Kamis, 9 Juli 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Fadli Zon soal Ziarah ke Gunung Kawi: Tradisi dan Budaya Lama

Fadli Zon soal Ziarah ke Gunung Kawi
Foto: Asamblea Nacional del Ecuador / Wikimedia Commons (CC BY-SA 2.0)

JAKARTA — Menteri Kebudayaan Fadli Zon memandang fenomena ziarah ke Gunung Kawi di Kabupaten Malang sebagai bagian sah dari mozaik tradisi dan budaya lama Indonesia. Respons ini muncul menyusul hiruk-pikuk perbincangan di media sosial yang mengaitkan ziarah tersebut dengan upaya pesugihan.

“Gunung Kawi, itu kan kita keberagaman kita di dalam memahami,” ujar Fadli Zon saat dihubungi di Jakarta, Senin (7/7/2026). “Termasuk apa yang terjadi tidak hanya di Gunung Kawi dan di berbagai tempat, itu satu hal yang merupakan mozaik dari tradisi dan budaya lama.” Menurut Menteri Kebudayaan, pandangan semacam itu adalah cara melihat Indonesia sebagai negara yang kaya keberagaman.

Fadli kemudian mengutarakan syarat agar praktik ziarah semacam itu dianggap positif. “Selama itu bisa memberikan kebaikan, terutama mendatangkan ekonomi budaya bagi masyarakat setempat, dan tidak mengganggu serta tidak merusak, tentu itu kita anggap sebagai realitas kehidupan kita,” katanya.

Dari Viral hingga Respons Menteri

Ziarah di Gunung Kawi menjadi sorotan publik beberapa waktu belakangan setelah konten terkait aktivitas tersebut menyebar di platform media sosial. Sebagian konten menghubungkan praktik ziarah dengan keyakinan pesugihan—upaya untuk meraih harta atau keberuntungan melalui cara-cara mistis.

Perbincangan tersebut menciptakan perdebatan publik tentang bagaimana melihat tradisi lokal dan kepercayaan masyarakat.

Respon Fadli Zon menunjukkan sikap Kementerian Kebudayaan yang lebih pendekatan inklusif. Daripada melarang atau mengkritik, Menteri lebih memilih menerima praktik ini sebagai ekspresi budaya masyarakat, dengan catatan selama tidak menimbulkan kerugian atau kerusakan lingkungan.

Pesarean Gunung Kawi: Sejarah dan Tradisi

Kompleks makam Pesarean Gunung Kawi terletak di Kabupaten Malang dan menjadi tempat peristirahatan tokoh-tokoh penting. Di sana dimakamkan Raden Mas Soeryo Koesoemo (dikenal sebagai Kiai Zakaria II atau Eyang Djoego) dan Raden Mas Iman Soedjono. Kedua tokoh ini memiliki sejarah penting dalam tradisi keagamaan dan budaya lokal Jawa Timur.

Sepanjang tahun, kompleks makam ini menarik kunjungan warga dari berbagai daerah. Puncaknya adalah perayaan Tahun Baru Hijriah (1 Muharam atau 1 Syuro), ketika ribuan peziarah datang. Prosesi tahunan mencakup kirab warga dan tabur bunga yang melibatkan komunitas lokal secara luas.

Dampak Ekonomi dan Sosial Budaya

Salah satu alasan Fadli Zon menerima ziarah Gunung Kawi adalah manfaat ekonomi budaya yang dibawa bagi warga Malang. Aktivitas ini menciptakan ekosistem ekonomi lokal—dari pedagang makanan, tiket masuk, hingga jasa pemandu wisata dan penginapan. Bagi masyarakat Malang, ziarah bukan sekadar aktivitas spiritual, melainkan sumber mata pencaharian musiman yang signifikan.

Pendekatan Menteri Kebudayaan ini sejalan dengan strategi nasional untuk mengembangkan ekonomi budaya. Indonesia memiliki ratusan situs serupa—dari makam wali, candi, hingga tradisi lokal—yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata budaya tanpa menghilangkan nilai sakralnya.

Negosiasi Antara Tradisi dan Modernitas

Respons Fadli Zon juga mencerminkan tantangan bagi pemerintah modern dalam mengelola tradisi dan kepercayaan lokal di era media sosial. Viral tidaknya sebuah praktik tidak lagi ditentukan oleh segi sakral atau profannya, melainkan oleh algoritma platform digital.

Konten tentang pesugihan di Gunung Kawi menjadi perbincangan besar justru karena ia terkait dengan aspek mistis yang menarik perhatian pengguna media sosial.

Dengan menerima ziarah Gunung Kawi sebagai “realitas kehidupan,” Fadli Zon menunjukkan pendekatan yang realistis: tradisi tidak hilang begitu saja, dan pemerintah harus menemukan cara untuk mengelolanya tanpa konfrontasi. Asalkan tidak merugikan atau merusak, praktik lokal dapat diakui dan bahkan dikembangkan untuk manfaat masyarakat.

Fenomena ziarah Gunung Kawi adalah cerminan dari Indonesia yang plural—tempat di mana tradisi lokal, kepercayaan spiritual, dan kepentingan ekonomi bersatu dalam satu tempat. Bagaimana masyarakat dan pemerintah mengelola keseimbangan tersebut akan menjadi kunci dalam menjaga kelestarian budaya lokal sambil memberdayakan ekonomi komunitas.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda