Sentimen itu juga menjelaskan kenapa harga minyak sempat tertekan sebelumnya. Saat investor berharap ketegangan mereda, harga cenderung turun. Begitu diplomasi tersendat, arah pasar berbalik. Cepat. Tajam.
Kuartal kedua masih berat bagi Brent dan WTI
Meski naik pada perdagangan harian, kinerja kuartalan minyak masih jauh dari kata kuat. Sepanjang kuartal kedua tahun ini, harga Brent tercatat turun sekitar US$45 per barel. Itu menjadi penurunan kuartalan terbesar sejak krisis keuangan global 2008.
WTI juga tidak luput dari tekanan. Harga minyak mentah AS itu turun sekitar US$31 per barel pada periode yang sama, menjadi penurunan kuartalan terdalam sejak 2020, saat pandemi Covid-19 menghantam permintaan energi global. Artinya, kenaikan pada Rabu belum cukup mengubah gambaran besar pasar minyak yang masih rapuh.
Bagi pembaca di Indonesia, pergerakan ini tetap relevan. Harga minyak dunia sering merembet ke biaya logistik, ongkos distribusi barang, dan tekanan pada harga energi di pasar domestik. Pemerintah dan pelaku usaha biasanya ikut mencermati pergerakan Brent karena patokannya kerap dipakai dalam banyak kontrak energi dan perencanaan anggaran.
Pasar kini menunggu satu hal: apakah jalur diplomasi antara Iran, AS, dan mediator di Qatar bisa dibuka lagi, atau justru makin macet. Kalau yang kedua terjadi, harga minyak berpeluang tetap liar. Dan angka US$73,45 bisa jadi belum puncaknya.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.