MERAUKE — Kebutuhan solar di sektor pertanian wilayah Merauke melonjak tajam seiring percepatan program cetak sawah nasional. Kelangkaan solar di tingkat petani bukan sekadar kendala distribusi, melainkan sinyal nyata tingginya intensitas penggunaan alat mesin pertanian di lapangan.
Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman memberikan respons tak terduga saat mendengar keluhan petani di Desa Waninggap Kai, Distrik Semangga, Merauke, terkait sulitnya mendapatkan solar. Di hadapan para petani, ia justru mengaku bahagia mendengar kabar tersebut. Keluhan ini mencuat saat kunjungan kerja Mentan Amran ke lahan cetak sawah pada Sabtu (4/7/2026). Petani setempat terang-terangan meminta pemerintah agar mempermudah akses bahan bakar minyak (BBM) jenis solar. Kebutuhan mereka melonjak drastis seiring dengan masifnya penggunaan alat mesin pertanian (alsintan) di lapangan.
“Kami minta POM solar khusus buat petani,” ujar salah satu petani saat sesi dialog langsung.
Indikator Kerja Keras Petani
Amran menilai, kelangkaan solar di tingkat petani bukan sekadar masalah teknis distribusi, melainkan indikator positif produktivitas. Menurutnya, jika petani sampai kekurangan bahan bakar, itu artinya mesin-mesin pertanian seperti traktor, pompa air, hingga *combine harvester* sedang beroperasi secara maksimal.
“Saya bahagia karena bapak kesulitan solar. Artinya bapak mau kerja keras. Kalau dulu dikirim solar tidak dipakai, sekarang kekurangan solar saya bangga. Itu berarti mesin-mesin benar-benar digunakan untuk mengolah lahan,” kata Amran tegas.
Pernyataan ini mencerminkan optimisme pemerintah terhadap program cetak sawah yang kini menjadi prioritas di wilayah Papua Selatan. Meski begitu, Amran tidak membiarkan keluhan tersebut menguap begitu saja. Ia segera memerintahkan Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) untuk bergerak cepat mengatasi hambatan lapangan tersebut.
Gerak Cepat dengan Pertamina
Di depan para petani, Amran langsung meminta Dirjen PSP untuk menelepon pihak PT Pertamina (Persero). Ia ingin memastikan hambatan distribusi di lapangan segera menemui jalan keluar. Instruksi diberikan di tempat, tanpa jeda, memastikan respons birokrasi tidak menjadi penghambat operasional di sawah.
“Dirjen PSP tolong ditelepon sekarang ke Pertamina, cari nomor teleponnya, telepon,” instruksinya saat itu juga.
Hasil komunikasi tersebut tergolong cepat. Amran menyebut Pertamina telah menyetujui penambahan kuota solar untuk wilayah Merauke. Koordinasi lintas kementerian, termasuk dengan Kementerian ESDM dan jajaran pimpinan Pertamina, diklaim berjalan tanpa hambatan berarti untuk menyokong kebutuhan mendesak para penggarap lahan.
Dinamika Kebutuhan BBM Petani
Saat ini, kebutuhan BBM sektor pertanian di Merauke masih bergantung pada penyaluran melalui SPBU reguler. Belum ada fasilitas SPBU khusus yang melayani kebutuhan alat-alat pertanian skala besar, sehingga petani kerap berebut dengan kendaraan umum lainnya. Berikut adalah gambaran kondisi penyaluran solar bagi sektor pertanian di Merauke:
Kebutuhan
Kondisi Saat Ini
Penyaluran Solar
Melalui SPBU dan lembaga penyalur resmi
Fasilitas Khusus
Belum tersedia SPBU khusus petani
Penggunaan Alat
Traktor, pompa air, combine harvester, drone
Penambahan kuota ini diharapkan bisa menjadi solusi jangka pendek. Fokus pemerintah kini adalah memastikan pasokan tersebut benar-benar sampai ke tangan petani untuk menopang target produksi pangan nasional dari Merauke. Amran menekankan bahwa sinergi antara Kementerian Pertanian, Kementerian ESDM, dan Pertamina menjadi kunci utama agar aktivitas di lahan cetak sawah tidak terhenti hanya gara-gara keterlambatan distribusi BBM.
Target Swasembada Pangan Nasional
Wilayah Merauke kini memikul tanggung jawab besar sebagai salah satu lumbung pangan baru di Indonesia Timur. Dengan luas lahan yang terus diekspansi melalui program cetak sawah, ketergantungan pada alat mekanisasi menjadi mutlak. Penggunaan teknologi seperti drone untuk pemupukan dan *combine harvester* untuk panen otomatis membuat kebutuhan BBM jenis solar menjadi komoditas vital yang tidak bisa ditawar.
Analisis lapangan menunjukkan bahwa efisiensi pertanian modern sangat bergantung pada ketersediaan energi yang konstan. Tanpa suplai solar yang stabil, mesin-mesin yang dibeli dengan investasi besar berisiko menganggur, yang justru akan menghambat realisasi target swasembada pangan. Langkah cepat Mentan Amran melalui koordinasi langsung dengan Pertamina merupakan respons taktis atas risiko tersebut.
Ke depan, pemerintah dituntut untuk segera memikirkan skema penyediaan energi yang lebih mandiri bagi kawasan pertanian skala besar, seperti membangun tangki penyimpanan khusus atau mengintegrasikan distribusi solar langsung ke titik-titik produksi. Keberhasilan distribusi solar di musim tanam ini akan menjadi acuan bagi daerah-daerah lain dalam menjalankan program perluasan lahan pertanian serupa.
Pemerintah pusat tampaknya tetap pada pendirian bahwa kekurangan BBM adalah bukti bahwa mesin-mesin negara memang berputar di lahan sawah rakyat. Kini tinggal bagaimana Pertamina dan instansi terkait menjaga komitmen penambahan kuota tersebut agar tetap tersedia secara berkelanjutan hingga musim panen tiba. Ujian sebenarnya akan terlihat pada ketepatan distribusi di tingkat akar rumput dalam beberapa bulan ke depan.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.