Selasa, 30 Juni 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Presiden RI Tiba-Tiba Panggil Menteri Ekonomi ke Istana Jam 4 Pagi

Presiden RI Tiba-Tiba Panggil Menteri Ekonomi ke Istana Jam 4 Pagi
Foto: dok. setkab.go.id

JAKARTA — Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah mengejutkan menterinya dengan memanggil mereka ke Istana pada pukul 04.30 pagi. Kebiasaan ini bukan semata-mata kurang ajar, melainkan cerminan dari ritme kerja yang sangat unik: presiden tidur siang hari dan produktif di dini hari.

Rizal Ramli, yang pernah menjabat Kepala Bulog, Menteri Koordinator Perekonomian, dan Menteri Keuangan di era Gus Dur, mengalami langsung ketidaknyamanan penyesuaian ini. Sebagai tipe orang malam yang biasa tidur jam 2 pagi, Rizal awalnya merasa sangat mengantuk saat dipanggil ke Istana pada dini hari. “Terus terang kadang-kadang saya masih sangat ngantuk karena saya tipe orang malam,” ungkapnya kepada Tjipta Lesmana, penulis buku Dari Soekarno sampai SBY: Intrik dan Lobi Politik Para Penguasa (2012).

Ritme kerja presiden yang tidak konvensional ini bukan hanya anekdot menarik dari era kepemimpinannya (1999-2001), tetapi juga cerminan strategi produktivitas yang disengaja. Gus Dur secara sadar memanfaatkan pola biologis tubuhnya untuk memaksimalkan efisiensi pemerintahan, meskipun harus mengorbankan kenyamanan orang-orang di sekitarnya.

Pagi Hari adalah Waktu Terbaik Gus Dur

Ada logika tersembunyi di balik kebiasaan yang tampak ekstrem itu. Gus Dur justru menemukan pagi hari—khususnya antara pukul 4 hingga 10 pagi—sebagai jendela waktu paling produktif untuk berpikir jernih dan mengambil keputusan. Itulah mengapa pertemuan dengan para menteri di Istana kerap diadakan pada pagi-pagi buta. Pada jam-jam tersebut, presiden berada dalam kondisi prima: waspada, responsif, dan mampu memberikan arahan dengan cepat tanpa lama melamun.

Kondisi ini sangat berbeda dengan mayoritas pemimpin negara yang bekerja mengikuti pola konvensional. Saat orang lain baru terbangun dan menyiapkan kopi, Gus Dur sudah dalam kondisi peak performance—pikiran segar, keputusan cepat, tidak ada jeda yang terbuang sia-sia.

Sebaliknya, setelah pukul 10 pagi, energi Gus Dur mulai merosot tajam. Rasa kantuk mengganggu konsentrasinya, membuat beliau lebih rentan tertidur dalam acara resmi. Stamina hanya kembali membaik pada sore hari, terus meningkat menjelang malam, sehingga Gus Dur bisa bekerja produktif hingga menjelang tengah malam. Pola ini konsisten dan bukan kelalaian sesaat, tetapi karakteristik biologis yang permanen.

Mengapa Sering Tertidur di Rapat Siang?

Pola kerja ini menjelaskan fenomena yang sering diamati publik dan pers nasional: Presiden Gus Dur sesekali terlihat tertidur atau mata terpejam saat menghadiri rapat atau acara resmi di siang hari, terutama ketika pembahasan masuk ke detail teknis yang memakan waktu.

Pengamat politik Tjipta Lesmana, yang mendokumentasikan kebiasaan ini dalam karyanya, mencatat pengamatan spesifik: “Gus Dur terutama akan cepat tidur ketika rapat menyinggung hal-hal teknis, apalagi yang disertai angka-angka.” Momen-momen tersebut sering tertangkap media, menciptakan citra bahwa presiden kurang peduli atau tidak fokus dalam pemerintahan.

Kondisi ini bukan kelalaian atau ketidakpedulian, melainkan biologis murni. Tubuh Gus Dur bekerja sesuai ritme internal yang berbeda dari kebanyakan orang—fenomena yang dalam istilah ilmiah disebut sebagai perbedaan chronotype. Tidak semua orang dirancang untuk produktif di pagi hari; sebagian manusia adalah “night owl” sejati yang energinya baru maksimal saat malam tiba.

Para Menteri Akhirnya Paham Ritmenya

Seiring waktu, para menteri di Kabinet Persatuan Nasional beradaptasi dengan realitas ini. Mereka memahami bahwa panggilan dini hari ke Istana bukanlah bentuk hukuman atau eksekusi; itu adalah waktu optimal ketika presiden benar-benar siap mendengarkan, memberi pengarahan, dan mengambil keputusan strategis. Beberapa di antara mereka bahkan mulai menyesuaikan jadwal mereka sendiri agar tetap terjaga saat dipanggil pada pukul 4 atau 5 pagi.

Mereka juga tak lagi terkejut ketika Gus Dur, tengah memimpin rapat kabinet yang dijadwalkan siang hari, tiba-tiba menyerahkan pimpinan kepada Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri saat kantuk mulai menyerangnya. Prosedur ini menjadi semacam protokol tidak tertulis.

Tjipta Lesmana menggambarkan ritual yang berulang dalam sidang-sidang kabinet: “Setelah membukanya, Gus Dur sering melontarkan guyon-guyon, memberikan semacam pengantar, kadang disertai marah-marah. Setelah itu ia menyerahkan pimpinan sidang kepada Megawati dan tertidur.” Megawati, meski pernah berstatus sebagai wakil presiden, dengan sabar melanjutkan pimpinan rapat sambil Gus Dur beristirahat.

Dampak Praktis dan Keunikan Kepemimpinan

Fenomena ini menghadirkan dampak nyata pada mekanisme pemerintahan. Di satu sisi, para menteri yang punya akses ke Gus Dur di pagi hari berada pada posisi istimewa—mereka bisa mendapat keputusan langsung tanpa penundaan berbelit-belit. Di sisi lain, agenda pemerintahan harus disesuaikan dengan zona waktu presiden, menciptakan logistik kerja yang tidak biasa.

Keunikan ini menjadi pelajaran penting tentang bagaimana seorang pemimpin memiliki produktivitas maksimal di waktu yang berbeda dari mayoritas orang. Alih-alih melawan ritme internal, Gus Dur justru memanfaatkannya untuk efisiensi pemerintahan—meski harus diakui, cara tersebut cukup mengganggu bagi menteri-menteri yang tidur dengan pola normal dan tiba-tiba diminta hadir di istana sebelum fajar menyingsing.

Pola kerja Gus Dur menunjukkan bahwa tidak ada satu template universal untuk produktivitas pimpinan. Beberapa orang memang hardwired untuk bekerja optimal di pagi-pagi buta, sementara mayoritas lainnya mencapai puncak performa di sore atau malam hari. Strategi Gus Dur—meskipun kontroversial—adalah bentuk self-awareness yang jarang dimiliki pemimpin: mengenali diri sendiri dan mengoptimalkan sistem kerja berdasarkan kenyataan biologis, bukan ekspektasi sosial.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda