Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Tantangan Manufaktur di Balik Standar OCI MSA untuk AI

Tantangan Manufaktur di Balik Standar OCI MSA untuk AI
Foto: panumas nikhomkhai/Pexels

JAKARTA — Konsorsium raksasa teknologi global yang terdiri dari AMD, Broadcom, Meta, Microsoft, NVIDIA, dan OpenAI baru saja merampungkan standar Optical Compute Interconnect Multi-Source Agreement (OCI MSA). Langkah ini menjadi tonggak sejarah baru dalam arsitektur infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang kini semakin haus akan kecepatan data. Mereka kini memiliki bahasa universal untuk memindahkan data di dalam pusat data super besar.

Kesepakatan tersebut menentukan arah komunikasi antar-perangkat menggunakan teknologi *co-packaged optics* (CPO). Secara teknis, mereka memilih modulasi *non-return-to-zero* (NRZ) yang dikombinasikan dengan *wavelength-division multiplexing* (WDM). OCI GEN1 memulai debutnya dengan empat panjang gelombang, masing-masing berkapasitas 50 Gbps, sehingga menghasilkan total 200 Gbps per arah per serat optik.

Mengapa standar ini krusial? Bayangkan ribuan GPU bekerja bersama untuk melatih model bahasa besar seperti GPT-4 atau model sejenis lainnya. Saat ini, keterbatasan fisik pada kabel tembaga tradisional mulai menciptakan kemacetan data. Kabel tembaga tidak bisa lagi memindahkan data cukup cepat tanpa menghasilkan panas berlebih. Dengan OCI MSA, industri beralih ke cahaya. Transmisi berbasis cahaya menjanjikan kecepatan jauh lebih tinggi dengan konsumsi energi yang jauh lebih efisien.

Tantangan Nyata di Lini Produksi

Meski arsitekturnya sudah disepakati, tantangan sebenarnya bukan lagi soal desain, melainkan manufaktur. Persoalan utamanya cukup mendasar: bagaimana cara memproduksi perangkat keras yang mampu mendukung peningkatan bandwidth di masa depan secara massal? Ini adalah masalah skala.

Industri kini menaruh perhatian pada efisiensi energi per bit. Penggunaan modulasi NRZ dipilih karena konsumsi daya yang jauh lebih rendah dibandingkan standar PAM-4 yang lebih kompleks. Dalam skenario ini, kecepatan simbol yang rendah dipadukan dengan pengodean sederhana, sehingga *latency* tetap terjaga dan efisien dalam konsumsi daya. Tanpa efisiensi ini, pusat data masa depan akan membutuhkan pembangkit listrik sendiri karena saking borosnya konsumsi daya *chip*.

Menurut dokumen teknis mengenai OCI MSA, strategi untuk meningkatkan bandwidth ke depan adalah dengan menambah jumlah panjang gelombang pada infrastruktur serat yang sama. Hal ini memungkinkan sistem tetap berada dalam koridor “lambat namun lebar” (slow and wide). Pendekatan ini menghindari kenaikan beban daya yang drastis pada komponen elektronik (SerDes) yang biasanya menjadi titik panas pada server.

Namun, tantangan manufaktur muncul saat industri harus beralih dari empat panjang gelombang ke delapan atau enam belas panjang gelombang. Para teknisi harus memastikan bahwa susunan laser presisi tetap stabil dalam jumlah masif. Jika satu laser saja bergeser mikron dari posisinya, koneksi data ke seluruh rak server bisa terputus. Ini adalah tingkat presisi yang sebelumnya hanya ada di laboratorium riset, bukan di pabrik perakitan massal.

Evolusi Integrasi Fotonik

Halaman:12Semua Halaman

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda