Kamis, 9 Juli 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Fairuz A. Rafiq dan Sonny Septian adu akting di film “Anak-Anak Bambu”

Fairuz A. Rafiq dan Sonny Septian di film Anak-Anak Bambu
Fairuz A. Rafiq dan Sonny Septian menghidupkan pasangan suami istri di film Anak-Anak Bambu yang tayang 23 Juli 2026. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Anak-Anak Bambu mempertemukan Fairuz A. Rafiq dan Sonny Septian sebagai pasangan suami istri di layar lebar. Film drama keluarga garapan Dyan Sunu Prastowo itu dijadwalkan tayang di bioskop mulai 23 Juli 2026.

Keduanya hadir ke ANTARA Heritage Center, Jakarta, pada Selasa untuk mempromosikan film produksi Theana Pictures tersebut. Dalam cerita, Fairuz dan Sonny memerankan Bilqis dan Baskara, pasangan yang berusaha menjaga keharmonisan di Rumah Bambu Abah.

Anak-Anak Bambu, kisah rumah sederhana yang menampung 50 anak yatim

Film Anak-Anak Bambu membawa penonton ke sebuah rumah sederhana yang punya makna besar: Rumah Bambu Abah. Tempat itu menjadi rumah pulang bagi 50 anak yatim yang dikenal sebagai Anak-Anak Bambu.

Premisnya terasa dekat dengan banyak keluarga Indonesia. Rumah, anak, pengasuh, rutinitas harian, lalu konflik kecil yang bisa membesar jika tak dijaga. Dari bahan cerita yang dibagikan, film ini tidak hanya mengandalkan drama keluarga biasa, tapi juga menyentuh relasi antara orang tua, anak, dan lingkungan tempat tumbuh bersama.

Dyan Sunu Prastowo menempatkan keluarga besar itu sebagai pusat cerita. Nama rumahnya sederhana, tapi bebannya tidak ringan. Di sana, setiap orang punya peran. Setiap keputusan ikut memengaruhi suasana rumah.

Fairuz merasa dekat dengan peran Bilqis

Fairuz mengaku tidak kesulitan menjalankan tokoh Bilqis. Ia menyebut ada kemiripan dengan kehidupannya sendiri saat mengurus anak di rumah.

“Ada kesamaan juga dengan kehidupan nyata kalau kita lagi di rumah punya anak ya ngatur anak-anak di rumah,” kata Fairuz saat ditemui di ANTARA Heritage Center.

Bedanya, kata dia, Bilqis harus menghadapi lebih banyak anak dan juga mengamati kebiasaan para pengasuh di yayasan. Detail kecil seperti itu justru membuat karakter terasa hidup. Fairuz harus membaca situasi, menakar emosi, lalu menjaga nada agar Bilqis tampil sebagai ibu yang ceria dan ceriwis, sesuai naskah.

Di titik inilah tantangan muncul. Karakter yang terlihat ringan di atas kertas belum tentu mudah dimainkan. Ia mesti menunjukkan energi, tapi tidak berlebihan. Ia harus dekat, tapi tetap punya lapisan emosi yang terasa.

Halaman:12Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda