MANILA — Senat Filipina resmi membuka persidangan impeachment Wakil Presiden Sara Duterte pada hari Senin dalam sebuah momen yang penuh gejolak politik. Persidangan ini berlangsung di tengat ketegangan mendalam antara Duterte dan Presiden Ferdinand Marcos Jr., padahal keduanya dulunya bersatu sebagai running mates pada pemilu 2022.
Lebih dari 6.000 petugas polisi, termasuk skuad anti-huru-hara, disiapkan untuk menjaga kompleks Senat. Sekitar 400 demonstran anti-Duterte berkumpul di depan gedung dengan berteriak “Hukum Sara sekarang.” Duterte tidak hadir secara pribadi; tim kuasa hukumnya yang mewakili dirinya di hari pertama persidangan yang dijadwalkan berlangsung 92 hari.
Ancaman Karir Politik yang Serius
Jika terbukti bersalah atas tuduhan yang diajukan — termasuk memiliki kekayaan yang tidak dapat dijelaskan dan secara terang-terangan mengancam akan membunuh Marcos — Duterte menghadapi risiko diskualifikasi seumur hidup dari jabatan publik. Dia menolak semua tuduhan tersebut.
Dampaknya sangat nyata bagi masa depan politiknya. Duterte telah mengumumkan rencananya untuk mencalonkan diri sebagai presiden pada pertengahan 2028, ketika masa jabatan enam tahun Marcos berakhir. Namun, putusan impeachment yang tidak menguntungkan akan menghancurkan ambisi tersebut sekaligus menutup pintu bagi dirinya untuk menempati jabatan publik apa pun di masa depan.
Persidangan ini menandai titik balik yang dramatis bagi dinasti Duterte. Ayahnya, mantan Presiden Rodrigo Duterte, saat ini ditahan di Den Haag menghadapi pengadilan atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Tahun lalu, dia diterbangkan ke Belanda atas perintah Pengadilan Pidana Internasional terkait dengan kampanye perang obat-obatan yang brutal selama masa pemerintahannya, yang menyebabkan ribuan orang tewas.
Perpecahan Dua Dinasti Berkuasa
Penghianatan aliansi antara keluarga Marcos dan Duterte mencerminkan perubahan geopolitik yang lebih luas di Filipina. Saat Marcos memperkuat hubungan pertahanan dengan Amerika Serikat dan mengambil sikap tegas terhadap agresi China di Laut China Selatan yang diperdebatkan, Rodrigo Duterte telah menjalin hubungan dekat dengan Presiden China Xi Jinping dan Pemimpin Rusia Vladimir Putin.
Sara Duterte telah dikritik karena tidak mengecam serangan China, termasuk penggunaan meriam air yang kuat, terhadap pasukan dan nelayan Filipina di perairan yang diperdebatkan itu. Perbedaan postur geopolitik ini menambah dimensi lain pada perselisihan mereka yang sudah memanas.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.