Selasa, 30 Juni 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Samsung & MGH Teliti Galaxy Watch untuk Cegah Otot Susut saat Diet GLP-1

Galaxy Watch8 dipakai saat olahraga untuk pantau komposisi otot tubuh
Samsung dan MGH meneliti apakah Galaxy Watch8 bisa pantau kehilangan massa otot pada pasien terapi GLP-1. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Satu dari lima orang dewasa di Amerika Serikat kini mengonsumsi obat GLP-1 untuk menurunkan berat badan. Tapi ada efek samping yang jarang dibicarakan: otot ikut menyusut — dan itu bisa berbahaya.

Samsung Electronics dan Massachusetts General Hospital (MGH) Diabetes Research Center kini berkolaborasi dalam sebuah studi klinis untuk menjawab pertanyaan penting: bisakah smartwatch membantu pasien mempertahankan massa ototnya selama terapi GLP-1?

Studi yang diumumkan bersama ini akan mengevaluasi Galaxy Watch8 sebagai alat pemantau komposisi tubuh dan aktivitas fisik bagi pasien yang baru memulai terapi GLP-1RA — singkatan dari Glucagon-Like Peptide-1 Receptor Agonist, sejenis hormon sintetis yang menekan nafsu makan dan mengatur gula darah.

Kenapa Kehilangan Otot Jadi Masalah Serius

Obat GLP-1 seperti semaglutide yang dijual dengan merek Ozempic dan Wegovy tengah booming. Efektivitasnya dalam menurunkan berat badan sudah terbukti secara klinis. Tapi ada yang sering luput dari perhatian publik: bersama lemak, massa otot ikut berkurang.

Kehilangan otot bukan sekadar soal penampilan. Menurut Dr. Melissa Putman, Direktur MGH Diabetes Research Center yang memimpin studi ini, penyusutan otot meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan menurunkan laju metabolisme basal — alias tubuh jadi lebih lambat membakar kalori. Efek domino ini membuat berat badan lebih mudah naik lagi setelah berhenti minum obat.

Data dari beberapa uji klinis semaglutide menunjukkan bahwa sekitar 25–40 persen dari total berat yang hilang selama terapi GLP-1 berasal dari massa otot, bukan lemak. Artinya, jika seseorang turun 10 kilogram, bisa jadi 3–4 kilogram di antaranya adalah otot yang seharusnya dipertahankan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dikenal sebagai sarcopenic obesity — kombinasi massa lemak tinggi dan massa otot rendah — yang justru memperburuk kondisi metabolik pasien.

Dokter dan peneliti sudah lama tahu soal ini. Masalahnya, cara memantau komposisi tubuh selama ini mahal dan tidak praktis. Pemindaian DEXA (Dual-Energy X-ray Absorptiometry) adalah standar emas, tapi tidak bisa dilakukan setiap hari di rumah.

Galaxy Watch8 Masuk sebagai Solusi Pemantauan Harian

Di sinilah Galaxy Watch8 coba mengisi celah itu.

Smartwatch Samsung ini dilengkapi sensor BIA (Bioelectrical Impedance Analysis) yang mampu mengukur komposisi tubuh — termasuk persentase lemak dan estimasi massa otot — langsung dari pergelangan tangan. Teknologi yang sama sudah ada di timbangan pintar, tapi kini bisa dipakai setiap saat, di mana saja.

Dalam studi klinis bersama MGH ini, peserta yang baru memulai terapi GLP-1RA akan dipantau secara rutin menggunakan Galaxy Watch8. Data yang dikumpulkan mencakup komposisi tubuh, detak jantung, tingkat aktivitas fisik, dan pola tidur. Semua data ini kemudian dianalisis untuk melihat apakah intervensi berbasis teknologi wearable bisa mendorong pasien lebih aktif bergerak — dan dengan demikian memperlambat kehilangan otot.

“Kami ingin memahami bagaimana teknologi yang dapat dikenakan dapat mendukung pasien dalam menjaga komposisi tubuh yang sehat selama terapi penurun berat badan,” ujar Dr. Putman dalam pernyataan resmi yang dirilis bersama Samsung.

Studi ini bukan sekadar uji coba gadget. Ini adalah percobaan klinis terstruktur yang melibatkan institusi medis terkemuka, dengan protokol penelitian yang ketat. Hasilnya kelak bisa mengubah cara dokter meresepkan dan memantau terapi GLP-1 — bukan lagi hanya dengan angka di timbangan, tapi dengan data komposisi tubuh yang lebih kaya.

Mengapa Ini Penting bagi Pengguna Smartwatch Biasa

Kemitraan Samsung dan MGH ini punya implikasi yang lebih luas dari sekadar satu studi.

Selama ini, fitur kesehatan di smartwatch sering dianggap sebagai gimmick — data yang menarik tapi tidak benar-benar dipakai dokter. Kalau studi ini berhasil membuktikan validitas sensor BIA Galaxy Watch8 dalam memantau massa otot secara klinis, itu akan menjadi preseden penting: data dari pergelangan tangan Anda bisa benar-benar masuk ke rekam medis dan mempengaruhi keputusan terapeutik.

Pasar GLP-1 sendiri sedang meledak. Goldman Sachs Research memproyeksikan pasar obat obesitas global akan mencapai 130 miliar dolar AS pada 2030, dengan GLP-1 sebagai kategori dominan. Jutaan pasien baru akan mulai terapi ini dalam beberapa tahun ke depan. Kalau smartwatch terbukti bisa membantu mereka mempertahankan otot, permintaan terhadap perangkat semacam ini akan naik drastis — dan itu juga berita besar bagi industri elektronik konsumen.

Dari sisi pengguna biasa, temuan studi ini juga bisa mendorong pembaruan fitur di aplikasi Samsung Health. Bayangkan notifikasi yang bukan cuma mengingatkan Anda untuk berdiri, tapi memberi tahu bahwa massa otot Anda turun signifikan bulan ini dan merekomendasikan jenis latihan spesifik untuk mengatasinya.

Batasan yang Perlu Diingat

Studi ini masih berjalan. Belum ada hasil yang dipublikasikan, dan validasi klinis sensor BIA di smartwatch memang masih jadi perdebatan di kalangan peneliti.

BIA bekerja dengan mengalirkan arus listrik lemah melalui tubuh dan mengukur resistansinya. Akurasinya dipengaruhi banyak faktor: tingkat hidrasi, suhu tubuh, bahkan seberapa erat jam tangan dipakai. Dibanding DEXA scan, BIA di wearable masih punya margin error yang lebih besar. Karena itu, hasil studi ini akan sangat penting untuk menentukan seberapa jauh data Galaxy Watch8 bisa dipercaya dalam konteks klinis.

Samsung sendiri tidak sendirian di ruang ini. Apple Watch, Garmin, dan beberapa merek lain juga mengembangkan sensor kesehatan yang semakin canggih. Tapi kolaborasi langsung dengan rumah sakit riset sekelas MGH memberi Samsung keunggulan strategis: legitimasi ilmiah yang tidak bisa dibeli hanya dengan spesifikasi teknis.

**Ringkasan 3 Poin:**
– Obat GLP-1 seperti Ozempic efektif menurunkan berat badan, tapi 25–40 persen dari berat yang hilang bisa berasal dari massa otot — bukan lemak.
– Samsung dan MGH menguji apakah Galaxy Watch8 bisa memantau komposisi tubuh pasien GLP-1 secara harian melalui sensor BIA di pergelangan tangan.
– Jika terbukti valid secara klinis, data smartwatch bisa masuk ke rekam medis dan mengubah cara dokter memantau terapi obesitas.

**FAQ Singkat:**

*Apa itu GLP-1RA?* Obat yang meniru hormon alami untuk menekan nafsu makan dan mengatur gula darah. Semaglutide (Ozempic, Wegovy) adalah yang paling dikenal.

*Apakah Galaxy Watch8 bisa menggantikan DEXA scan?* Belum. Studi ini sedang mengevaluasi seberapa dekat akurasinya. DEXA masih standar emas untuk komposisi tubuh.

*Kapan hasil studi ini keluar?* Belum ada jadwal publikasi yang diumumkan secara resmi.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda