Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI BISNIS

Harga Ayam-Telur Anjlok di Peternak, Bapanas Guyur Subsidi Jagung Pakan

Ilustrasi harga ayam dan telur anjlok di tingkat peternak akibat harga pakan jagung meroket
Bapanas gelontorkan Rp678 miliar subsidi jagung pakan untuk 5.543 peternak ayam di 26 provinsi. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Pemerintah menerjunkan intervensi besar-besaran untuk menyelamatkan peternak ayam dan telur yang terjebak krisis harga. Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman mengumumkan program subsidi jagung pakan senilai Rp678 miliar melalui Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk menjaga kelestarian industri unggas.

Harga ayam hidup di kandang peternak telah merosot drastis hingga Rp13.000–14.000 per kilogram, jauh di bawah harga pokok produksi (HPP) yang mencapai Rp22.000–23.000 per kg. Kondisi ini mendorong pemerintah menggelontorkan subsidi jagung pakan melalui Perum Bulog dengan target awal 213,2 ribu ton dari alokasi 242 ribu ton sepanjang 2026.

Subsidi Bergulir Sejak Mei, Target 5.543 Peternak

Program SPHP jagung pakan sudah aktif sejak 9 Mei lalu. Hingga 29 Juni, realisasi penyalurannya mencapai 55,5 ribu ton ke 5.543 peternak mikro, kecil, dan menengah di 26 provinsi dengan total populasi unggas 53 juta ekor. Amran menekankan pemerintah membeli jagung dari petani lokal dengan harga jaminan Rp5.500 per kilogram, lalu menyimpannya sebagai Cadangan Jagung Pemerintah (CJP) untuk digunakan saat peternak membutuhkan.

“Kami beli dari awal untuk peternak. Jadi kami kumpulkan jagung supaya petani jagung berproduksi dengan baik. Kita beri harga yang baik yaitu Rp5.500 per kilo,” papar Amran pada Selasa (30/6/2026).

Harga jagung pakan yang ditetapkan Bapanas berkisar Rp5.000 per kg untuk pengambilan di gudang Bulog dan maksimal Rp5.500 per kg di tingkat peternak. Penyaluran dilakukan melalui koperasi atau asosiasi peternak yang terdaftar dalam Surat Keputusan Menteri Pertanian.

Celah Harga Konsumen vs Peternak Tetap Lebar

Meskipun subsidi mengalir, ketimpangan harga tetap terasa. Direktur SPHP Bapanas Maino Dwi Hartono mengungkapkan harga telur di tingkat konsumen masih Rp30.000 per kilogram sesuai Harga Acuan Penjualan (HAP), namun di kandang peternak rata-rata nasional hanya Rp21.000. Di sentra produksi seperti Jawa Timur—Blitar dan Magetan—harga bahkan turun menjadi Rp17.000 per kilogram.

“Teman-teman peternak kita sangat kesulitan karena ada perbedaan jauh antara harga di tingkat konsumen dan di kandang,” kata Maino.

Halaman:12Semua Halaman

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda