ekosistem sawit yang sehat. Petani sejahtera, pengusaha juga sejahtera. Yang terpenting, petani tidak boleh dirugikan. Karena itu pengawasan akan terus dilakukan sampai harga benar-benar stabil dan dirasakan manfaatnya oleh seluruh petani sawit Indonesia,” tegas Amran.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.