JAKARTA — Tahun ini seharusnya menjadi tahun kebangkitan China di pasar modal global. Nyatanya, bursa China mencatat kinerja terburuk sejak 2001 — dan para investor mulai kehilangan kesabaran.
Indeks Hang Seng Hong Kong, yang didominasi perusahaan-perusahaan China, pekan lalu menyentuh level terendahnya terhadap Indeks Dunia MSCI All-Country sejak 1990. Itu adalah era ketika ukuran ekonomi China baru sekitar 2% dari besarannya hari ini — tiga tahun sebelum perusahaan China daratan pertama kali menjual saham di Hong Kong.
Angka itu bukan sekadar statistik. Ini sinyal nyata bahwa kepercayaan investor global terhadap pasar China sedang di titik yang sangat rapuh.
Dari Euforia DeepSeek ke Kekecewaan
Tahun lalu terasa berbeda. Kemunculan DeepSeek membuat pasar terpesona — model AI China itu seolah membuktikan bahwa Silicon Valley bukan satu-satunya pemain. Investor asing berbondong-bondong kembali ke ekuitas China. Label “uninvestable” yang sempat menempel mulai rontok.
Tapi euforia itu tak bertahan lama.
“Saya sangat positif terhadap China tahun lalu setelah menghadiri konferensi AI di Hangzhou,” kata Chauwei Yak, CEO GAO Capital Pte di Singapura. “Yang lebih menyedihkan, satu-satunya negara yang kinerjanya lebih buruk dari China hanyalah Indonesia. China adalah negara yang sangat tinggi teknologinya, namun satu-satunya negara yang bisa mereka kalahkan hanyalah negara dengan jauh lebih banyak masalah.”
Pernyataan Yak terasa pedas — sekaligus menggambarkan betapa dalamnya kekecewaan investor yang tahun lalu masih optimis.
Gerald Gan, Chief Investment Officer di Reed Capital, menyebut saham China sebagai “beban utama” portofolionya sepanjang tahun ini. “Kami memegang Tencent dan Alibaba, tetapi kinerja mereka sangat buruk. Divergensi performa di antara negara-negara ekonomi utama saat ini terlampau lebar dan benar-benar mengecewakan,” ujarnya.
Tiga Masalah Sekaligus
Kemerosotan ini bukan dari satu titik. Ada tiga tekanan besar yang datang bersamaan.
Pertama, konsumsi domestik China terus melemah. Bulan lalu, penjualan ritel turun untuk pertama kalinya sejak pandemi. Harga rumah makin cepat jatuh. Investasi aset tetap menyusut. Perusahaan internet dan produsen otomotif langsung merasakan imbasnya lewat laba yang tergerus.
Kedua, tren AI global justru tidak menguntungkan posisi China. Investor saat ini lebih memilih saham produsen chip ketimbang perusahaan cloud besar. China kekurangan produsen perangkat keras terkemuka di dalam negeri — sehingga ketika dana global mengalir deras ke sektor semikonduktor, China tidak banyak kebagian.
Ketiga, risiko regulasi kembali membayangi. Tindakan tegas Beijing terhadap aliran modal lintas batas memicu pengawasan lebih ketat pada investasi di Hong Kong. Kekhawatiran lama soal intervensi pemerintah kembali hidup.
Larry Hu, kepala ekonomi China di Macquarie Group di Hong Kong, memperkirakan pertumbuhan PDB kuartal kedua akan merosot ke kisaran 4,4% — di bawah target resmi setahun penuh. “Jika perdagangan AI global terus melonjak dan mengerek ekspor, pemerintah tidak akan menggelontorkan stimulus besar untuk mendongkrak konsumsi domestik, sehingga permintaan dalam negeri akan tetap lemah,” katanya.
Raksasa Teknologi Bakar Modal, Tapi Hasilnya Belum Terlihat
Ironinya, justru saat pasar anjlok, raksasa teknologi China sedang membakar modal dalam jumlah raksasa untuk AI.
Tencent berencana melipatgandakan belanja modal 2026 menjadi lebih dari 36 miliar yuan — sekitar Rp94 triliun. Alibaba berkomitmen menginvestasikan 380 miliar yuan selama beberapa tahun ke depan. Angka-angka itu luar biasa besar.
Tapi pasar belum percaya hasilnya akan datang cepat.
Tencent bulan lalu melaporkan pertumbuhan pendapatan paling lambat dalam enam kuartal terakhir. Bisnis inti mereka — gim dan periklanan — mulai kehilangan momentum, sementara model monetisasi AI-nya belum jelas. Alibaba bahkan mencatat kerugian operasional kuartalan pertama sejak 2021.
Masalah tidak berhenti di situ. Anthropic pekan lalu menuduh Alibaba melakukan upaya skala besar untuk mengakses model AI “Claude” miliknya secara ilegal. Departemen Pertahanan AS juga menuduh Alibaba, Baidu, dan BYD mendukung militer China. Tekanan geopolitik ini menambah daftar panjang risiko yang harus ditanggung investor.
Dua China di Bursa: Onshore Lebih Tangguh
Menarik bahwa pasar domestik China — Shenzhen dan Shanghai — relatif lebih tahan banting. Indeks CSI 300 naik sekitar 6% tahun ini, ditopang reli saham-saham produsen perangkat keras teknologi.
Kevin Net, Head of Asian Equities di Financière de l’Echiquier (Paris), memilih jalur ini sejak awal tahun. “Sebagian besar tema yang kami sukai tercatat di Shanghai dan/atau Shenzhen — AI, industri, dan logam,” katanya. “Apa yang Anda temukan di bursa offshore adalah sektor konsumsi, internet, teknologi non-AI — yaitu sektor yang cenderung kami hindari.”
Di luar sektor teknologi domestik, kondisinya suram. Delapan dari 10 sektor industri CSI 300 mencatat penurunan. Saham konsumsi ambles lebih dari 20%.
| Aset / Indeks | Kinerja 2024 (ytd) |
|---|---|
| CSI 300 (pasar domestik China) | +6% (ditopang hardware AI) |
| Hang Seng (Hong Kong) | Level terendah vs MSCI sejak 1990 |
| Saham konsumsi CSI 300 | -20% lebih |
| Bitcoin | -50% dari puncak 2023 |
| Emas | -25% dari puncak Januari |
| Magnificent Seven (AS) | -6% |
Kapan Kepercayaan Itu Bisa Kembali?
Pertanyaan itu belum terjawab. Selama konsumsi domestik China tidak pulih dan pemerintah Beijing menahan diri dari stimulus besar, tekanan pada saham-saham offshore kemungkinan bertahan.
Kemerosotan ini juga mengancam tren IPO yang sedang bergairah di Hong Kong. Jika investor asing terus menjauh dari pasar offshore China, pipeline IPO bisa ikut terdampak.
Yang menjadi ujian sesungguhnya: apakah investasi AI besar-besaran Tencent dan Alibaba bisa mulai menghasilkan pendapatan nyata sebelum kesabaran investor benar-benar habis. Jika raksasa teknologi China gagal membuktikan monetisasi AI dalam beberapa kuartal ke depan, label “uninvestable” yang sempat rontok tahun lalu bisa kembali menempel — kali ini lebih sulit dilepas.
Tiga poin utama:
1. Hang Seng menyentuh level terendah terhadap indeks dunia MSCI sejak 1990 — kinerja bursa China terburuk sejak 2001.
2. Tiga tekanan sekaligus: konsumsi domestik lesu, China kurang diuntungkan dari tren chip AI global, dan risiko regulasi kembali membayangi.
3. Tencent dan Alibaba membakar modal besar untuk AI, tapi pendapatan belum terbukti — dan tekanan geopolitik dari AS makin berat.
FAQ Singkat
Mengapa Hang Seng bisa jatuh lebih dalam dari pasar domestik China? Hang Seng didominasi perusahaan konsumsi, internet, dan teknologi non-chip — sektor yang paling terpukul tahun ini. Pasar domestik (CSI 300) lebih banyak berisi saham hardware dan industri yang justru sedang naik daun.
Apakah ini artinya saham China tidak menarik sama sekali? Tidak semua. Investor seperti Kevin Net masih menemukan peluang di pasar onshore Shanghai dan Shenzhen, terutama di sektor AI hardware, industri, dan logam.
Kapan kondisi bisa membaik? Kunci utamanya ada di dua hal: stimulus konsumsi dari Beijing, dan kemampuan Tencent serta Alibaba membuktikan bahwa investasi AI mereka menghasilkan pendapatan nyata dalam waktu dekat.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.