JAKARTA — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut pembentukan PT DSI dan skema ekspor satu pintu untuk sawit akan membuat arus ekspor lebih transparan, mencegah permainan harga, dan ikut mendorong penerimaan negara. Pernyataan itu ia sampaikan dalam dialog Economic Update CNBC Indonesia, Senin, 22 Juni 2026.
Amran juga memaparkan cadangan beras pemerintah yang tembus 5 juta ton per April 2026, level tertinggi sepanjang sejarah. Angka itu, kata dia, menjadi penopang penting di saat harga beras di sejumlah daerah bergerak naik mengikuti kenaikan harga gabah di tingkat petani.
Isu sawit dan beras memang bergerak di dua jalur berbeda. Tapi keduanya bertemu di satu titik: pangan dan daya beli. Saat produksi terjaga, harga di hulu naik sehat, dan distribusi dibuat lebih rapat, petani punya ruang lebih baik. Konsumen tetap butuh kepastian harga. Pemerintah juga mengejar pasokan energi baru lewat bioetanol dari sektor pangan.
CBP 5 juta ton, stok tertinggi sepanjang sejarah
Amran menegaskan cadangan beras pemerintah yang mencapai 5 juta ton pada April 2026 bukan angka biasa. Itu disebut sebagai stok beras tertinggi RI sepanjang sejarah. Pemerintah, kata dia, terus menjaga swasembada beras agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
“Per April 2026, Cadangan Beras Pemerintah mencapai 5 juta ton. Itu capaian stok beras tertinggi RI sepanjang sejarah,” ujar Amran dalam dialog tersebut.
Stok sebesar itu memberi sinyal kuat bagi pasar. Saat pasokan pemerintah cukup tebal, tekanan pada ketersediaan beras bisa diredam. Namun, Amran mengaitkan kenaikan harga beras di beberapa daerah dengan mekanisme pasar yang ikut menyesuaikan diri terhadap naiknya harga gabah di tingkat petani.
Bagi pembaca, kaitannya jelas. Kalau harga gabah petani naik, pendapatan petani ikut terdorong. Di sisi lain, harga beras di pasar bisa ikut bergerak. Pemerintah lalu dituntut menjaga keseimbangan: petani tidak dirugikan, tapi konsumen juga tidak terbebani lonjakan terlalu tajam.
Harga gabah naik, petani dapat ruang lebih baik
Amran mengatakan kenaikan harga beras di sejumlah daerah tidak bisa dilihat lepas dari harga gabah yang juga naik. Ia menempatkan kondisi itu sebagai bagian dari mekanisme pasar. Artinya, ada transmisi harga dari tingkat petani ke pasar ritel.
Situasi ini penting karena Indonesia selama ini kerap menghadapi dilema klasik. Saat harga terlalu rendah, petani terpukul. Saat terlalu tinggi, rumah tangga pembeli yang menanggung beban. Pemerintah mencoba menahan dua ekstrem itu lewat cadangan, distribusi, dan intervensi di titik-titik tertentu.
Cadangan beras pemerintah yang besar memberi bantalan saat pasokan terganggu. Tapi bantalan itu tidak berdiri sendiri. Ia perlu didukung produksi dalam negeri yang stabil, serapan gabah yang baik, dan tata niaga yang tidak bocor di sepanjang jalur distribusi.
Di titik inilah Amran menekankan pentingnya tata kelola yang rapi. Pendekatan ini bukan sekadar soal stok di gudang. Ini soal bagaimana harga terbentuk dari sawah sampai ke pasar, dan siapa yang paling diuntungkan dari setiap perubahan harga.
PT DSI, ekspor satu pintu, dan pengawasan sawit
Bagian lain yang disorot Amran adalah sektor sawit. Pemerintah, kata dia, mendorong peningkatan produksi untuk mendukung swasembada energi melalui bioetanol. Pada saat yang sama, harga Tandan Buah Segar atau TBS sawit di tingkat petani harus tetap stabil.
Ia memastikan rencana penetapan aturan ekspor satu pintu lewat BUMN khusus, PT DSI, tidak akan merugikan petani sawit. Sebaliknya, skema itu diharapkan membuat arus ekspor lebih transparan dan lebih mudah diawasi.
Amran bahkan menyebut telah melaporkan 274 sampai 300 perusahaan sawit yang diduga mempermainkan harga TBS. Menurut dia, keberadaan PT DSI bisa mencegah praktik under invoicing dan transfer pricing yang selama ini berpotensi menekan penerimaan negara.
“Kami laporkan 274-300 perusahaan sawit yang mempermainkan harga TBS. Diharapkan pembentukan PT DSI dapat mencegah permainan under invoicing dan transfer pricing,” kata Amran.
Istilah under invoicing dan transfer pricing penting dipahami. Under invoicing membuat nilai transaksi di dokumen ekspor lebih rendah dari nilai sebenarnya. Transfer pricing bisa memindahkan laba ke entitas lain lewat harga transaksi internal. Dua praktik ini sama-sama berisiko menggerus pajak, bea keluar, dan penerimaan lain yang seharusnya masuk ke negara.
Bila pengawasan ekspor sawit benar-benar rapat, dampaknya bisa luas. Negara berpeluang memperoleh penerimaan yang lebih optimal. Petani juga bisa mendapat sinyal harga yang lebih adil karena permainan di hilir makin sulit dilakukan.
Kenapa kebijakan ini penting bagi petani dan pembaca
Langkah pemerintah di sawit dan beras punya efek langsung ke banyak rumah tangga. Untuk petani padi, stok besar dan kebijakan harga yang menjaga nilai gabah berarti kepastian usaha. Untuk konsumen, stok pemerintah yang tebal memberi harapan harga tidak melonjak liar.
Untuk petani sawit, transparansi ekspor dan stabilitas TBS berarti pendapatan tidak gampang digunting oleh praktik yang tidak sehat. Petani kecil biasanya paling cepat merasakan dampak ketika tata niaga kacau. Harga di kebun turun, tetapi harga ekspor di hilir tidak selalu ikut transparan.
Karena itu, PT DSI menjadi penting bukan hanya sebagai nama baru di jalur ekspor. Perannya bakal diukur dari seberapa besar perusahaan itu mampu menutup celah kebocoran, merapikan alur dokumen, dan membuat harga sawit lebih jujur dari kebun sampai pelabuhan.
Amran menutup penjelasannya dengan arah yang cukup tegas: produksi pangan dan energi akan terus dikejar, sementara tata niaga harus lebih tertib. Berikutnya, pasar akan melihat apakah skema ekspor satu pintu benar-benar bisa berjalan mulus dan memberi hasil nyata bagi petani maupun penerimaan negara.
Exceprt: Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut PT DSI akan membuat ekspor sawit lebih transparan, mencegah permainan harga, dan ikut menaikkan penerimaan negara.
Catatan visual: ilustrasi gudang beras, tandan sawit, dan dokumen ekspor untuk menggambarkan transparansi perdagangan.
Sumber: CNBC Indonesia, dialog Economic Update bersama Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman, Senin, 22 Juni 2026.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.