JAKARTA — harga minyak naik pada perdagangan Rabu, 1 Juli, setelah Iran menolak bertemu langsung dengan utusan Amerika Serikat. Pasar langsung bereaksi. Brent menutup sesi di US$73,45 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat ke US$70,13 per barel.
Pergerakan itu muncul setelah investor mencium risiko baru di jalur diplomasi. Penolakan Teheran membuat pelaku pasar kembali cemas bahwa gencatan senjata sementara yang meredakan perang selama empat bulan bisa goyah. Buat pasar energi, kabar seperti ini bukan sekadar berita politik. Satu sinyal saja cukup untuk mengerek harga.
Iran menolak bertemu langsung, pasar langsung waspada
Mengutip Reuters, Brent naik 50 sen atau 0,69 persen menjadi US$73,45 per barel. WTI AS menguat 63 sen atau 0,91 persen ke level US$70,13 per barel. Angka itu menunjukkan pasar masih sangat peka terhadap setiap kabar dari Timur Tengah, terutama ketika menyangkut Iran dan Amerika Serikat.
Di Doha, Qatar, situasinya sebenarnya sudah disiapkan sebagai jalur pembicaraan tingkat tinggi. Menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner, dan utusan khusus Steve Witkoff tiba untuk mengikuti pertemuan yang difasilitasi pemerintah Qatar. Tapi harapan untuk dialog langsung kandas ketika Iran dan Qatar menyatakan pejabat AS hanya akan bertemu dengan mediator, bukan delegasi Iran secara langsung.
“Pemerintah Qatar berupaya menjaga jalur diplomasi tetap terbuka,” kata Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani, yang disebut ikut bertemu dengan Witkoff dan Kushner, menurut keterangan pemerintah setempat yang dikutip Reuters.
Kenapa harga minyak cepat merespons konflik diplomatik
Harga minyak bergerak bukan cuma karena suplai dan permintaan. Geopolitik sering jadi pemicu paling cepat. Ketika pasar melihat peluang perdamaian mengecil, investor cenderung membeli minyak karena khawatir pasokan terganggu atau jalur distribusi energi terseret eskalasi baru. Itu yang terjadi kali ini.
Penolakan Iran untuk bertemu langsung dengan utusan AS memukul ekspektasi pasar terhadap kemajuan proses damai. Kalau situasi memburuk, risiko terhadap stabilitas kawasan ikut naik. Dan Timur Tengah masih memegang peran besar dalam arus energi global. Karena itu, harga minyak hampir selalu sensitif pada kabar dari wilayah ini, bahkan sebelum ada perubahan fisik di lapangan.
Sentimen itu juga menjelaskan kenapa harga minyak sempat tertekan sebelumnya. Saat investor berharap ketegangan mereda, harga cenderung turun. Begitu diplomasi tersendat, arah pasar berbalik. Cepat. Tajam.
Kuartal kedua masih berat bagi Brent dan WTI
Meski naik pada perdagangan harian, kinerja kuartalan minyak masih jauh dari kata kuat. Sepanjang kuartal kedua tahun ini, harga Brent tercatat turun sekitar US$45 per barel. Itu menjadi penurunan kuartalan terbesar sejak krisis keuangan global 2008.
WTI juga tidak luput dari tekanan. Harga minyak mentah AS itu turun sekitar US$31 per barel pada periode yang sama, menjadi penurunan kuartalan terdalam sejak 2020, saat pandemi Covid-19 menghantam permintaan energi global. Artinya, kenaikan pada Rabu belum cukup mengubah gambaran besar pasar minyak yang masih rapuh.
Bagi pembaca di Indonesia, pergerakan ini tetap relevan. Harga minyak dunia sering merembet ke biaya logistik, ongkos distribusi barang, dan tekanan pada harga energi di pasar domestik. Pemerintah dan pelaku usaha biasanya ikut mencermati pergerakan Brent karena patokannya kerap dipakai dalam banyak kontrak energi dan perencanaan anggaran.
Pasar kini menunggu satu hal: apakah jalur diplomasi antara Iran, AS, dan mediator di Qatar bisa dibuka lagi, atau justru makin macet. Kalau yang kedua terjadi, harga minyak berpeluang tetap liar. Dan angka US$73,45 bisa jadi belum puncaknya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.