Selasa, 7 Juli 2026 WIB
BREAKING
POLITIK PEMERINTAHAN

Candaan di Podcast Berujung Kritik, PM Australia Minta Maaf

Candaan di Podcast Berujung Kritik, PM Australia Minta Maaf
Foto: Ben Khatry/Pexels

JAKARTA — PM Australia minta maaf setelah komentarnya di podcast komedi Bush Deep memicu kritik luas dari kalangan politik Australia. Anthony Albanese, yang tampil santai dalam wawancara bersama komedian Nikki Osborne, lalu mengeluarkan pernyataan terbuka pada Senin, 6 Juli 2026.

Ucapan yang dipersoalkan muncul saat Albanese ikut permainan cepat “shag, marry, date” dan diminta memilih di antara Kylie Minogue, Nicole Kidman, dan Rhonda Burchmore. Permintaan maaf itu segera jadi urusan serius di Canberra, karena menyentuh soal etika pejabat publik, citra jabatan perdana menteri, dan sensitivitas terhadap perempuan.

Awal kontroversi dari podcast komedi

Dalam episode yang tayang akhir pekan lalu, Albanese dan Osborne awalnya membahas topik ringan. Ada obrolan soal anjing peliharaan sang perdana menteri, juga hadiah dari sejumlah pemimpin dunia. Suasananya santai. Hampir tidak ada nuansa politik berat di sana.

Namun, keadaan berubah ketika Osborne melontarkan pertanyaan permainan yang meminta Albanese memilih figur publik perempuan untuk kategori tertentu. Albanese sempat menahan diri dan berkata bahwa ia baru menikah dan masih dalam fase awal pernikahan. Tapi ketika didesak, ia menjawab “Kylie, jelas” dan kemudian menambahkan, “Semuanya,” seraya menyebut penyanyi itu luar biasa.

Bagian lain dari wawancara itu juga ikut disorot. Albanese menanggapi candaan soal kehidupan rumah tangganya dengan Jodie Haydon, lalu menyebut kemenangan South Sydney Rabbitohs sebagai “afrodisiak yang baik”. Kalimat-kalimat itu terdengar ringan di studio podcast. Di ruang publik, efeknya berbeda.

Kritik datang cepat dari parlemen

Reaksi paling keras datang dari sejumlah politisi oposisi dan independen. Anggota parlemen independen Zali Steggall menilai seorang perdana menteri seharusnya tidak ikut permainan semacam itu. Menurut dia, Albanese seharusnya menolak sejak awal dan memberi teladan yang lebih baik. Steggall juga menyebut permainan itu bernuansa seksis.

Sarah Henderson dari Partai Liberal juga menyerang keras. Ia menilai komentar Albanese tidak menghormati perempuan, mempermalukan warga Australia, dan merendahkan martabat jabatan perdana menteri. Bahasa yang dipakai Henderson menggambarkan satu hal: lawan politik melihat isu ini bukan sekadar candaan yang kelewat batas, melainkan persoalan standar moral pejabat tertinggi negara.

“Seorang perdana menteri tidak seharusnya berpartisipasi dalam permainan seperti itu,” kata Steggall, seperti dikutip media Australia. Sementara Henderson menyebut pernyataan Albanese berada di bawah standar yang layak dijaga oleh pemegang jabatan tertinggi pemerintahan.

Belaan dari kubu pemerintah

Tidak semua orang di pemerintahan ikut mengecam. Menteri dari Partai Buruh, Tanya Plibersek, mengatakan ia belum mendengarkan wawancara itu secara utuh. Tapi jika yang dimaksud Albanese hanya kekagumannya pada Kylie Minogue, menurut dia itu tidak jauh berbeda dengan jutaan warga Australia lain yang menyukai penyanyi tersebut.

Plibersek juga menekankan catatan pemerintahan Albanese dalam mendorong kesetaraan gender.

Ia menyebut kabinet saat ini memiliki komposisi laki-laki dan perempuan yang seimbang, mayoritas anggota kaukus Partai Buruh adalah perempuan, dan kesenjangan upah gender berada di titik terendah dalam sejarah pencatatan. Wakil Perdana Menteri Richard Marles ikut membela.

Ia mengatakan Albanese sudah meminta maaf dan menilai format wawancara itu memang berbeda dari wawancara politik biasa.

Marles menambahkan bahwa pemerintahan kini memiliki rekor yang kuat dalam isu kesetaraan gender. Bagi kubu pemerintah, itu penting untuk menahan dampak politik dari satu sesi podcast yang dianggap terlalu santai.

Kenapa isu ini penting bagi publik

Polemic semacam ini sering terlihat kecil, tapi dampaknya tidak kecil untuk pembaca. Candaan pejabat tinggi di ruang publik langsung diuji dengan standar yang jauh lebih tinggi daripada warga biasa. Saat seorang perdana menteri bicara sembarangan, pesan yang muncul bukan cuma soal selera humor, melainkan juga soal batas etika, penghormatan terhadap perempuan, dan cara negara menilai pemimpinnya.

Di Australia, topik kesetaraan gender memang sensitif dan terus diawasi. Karena itu, satu komentar dalam podcast bisa berubah jadi debat tentang kepemimpinan, budaya politik, dan apakah pejabat publik masih punya ruang untuk bercanda tanpa merusak wibawa jabatan. Di titik ini, publik tidak hanya mendengar soal Kylie Minogue. Mereka sedang menilai karakter politik seorang perdana menteri.

Masalahnya, kritik dari oposisi tidak datang di ruang hampa. Albanese sedang berada di Fiji untuk pertemuan dengan Perdana Menteri Sitiveni Rabuka, lalu dijadwalkan berkunjung ke Kepulauan Solomon sebelum kembali ke Brisbane. Agenda luar negeri itu membuat permintaan maafnya dibaca sebagai upaya meredam polemik secepat mungkin, agar tidak mengganggu panggung diplomatik yang sudah menunggu.

Di tengah semua itu, satu fakta tetap menempel: komentar yang lahir dari obrolan santai di podcast bisa berubah menjadi beban politik dalam hitungan jam. Dan bagi Albanese, beban itu kini harus ditanggung sambil menjalankan agenda regional yang padat, termasuk rangkaian kunjungan ke tiga negara Pasifik dalam satu pekan.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda