Sabtu, 4 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Prosesi Pemakaman Ali Khamenei, Warga Teheran Tuntut Pembalasan

Prosesi Pemakaman Ali Khamenei, Warga Teheran Tuntut Pembalasan
Foto: Airam Dato-on/Pexels

TEHERAN — Lautan manusia memadati kompleks Masjid Agung Imam Khomeini di Teheran, Iran, pada Sabtu (4/7/2026), untuk memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Suasana duka menyelimuti ibu kota, namun di balik isak tangis, gema tuntutan balas dendam terdengar makin nyaring membelah udara.

Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan udara presisi yang dilancarkan pihak Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu. Insiden tersebut menjadi pemantik konflik regional yang kini mengubah peta geopolitik Timur Tengah secara drastis.

Bagi rakyat Iran yang setia pada garis Republik Islam, prosesi ini bukan sekadar upacara pelepasan jenazah, melainkan ajang unjuk kekuatan di hadapan musuh-musuh negara. Ketegangan nyata.

Simbol Balas Dendam di Jantung Ibu Kota

Di bawah pengamanan ekstra ketat yang melibatkan unit elit keamanan, ribuan pelayat tampak mengibarkan bendera merah. Dalam tradisi Syiah, warna merah ini bukan sekadar lambang berkabung, melainkan simbol kuno dari tuntutan pembalasan atas darah yang tertumpah secara tidak adil.

Sepanjang jalan menuju kompleks masjid, massa memukuli dada sambil meneriakkan yel-yel yang menuntut keadilan segera ditegakkan.

Seorang orator dari mimbar tinggi menegaskan bahwa kehadiran jutaan orang ini bukanlah akhir, melainkan awal dari fase baru perjuangan. “Darah martir adalah bahan bakar revolusi yang tidak akan pernah padam,” teriak sang orator melalui pengeras suara yang menggema ke seluruh penjuru lapangan. Kalimat itu langsung disambut gemuruh sahutan massa yang memenuhi ruas-ruas jalan utama Teheran.

Pemerintah Iran secara resmi memproyeksikan jumlah pelayat akan menembus angka 10 juta orang di sepanjang ibu kota. Mobilisasi massa sebesar ini bukanlah kebetulan. Ini adalah pesan politik terukur kepada pihak lawan: rezim di Teheran tetap solid meski pucuk pimpinan mereka telah tiada.

Di lokasi yang sama, kemunculan kepala baru Garda Revolusi Islam (IRGC) yang sebelumnya sempat menarik diri dari publik, menjadi penanda bahwa struktur militer Iran tetap utuh dan siap mengambil komando.

Dinamika Suksesi dan Stabilitas Regional

Halaman:12Semua Halaman

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda