Selasa, 30 Juni 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Memasuki Puncak Kemarau Juni 2026, BMKG Wanti-Wanti Daerah Ini Siaga Kekeringan

pexels-rudi-dito-2153393256-34282909
Ilustrasi musim kemarau. Foto: pexels

JAKARTA, JOURNALARTA.COM — Puncak kemarau mulai terasa di banyak wilayah Indonesia pada penghujung Juni 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan adanya risiko kekeringan meteorologis, krisis air bersih, sampai gangguan pada sektor pertanian di sejumlah daerah yang kini masuk fase kemarau paling kering.

Dampaknya langsung ke warga. Air tanah bisa turun, suplai air bersih menipis, dan lahan pertanian yang tak mendapat pasokan irigasi memadai berisiko gagal panen. BMKG juga mengingatkan ancaman kesehatan ikut naik, terutama bagi anak-anak, lansia, dan warga yang tinggal di wilayah padat atau minim akses air.

Puncak kemarau dan wilayah paling rentan

Dalam analisis terbarunya, BMKG menyebut pengaruh massa udara kering dari Australia masih dominan. Pola ini membuat hujan sulit terbentuk di banyak daerah, sementara kelembapan udara menurun. Kondisi itu memperkuat tanda-tanda kekeringan meteorologis yang mulai muncul di beberapa provinsi.

Sejumlah wilayah masuk kategori waspada hingga siaga. Pulau Jawa menjadi perhatian, terutama Jawa Timur bagian utara, Jawa Tengah bagian selatan, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Di wilayah timur, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur tercatat sebagai daerah dengan risiko tertinggi karena minim curah hujan dalam 30 hari terakhir.

BMKG juga melihat penurunan kelembapan yang cukup nyata di sebagian Sulawesi Selatan dan Bali bagian utara. Daerah-daerah ini belum tentu langsung mengalami krisis air besar, tetapi tanda awalnya sudah terlihat. Jika hujan tetap absen, tekanan terhadap kebutuhan air harian warga akan makin berat.

Kenapa peringatan ini penting

Indonesia sering menghadapi kemarau, tapi puncaknya tidak selalu sama tiap tahun. Saat puncak kemarau datang lebih kering dari biasanya, efek berantai bisa muncul cepat. Petani kehilangan jadwal tanam yang ideal, peternak kesulitan pakan hijauan, dan pemerintah daerah harus bergerak lebih cepat menyalurkan air bersih.

Kementerian Pertanian meminta petani memakai varietas benih tahan kering, menghemat pemakaian air, dan memanfaatkan sistem irigasi tetes atau drip irrigation agar air tidak banyak terbuang. Pemerintah juga menyiapkan pompa air dan sumur bor di titik-titik kritis, terutama di sentra produksi pangan yang bergantung pada hujan.

Langkah itu penting karena musim kering yang panjang sering memukul produksi pangan dari dua arah sekaligus: hasil panen turun, sementara biaya produksi naik. Petani yang biasanya mengandalkan air permukaan dari sungai kecil, embung, atau tadah hujan paling rentan merasakan tekanannya lebih dulu.

Risiko kesehatan ikut naik

Musim kering bukan cuma soal lahan retak dan sawah menguning. Kualitas udara dapat ikut memburuk karena debu dan potensi asap, sedangkan kualitas air bersih bisa menurun saat pasokan menyusut. Di titik ini, dinas kesehatan daerah diminta lebih siaga.

BMKG menyebut pemantauan perlu difokuskan pada kenaikan kasus ISPA, penyakit kulit, diare, hingga dehidrasi dan heat stroke. Kelompok rentan seperti bayi, anak kecil, ibu hamil, dan warga lanjut usia harus mendapat perhatian lebih karena tubuh mereka lebih cepat kehilangan cairan.

Warga pun diminta tidak menunggu air benar-benar habis baru menghemat. Penggunaan air bekas cucian beras atau sayur, pengecekan kebocoran pipa, dan penyiraman tanaman pada pagi atau sore hari bisa membantu menekan pemakaian. Kebiasaan kecil seperti ini terasa sepele, tapi efeknya nyata saat pasokan air menipis.

Langkah daerah dan pantauan ke depan

Pemerintah daerah diminta mengaktifkan rencana kontinjensi secepatnya. Pengiriman tangki air bersih, pengelolaan embung, hingga pengaturan tata air bendungan perlu disiapkan tanpa menunggu situasi memburuk. BMKG memperkirakan fase puncak ini berlangsung sampai pertengahan Agustus 2026.

Artinya, beberapa pekan ke depan masih akan menjadi masa krusial. Daerah yang sudah masuk kategori rawan perlu memperkuat koordinasi dengan dinas pertanian, kesehatan, dan pekerjaan umum. Kalau terlambat bergerak, dampaknya bisa menjalar ke kebutuhan rumah tangga, produksi pangan, sampai pelayanan publik.

BMKG juga meminta masyarakat memantau informasi resmi cuaca harian agar bisa menyesuaikan aktivitas di lapangan. Di musim seperti ini, satu hari terlambat merespons bisa berarti banyak. “Pantau terus kanal resmi BMKG untuk pembaruan kondisi cuaca di wilayah masing-masing,” demikian imbauan lembaga tersebut.

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda