Selasa, 30 Juni 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Presiden Iran Tegaskan Aset Rp 107 T di Qatar Harus Dicairkan

Presiden Iran Tegaskan Aset Rp 107 T di Qatar Harus Dicairkan
Aset di Qatar senilai Rp 107 triliun disebut Iran harus dicairkan. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan aset di Qatar senilai US$ 6 miliar atau sekitar Rp 107,4 triliun harus dicairkan dan dikembalikan ke Teheran sesuai kesepakatan dengan Amerika Serikat. Pernyataan itu ia sampaikan di saat negosiasi lanjutan Iran-AS masih rapuh dan dibayangi eskalasi baru di kawasan Teluk.

Bagi Iran, pencairan dana itu bukan sekadar soal uang. Ini menyangkut legitimasi politik di dalam negeri, daya tawar Teheran di meja perundingan, dan arah hubungan dengan Washington setelah rangkaian serangan saling balas di sekitar Selat Hormuz.

Aset di Qatar jadi ujian kesepakatan Iran-AS

Pezeshkian, dikutip IRNA dan dilansir Al Arabiya serta Middle East Monitor pada Selasa, 30 Juni 2026, menyebut sekitar separuh dari total US$ 12 miliar dana Iran yang tersimpan di Qatar seharusnya sudah masuk tahap pencairan. Ia mengatakan, dana itu akan dipindahkan ke negaranya, sementara proses untuk sisa dana masih berjalan.

“Berdasarkan rencana yang telah ditetapkan, aset Iran sebesar US$ 6 miliar, dari total US$ 12 miliar, yang ada di Qatar seharusnya dicairkan dan dikembalikan ke negara ini,” kata Pezeshkian dalam pernyataan resminya.

Pejabat Iran itu juga menyebut nota kesepahaman dengan AS sebagai “kemenangan besar bagi rakyat Iran”. Dia menambahkan, sanksi terkait minyak dan petrokimia sudah dicabut sesuai kesepakatan tersebut. Tapi di Washington, cerita yang beredar justru berbeda.

Sejauh ini, pejabat AS menyatakan belum ada aset Iran yang dicairkan. Artinya, ada jarak antara klaim Teheran dan posisi Washington. Jarak itu penting, karena akan menentukan apakah kesepakatan benar-benar jalan atau hanya berhenti di atas kertas.

Qatar kembali berada di tengah

Qatar kembali memegang peran sentral sebagai mediator. Negara Teluk itu menjadi saluran komunikasi utama dalam pembicaraan Iran dan AS, terutama saat ketegangan militer mengganggu jalur diplomasi. Dalam konflik semacam ini, mediator bukan cuma penonton. Mereka ikut menentukan seberapa cepat krisis bisa ditekan.

Sumber-sumber yang dikutip media internasional menyebut pihak mediator telah membangun kanal komunikasi untuk meredakan ketegangan setelah insiden akhir pekan lalu. Pembicaraan teknis antara Iran dan AS juga disebut masih akan berlanjut.

Di titik ini, posisi Qatar menarik. Di satu sisi, negara itu menjadi tempat penyimpanan dana yang disengketakan. Di sisi lain, Doha menjadi ruang aman untuk negosiasi yang tidak mudah dilakukan langsung oleh Teheran dan Washington.

Serangan, gencatan senjata, dan sengketa Selat Hormuz

Pernyataan Pezeshkian muncul setelah situasi di lapangan memanas. Iran melancarkan serangan rudal dan drone yang menargetkan Bahrain dan Kuwait, dua negara yang menampung aset militer AS, pada Minggu, 28 Juli 2026 waktu setempat. Tehran menyebut serangan itu sebagai balasan atas gempuran terbaru Washington ke sejumlah target di Iran selatan.

AS membalas dengan tuduhan bahwa Iran melanggar gencatan senjata dan menyerang kapal kargo di Selat Hormuz. Washington juga menyebut pasukannya bergerak merespons “agresi yang tidak beralasan” terhadap pelayaran komersial. Selat ini bukan jalur biasa. Sebagian besar pasokan energi dunia lewat sana.

Dua pekan lalu, Iran dan AS meneken nota kesepahaman untuk mengakhiri perang. Dokumen itu memuat penghentian permusuhan di berbagai front, termasuk Lebanon, pencabutan blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran, dan pembukaan kembali Selat Hormuz bagi pasokan energi global. Di atas kertas, terdengar rapi. Di lapangan, situasinya masih liar.

Karena itu, isu aset di Qatar ikut berubah menjadi tolok ukur kepercayaan. Jika pencairan benar terjadi, Teheran bisa mengklaim ada hasil nyata dari negosiasi. Jika tidak, posisi Iran di dalam negeri bisa ditekan, sementara proses damai makin mudah runtuh.

Untuk saat ini, angka yang jadi pegangan tetap sama: US$ 6 miliar dari total US$ 12 miliar. Dana itu yang disebut Pezeshkian harus segera dicairkan dan dipulangkan.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda