Selasa, 7 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI BISNIS

IHSG Rises as Forex Reserve Data Looms

IHSG Menguat di Tengah Penantian Data Cadangan Devisa
IHSG Menguat di Tengah Penantian Data Cadangan Devisa. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — IHSG menguat 40,29 poin atau 0,69 persen ke posisi 5.916,07 pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia, Senin sore, 6 Juli. Indeks LQ45 ikut naik 2,70 poin atau 0,46 persen ke level 584,48.

Penguatan itu terjadi saat pelaku pasar menunggu risalah The Fed dan data cadangan devisa domestik yang biasanya jadi petunjuk penting bagi arah pasar uang dan saham. Pasar bergerak tenang. Tapi waspada.

Sentimen global dan data domestik menahan laju pasar

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus atau Nico, menilai sentimen dari luar negeri dan faktor dalam negeri sama-sama membayangi perdagangan hari itu. Menurut dia, investor belum punya alasan kuat untuk masuk agresif sebelum dua data besar keluar.

“Sentimen eksternal dan internal membayangi pergerakan IHSG,” ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, Senin.

Dari mancanegara, bursa Asia bergerak variatif. Pelaku pasar menanti risalah rapat bank sentral Amerika Serikat, The Fed, untuk mencari sinyal lanjutan soal arah suku bunga. Di sisi lain, pasar juga menunggu data ekonomi China yang dijadwalkan rilis pekan ini.

Nico menjelaskan, risalah The Fed penting karena memuat rincian lengkap dari keputusan kebijakan moneter serta proyeksi ekonomi yang dibahas dalam pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal. Dokumen itu sering dipakai investor sebagai petunjuk apakah bank sentral AS akan lebih longgar atau tetap menahan kebijakan ketat.

Kenapa data cadangan devisa jadi penting

Di dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada data cadangan devisa. Angka ini jadi salah satu indikator kemampuan Indonesia menjaga stabilitas rupiah, membayar kewajiban luar negeri, dan meredam gejolak ketika arus modal asing berubah cepat.

Bagi investor ritel, dampaknya tidak selalu langsung terasa di layar aplikasi saham. Namun, data cadangan devisa yang kuat biasanya memberi rasa aman ke pasar. Rupiah lebih tenang, imbal hasil obligasi bisa bergerak lebih stabil, dan sentimen ke saham perbankan maupun konsumsi bisa ikut membaik.

Ini alasan kenapa pasar tidak terburu-buru. Mereka menimbang risiko dulu, baru masuk. Kalau data cadangan devisa mengecewakan, tekanan ke rupiah bisa muncul dan IHSG berpotensi kehilangan tenaga. Kalau hasilnya solid, indeks punya ruang untuk melanjutkan penguatan.

Halaman:12Semua Halaman

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda