Tapi bagi Iran, koordinasi semacam itu justru dinilai berpotensi memperkeruh keadaan. Sejumlah media, termasuk Anadolu Agency dan TRT World, sebelumnya melaporkan bahwa Teheran juga memperingatkan Paris agar tidak memperumit situasi yang disebut masih sensitif dan kompleks.
Kenapa Selat Hormuz jadi begitu penting
Selat Hormuz punya bobot strategis yang besar. Jalur sempit ini menghubungkan Teluk Persia dan Laut Oman, dan selama puluhan tahun menjadi urat nadi ekspor energi Timur Tengah. Setiap ancaman di sana langsung diperhatikan perusahaan pelayaran, pasar minyak, dan pemerintah negara besar.
Karena itulah, pembersihan ranjau bukan semata urusan keamanan lokal. Ini menyangkut kelancaran perdagangan global. Jika kapal-kapal besar merasa jalurnya tidak aman, dampaknya bisa terasa sampai ke importir energi di Asia, Eropa, termasuk negara-negara yang sangat bergantung pada bahan bakar dari kawasan Teluk.
Situasi makin rumit setelah Amerika Serikat dan Israel menggempur Iran pada akhir Februari, menurut bahan yang dikutip. Sebagai balasan, Teheran menutup selat tersebut. Sejak itu, ketegangan tak pernah benar-benar reda. Pertemuan militer khusus di Inggris juga sempat digelar sejumlah negara Barat untuk membahas keamanan pelayaran di kawasan ini.
Pertaruhan diplomasi, bukan cuma keamanan laut
Bagi Iran, menolak pihak asing ikut membersihkan ranjau berarti mempertahankan kendali politik atas jalur yang sangat sensitif. Bagi Prancis dan sekutunya, ikut terlibat dimaknai sebagai upaya menjaga keamanan pelayaran internasional. Dua kepentingan ini bertemu di satu titik yang sama: Selat Hormuz.
Di sinilah letak panasnya. Bila Iran membuka pintu terlalu lebar, mereka bisa dianggap mengalah di bawah tekanan luar. Jika menutup rapat, negara-negara lain bisa menilai Teheran menghambat keamanan pelayaran. Situasi seperti ini jarang punya solusi cepat.
Al Jazeera melaporkan pernyataan Baghaei pada Senin, sementara Antara, Detik, dan JPNN sama-sama menggarisbawahi penolakan Iran terhadap gagasan kerja sama Prancis. Meski detail redaksinya berbeda, benang merahnya sama: Teheran ingin pembersihan ranjau tetap berjalan sesuai MoU, dan bukan lewat skema yang digerakkan pihak ketiga.
“Kami tidak melihat perlunya intervensi pihak ketiga,” kata Baghaei. Kalimat itu singkat, tapi pesannya keras. Iran ingin memegang kendali penuh atas Selat Hormuz — dan untuk saat ini, mereka belum mau menyerahkannya ke siapa pun.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.