Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Katak emas langka ditemukan di Pegunungan Andes Kolombia

Phyllobates terribilis
Katak emas (golden poison frog, Phyllobates terribilis) di habitat hutan Kolombia. Foto: H. Zell / Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)

BOGOTÁ — katak emas langka yang baru ditemukan di Pegunungan Andes Kolombia langsung memicu alarm konservasi. Ukurannya cuma kurang dari dua sentimeter, hidup di lembah terpencil hutan awan, dan habitatnya begitu sempit sehingga para peneliti khawatir spesies ini bisa lenyap sebelum sempat dipelajari lebih jauh.

Tim biolog internasional yang menemukannya menyebut warna kuning keemasan yang menyala pada amfibi mungil itu kemungkinan besar berfungsi sebagai sinyal bahaya bagi predator. Temuan ini bukan sekadar menambah daftar spesies baru. Ini juga menegaskan betapa rapuhnya ekosistem hutan awan di Kolombia, yang kini tertekan oleh perubahan iklim dan pembukaan lahan pertanian.

Katak emas langka dari lembah terpencil

Spesies baru itu ditemukan di ketinggian, di kawasan hutan awan yang dingin dan lembap. Lingkungan seperti ini bukan tempat yang mudah dijangkau. Jalurnya sempit, berkabut tebal, dan sering berubah licin saat hujan turun.

Di situlah katak kecil itu hidup. Para ilmuwan menjelaskan bahwa ukuran tubuhnya berada sedikit di bawah dua sentimeter. Kecil sekali. Hampir sebesar kuku jari.

Warna tubuhnya mencolok. Kuning emas. Terang, bersih, dan langsung terlihat di antara lumut serta daun basah yang menutupi lantai hutan. Bagi para peneliti, warna itu bukan hiasan. Mereka menduga itu adalah bentuk peringatan alami bahwa hewan tersebut beracun atau setidaknya tidak enak dimakan.

Dalam dunia amfibi, pola seperti ini memang sering muncul sebagai strategi bertahan hidup. Hewan yang berukuran mini tidak bisa mengandalkan kekuatan. Mereka memakai kamuflase, racun, atau sinyal visual untuk bertahan. Katak emas langka ini tampaknya memilih jalur kedua. Berani. Mencolok. Dan efektif.

Kenapa penemuan ini penting

Penemuan spesies baru selalu menarik, tapi kasus ini punya bobot lebih besar. Soalnya, para peneliti menekankan bahwa habitat katak tersebut sangat terbatas. Ia tidak hidup di hamparan luas. Tidak pula tersebar ke banyak wilayah. Hanya berada di satu lembah terisolasi di dalam hutan awan Andes.

Artinya, sekali habitat itu rusak, risiko terhadap seluruh populasi langsung meningkat tajam. Tak ada cadangan besar di tempat lain. Tak ada populasi satelit yang bisa menjadi penyangga. Ini jenis kerentanan yang sangat sederhana, tapi mematikan.

Halaman:12Semua Halaman

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda