Selasa, 30 Juni 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Wamentan panen lidah buaya di Pontianak

Wamentan panen lidah buaya di Pontianak bersama petani lokal di lahan gambut
Wamentan panen lidah buaya di Pontianak Utara. (Ilustrasi: AI)

PONTIANAK — Sempitnya lahan perkotaan tidak menyurutkan geliat pertanian di Kalimantan Barat untuk memproduksi komoditas unggulan bernilai ekonomi tinggi. Wakil Menteri Pertanian RI Sudaryono mendampingi Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono meninjau sekaligus melakukan panen lidah buaya di kawasan pertanian Pontianak Utara pada Minggu (28/6/2026). Langkah nyata ini diharapkan mampu mendongkrak semangat para petani lokal di tengah menyusutnya lahan akibat ekspansi pembangunan kota yang masif.

Kehadiran perwakilan pemerintah pusat ke lapangan membawa dampak besar bagi keberlangsungan sektor hortikultura perkotaan. Kunjungan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat ketahanan pangan regional sekaligus membuka jalan bagi modernisasi pertanian perkotaan (urban farming). Bagi para petani setempat, perhatian langsung dari kementerian memberikan harapan baru terkait kepastian harga jual dan bantuan sarana produksi yang selama ini menjadi kendala utama di lapangan.

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengungkapkan kehadiran perwakilan pemerintah pusat memberikan suntikan motivasi yang besar bagi para petani setempat. Pemerintah Kota Pontianak berkomitmen menjaga sisa lahan produktif yang kian terhimpit agar tidak beralih fungsi menjadi kawasan perumahan atau ruko.

“Kita terbatas, karena lahan pertanian di kota ini sudah banyak terbangun. Tapi yang ada di utara ini tetap kita jaga,” ujar Edi Rusdi Kamtono yang juga menjabat sebagai Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kota Pontianak.

Potensi Lahan Gambut untuk Hortikultura

Karakteristik tanah di Pontianak Utara didominasi oleh lahan gambut yang sangat spesifik. Kondisi alam seperti ini rupanya menjadi berkah tersendiri karena sangat cocok untuk budidaya tanaman hortikultura, khususnya lidah buaya atau aloe vera. Kualitas aloe vera yang dihasilkan dari tanah gambut Pontianak bahkan diklaim sebagai salah satu yang terbaik di pasar internasional karena ukuran pelepahnya yang besar dan tebal.

Saat ini, luas lahan yang aktif ditanami komoditas aloe vera di kawasan tersebut baru mencapai sekitar 12 hektare. Jumlah ini merupakan bagian dari total 370 hektare lahan potensial yang dialokasikan untuk sektor hortikultura di seluruh penjuru Kota Pontianak. Pemerintah daerah menegaskan kawasan hijau ini akan terus dipertahankan sebagai zona penyangga pangan. Upaya tersebut krusial guna menjamin pasokan sayur dan buah segar bagi warga kota tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pasokan luar daerah.

Tantangan Hilirisasi dan Kepastian Pasar

Pengembangan budidaya tanaman pertanian tidak akan optimal tanpa adanya ekosistem niaga yang sehat. Wakil Menteri Pertanian RI Sudaryono menekankan pentingnya jaminan pasar bagi para petani agar jerih payah mereka menghasilkan keuntungan yang sepadan. Tanpa pasar yang jelas, peningkatan produksi justru berisiko memicu jatuhnya harga di tingkat petani.

Menurut Sudaryono, Kalimantan Barat secara umum memiliki modal alam yang sangat besar, baik untuk tanaman pangan pokok maupun hortikultura. Namun, kunci kesejahteraan petani terletak pada kelancaran rantai distribusi dari hulu ke hilir. Hilirisasi produk menjadi mutlak dilakukan agar petani tidak hanya menjual bahan mentah dengan nilai tawar rendah.

“Di Kota Pontianak ini ada kebun aloe vera atau lidah buaya. Ini saya kira bagus, tinggal kita cek nanti pasarnya ke mana,” kata Sudaryono di sela-sela kegiatan panen.

Kementerian Pertanian berjanji akan memberikan dukungan penuh bagi para petani di Kalimantan Barat lewat penyaluran bantuan alat mesin pertanian serta kemudahan akses permodalan. Kebijakan ini selaras dengan instruksi presiden untuk mempercepat swasembada pangan nasional. Dukungan ini juga diharapkan dapat menurunkan biaya operasional petani gambut yang cenderung lebih tinggi dibanding lahan mineral.

“Visi Presiden jelas, bagaimana swasembada, punya stok produksi pangan yang cukup, dan petani harus sejahtera,” tutur Sudaryono menegaskan komitmen pemerintah.

Pemerintah pusat kini tengah memetakan potensi pasar ekspor untuk produk turunan aloe vera asal Pontianak. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah produk mentah menjadi barang jadi kosmetik maupun makanan kesehatan berkualitas ekspor. Melalui integrasi teknologi pengolahan pascapanen, komoditas lokal ini ditargetkan mampu menembus pasar Asia Tenggara dan Asia Timur dalam waktu dekat.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda