BANDUNG — Telkomsel resmi menyelesaikan rangkaian program Digital Creative Entrepreneurs (DCE) Academy dan Summit 2026 yang berlangsung di Bandung. Inisiatif ini menjadi langkah konkret perusahaan untuk mendampingi pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) agar lebih adaptif terhadap pemanfaatan teknologi kecerdasan artifisial atau *artificial intelligence* (AI) dalam skala bisnis global.
Mengangkat tema “AI-Enabled SMEs Growth: How Locals Go Global”, program ini bukan sekadar pelatihan teknis. Telkomsel memfasilitasi para pelaku usaha dengan kurikulum komprehensif, mulai dari strategi pengembangan produk, teknik *live shopping*, hingga akses pendanaan strategis. Fokus utamanya jelas: memastikan produk lokal tidak hanya jago kandang, tapi punya daya tawar di pasar internasional.
Transformasi Digital Berbasis AI untuk UKM
Pemanfaatan AI kini menjadi pembeda utama dalam dunia bisnis. VP Corporate Communications & Social Responsibility Telkomsel, Abdullah Fahmi, menyebut bahwa teknologi adalah alat bantu untuk memperluas jangkauan pasar. Baginya, inovasi digital tidak lagi sebatas kemajuan fitur, melainkan tentang bagaimana pelaku usaha bisa mengambil keputusan bisnis yang lebih presisi.
“Teknologi membantu pelaku usaha menjangkau pelanggan lebih luas dan menciptakan dampak nyata bagi masyarakat. Ini komitmen kami untuk membuka peluang pertumbuhan yang lebih inklusif,” kata Fahmi di sela acara, Sabtu (4/7/2026). Pendekatan ini diharapkan mampu membantu UKM mengelola efisiensi operasional sekaligus meningkatkan kualitas layanan bagi konsumen.
Program ini terbukti menyedot perhatian besar. Sebanyak 2.900 UKM dari seluruh penjuru Indonesia mendaftarkan diri. Setelah melalui proses kurasi ketat, terpilihlah 500 peserta untuk tahap *onboarding*, hingga akhirnya mengerucut menjadi 12 finalis terbaik yang unjuk gigi di panggung utama.
Mengintegrasikan AI dalam bisnis bukan berarti mengganti peran manusia. Sebaliknya, pelaku usaha justru diajarkan bagaimana menggunakan alat bantu seperti *chatbot* layanan pelanggan, analisis data tren pasar, hingga otomatisasi pemasaran konten untuk menghemat waktu kerja. Efisiensi ini krusial bagi bisnis kecil yang seringkali memiliki keterbatasan jumlah karyawan namun dituntut memberikan respons cepat kepada pembeli.
Lahirnya Juara dari Berbagai Daerah
Ke-12 finalis yang berhasil menembus babak final datang dari latar belakang industri yang beragam, mencakup sektor *fashion*, makanan dan minuman (F&B), kriya, hingga perawatan diri. Mereka berasal dari berbagai titik, mulai dari Pematang Siantar, Sidoarjo, Bandung, hingga Jayapura.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah RUMA Papua, produsen teh probiotik rendah gula yang berhasil menyabet predikat ‘Best of the Best’ pada DCE 2026. Pendiri RUMA, Dian Lestari, mengaku mendapatkan perspektif baru dalam menjalankan bisnis secara strategis.
Menurutnya, pendampingan ini membantu mereka membangun cerita *brand* yang kuat sembari memanfaatkan kanal digital untuk menjangkau audiens di luar Papua. “Dahulu kami hanya fokus produksi. Sekarang, kami paham cara mengolah data pembeli untuk menentukan strategi promosi yang tepat sasaran,” ungkap Dian di sela-sela acara.
Kisah sukses lainnya datang dari Coffest Roastery asal Sumatera Utara yang menyasar segmen pasar spesifik penderita asam lambung, hingga inovasi pengolahan limbah plastik menjadi suvenir fungsional dari Kabupaten Bandung. Kesemua finalis dinilai berdasarkan keunggulan produk, model bisnis, strategi digital, hingga dampak nyata bagi komunitas di sekitarnya. Keragaman ini menjadi bukti bahwa inovasi tidak harus terpusat di kota-kota besar. Ide brilian bisa lahir dari mana saja.
Jejak Dampak DCE bagi Ekonomi Lokal
Sejak pertama kali digulirkan, DCE telah mencatatkan rekam jejak yang cukup impresif. Data Telkomsel menunjukkan lebih dari 12.800 pendaftar telah masuk ke dalam ekosistem ini. Sebanyak 1.180 alumni telah merasakan manfaat pendampingan, termasuk akses ke dukungan dana hibah yang nilainya mencapai miliaran rupiah.
Bagi Telkomsel, program ini merupakan bentuk nyata keberlanjutan. Mereka tidak hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga membekali mentalitas pengusaha untuk bersaing di era digital. Ke depan, Telkomsel berencana terus menjadikan DCE sebagai wadah kolaborasi lintas industri untuk memastikan semakin banyak produk lokal yang mampu menembus pasar global dengan standar kualitas tinggi.
Pemerintah sendiri terus mendorong digitalisasi UKM sebagai tulang punggung ekonomi nasional. Langkah yang diambil Telkomsel ini sejalan dengan target transformasi digital yang dicanangkan untuk meningkatkan kontribusi sektor kreatif terhadap PDB. Ketika pelaku usaha lokal mulai mengadopsi teknologi, daya saing bangsa perlahan naik.
Tentu saja, tantangan di lapangan masih ada. Masalah infrastruktur internet di daerah pelosok dan literasi digital yang belum merata sering menjadi batu sandungan. Namun, melihat antusiasme ribuan pelaku usaha yang mendaftar, optimisme tetap terjaga. Masa depan ekonomi Indonesia ada di tangan mereka yang berani beradaptasi dengan perubahan.
Ke depan, fokus tidak lagi hanya pada jumlah peserta. Kualitas pendampingan akan lebih dipersonalisasi sesuai kebutuhan masing-masing industri agar setiap rupiah yang diinvestasikan dalam program ini memberikan imbal hasil yang berkelanjutan bagi para pelaku UKM di pelosok negeri.
Ringkasan Poin Penting
- Program DCE 2026 berfokus pada adaptasi AI bagi UKM untuk mendorong produk lokal ke kancah global melalui pelatihan dan mentoring strategis.
- Terdapat 12 finalis dari berbagai sektor yang diseleksi dari 2.900 pendaftar di seluruh Indonesia, mencakup bidang *fashion*, kuliner, hingga kriya.
- Sejak berdiri, ekosistem DCE telah mendampingi lebih dari 1.180 alumni dengan dukungan dana hibah serta akses jaringan bisnis yang luas.
**FAQ Singkat**
- Apa itu DCE Academy? Program akselerator dari Telkomsel untuk membekali UKM Indonesia dengan keterampilan digital dan manajerial bisnis global.
- Bagaimana cara mengikuti program ini? Telkomsel membuka pendaftaran secara daring setiap tahun, dengan proses kurasi ketat terhadap model bisnis dan potensi dampak produk.
- Apakah AI wajib digunakan peserta? Program ini menekankan adopsi AI sebagai alat bantu untuk efisiensi dan strategi pasar, bukan sekadar syarat teknis semata.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.