JAKARTA — Anak-Anak Bambu mempertemukan Fairuz A. Rafiq dan Sonny Septian sebagai pasangan suami istri di layar lebar. Film drama keluarga garapan Dyan Sunu Prastowo itu dijadwalkan tayang di bioskop mulai 23 Juli 2026.
Keduanya hadir ke ANTARA Heritage Center, Jakarta, pada Selasa untuk mempromosikan film produksi Theana Pictures tersebut. Dalam cerita, Fairuz dan Sonny memerankan Bilqis dan Baskara, pasangan yang berusaha menjaga keharmonisan di Rumah Bambu Abah.
Anak-Anak Bambu, kisah rumah sederhana yang menampung 50 anak yatim
Film Anak-Anak Bambu membawa penonton ke sebuah rumah sederhana yang punya makna besar: Rumah Bambu Abah. Tempat itu menjadi rumah pulang bagi 50 anak yatim yang dikenal sebagai Anak-Anak Bambu.
Premisnya terasa dekat dengan banyak keluarga Indonesia. Rumah, anak, pengasuh, rutinitas harian, lalu konflik kecil yang bisa membesar jika tak dijaga. Dari bahan cerita yang dibagikan, film ini tidak hanya mengandalkan drama keluarga biasa, tapi juga menyentuh relasi antara orang tua, anak, dan lingkungan tempat tumbuh bersama.
Dyan Sunu Prastowo menempatkan keluarga besar itu sebagai pusat cerita. Nama rumahnya sederhana, tapi bebannya tidak ringan. Di sana, setiap orang punya peran. Setiap keputusan ikut memengaruhi suasana rumah.
Fairuz merasa dekat dengan peran Bilqis
Fairuz mengaku tidak kesulitan menjalankan tokoh Bilqis. Ia menyebut ada kemiripan dengan kehidupannya sendiri saat mengurus anak di rumah.
“Ada kesamaan juga dengan kehidupan nyata kalau kita lagi di rumah punya anak ya ngatur anak-anak di rumah,” kata Fairuz saat ditemui di ANTARA Heritage Center.
Bedanya, kata dia, Bilqis harus menghadapi lebih banyak anak dan juga mengamati kebiasaan para pengasuh di yayasan. Detail kecil seperti itu justru membuat karakter terasa hidup. Fairuz harus membaca situasi, menakar emosi, lalu menjaga nada agar Bilqis tampil sebagai ibu yang ceria dan ceriwis, sesuai naskah.
Di titik inilah tantangan muncul. Karakter yang terlihat ringan di atas kertas belum tentu mudah dimainkan. Ia mesti menunjukkan energi, tapi tidak berlebihan. Ia harus dekat, tapi tetap punya lapisan emosi yang terasa.
Sonny Septian bawa tantangan psikologis lewat Baskara
Sonny Septian mendapat medan yang berbeda. Ia berperan sebagai Baskara, suami yang merasa sakit dan menganggap dirinya tidak mampu menjalani hidup dengan baik. Yang sakit bukan tubuhnya, melainkan pikirannya.
Sonny menjelaskan bahwa tantangan utamanya ada pada cara membuat penonton percaya bahwa Baskara benar-benar sedang bergulat dengan kondisi psikologis itu. “Padahal yang sakit itu di pikiran dia, tapi dia selalu merasa organ tubuh sakit,” ujarnya.
Peran seperti ini membutuhkan ritme yang hati-hati. Terlalu tenang, penonton tidak menangkap konflik. Terlalu dramatis, karakternya bisa jatuh jadi berlebihan. Sonny harus menjaga keseimbangan agar rasa sakit batin Baskara sampai ke layar tanpa terasa dibuat-buat.
Karena itu, ia dan Fairuz melakukan reading ekstra di rumah. Mereka tidak hanya membaca dialog, tapi juga membedah hubungan suami istri yang menjadi tulang punggung cerita. Proses itu penting, sebab chemistry pasangan di layar sering kali lebih kuat saat aktor benar-benar memahami konflik satu sama lain.
Kenapa film ini relevan buat penonton
Soal keluarga, penonton Indonesia biasanya cepat merasa dekat. Ada anak, ada orang tua, ada tanggung jawab, ada rumah yang harus dijaga tetap hangat. Anak-Anak Bambu masuk ke ruang itu dengan menawarkan drama yang akrab, tapi punya lapisan emosional lebih dalam lewat kondisi Baskara dan peran Bilqis di tengah kehidupan Rumah Bambu Abah.
Buahnya bisa terasa di banyak sisi. Untuk penonton, film ini memberi cerita yang hangat sekaligus mengajak melihat ulang arti rumah.
Untuk industri film Indonesia, kehadiran pasangan selebritas seperti Fairuz dan Sonny bisa menarik penonton yang selama ini mengikuti perjalanan mereka di televisi maupun media sosial.
Nama yang sudah dikenal sering jadi pintu masuk, sementara cerita yang kuat jadi alasan penonton bertahan sampai akhir.
Di level yang lebih luas, film bertema keluarga seperti ini juga punya ruang tersendiri di bioskop Indonesia. Ia tidak bergantung pada ledakan visual. Ia bertumpu pada hubungan antartokoh, dialog, dan situasi emosional yang dekat dengan keseharian. Itu yang membuat promosi film semacam ini penting.
Penonton perlu tahu sejak awal: ini bukan sekadar reuni pasangan selebritas di satu judul, melainkan cerita tentang rumah, pengasuhan, dan beban batin yang saling terkait.
Deretan pemain dan jadwal tayang Anak-Anak Bambu
Selain Fairuz A. Rafiq dan Sonny Septian, daftar pemeran film Anak-Anak Bambu juga memuat Ayushita, Egi Fahrezi, Abah Djatniko, Muhammad Adhiyat, Rency Milano, Virzha Adi Nugroho, dan Ramzi Al Muzaki. Nama-nama ini memperkuat kesan bahwa film tersebut mengandalkan ensemble cast, bukan hanya dua tokoh utama.
Jadwal tayangnya sudah jelas. Film produksi Theana Pictures itu akan hadir di bioskop mulai 23 Juli 2026. Bagi penonton yang menyukai drama keluarga dengan nuansa hangat, tanggal itu bisa jadi penanda yang mudah diingat.
Satu angka saja sudah cukup menggambarkan skala kisahnya: 50 anak yatim tinggal di Rumah Bambu Abah. Dari sana, konflik dan kehangatan Anak-Anak Bambu bergerak.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.