Di titik ini, posisi Qatar menarik. Di satu sisi, negara itu menjadi tempat penyimpanan dana yang disengketakan. Di sisi lain, Doha menjadi ruang aman untuk negosiasi yang tidak mudah dilakukan langsung oleh Teheran dan Washington.
Serangan, gencatan senjata, dan sengketa Selat Hormuz
Pernyataan Pezeshkian muncul setelah situasi di lapangan memanas. Iran melancarkan serangan rudal dan drone yang menargetkan Bahrain dan Kuwait, dua negara yang menampung aset militer AS, pada Minggu, 28 Juli 2026 waktu setempat. Tehran menyebut serangan itu sebagai balasan atas gempuran terbaru Washington ke sejumlah target di Iran selatan.
AS membalas dengan tuduhan bahwa Iran melanggar gencatan senjata dan menyerang kapal kargo di Selat Hormuz. Washington juga menyebut pasukannya bergerak merespons “agresi yang tidak beralasan” terhadap pelayaran komersial. Selat ini bukan jalur biasa. Sebagian besar pasokan energi dunia lewat sana.
Dua pekan lalu, Iran dan AS meneken nota kesepahaman untuk mengakhiri perang. Dokumen itu memuat penghentian permusuhan di berbagai front, termasuk Lebanon, pencabutan blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran, dan pembukaan kembali Selat Hormuz bagi pasokan energi global. Di atas kertas, terdengar rapi. Di lapangan, situasinya masih liar.
Karena itu, isu aset di Qatar ikut berubah menjadi tolok ukur kepercayaan. Jika pencairan benar terjadi, Teheran bisa mengklaim ada hasil nyata dari negosiasi. Jika tidak, posisi Iran di dalam negeri bisa ditekan, sementara proses damai makin mudah runtuh.
Untuk saat ini, angka yang jadi pegangan tetap sama: US$ 6 miliar dari total US$ 12 miliar. Dana itu yang disebut Pezeshkian harus segera dicairkan dan dipulangkan.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.