Rabu, 8 Juli 2026 WIB
BREAKING
POLITIK PEMERINTAHAN

Persidangan Impeachment Sara Duterte Uji Demokrasi Filipina

Persidangan Impeachment Sara Duterte Uji Demokrasi Filipina
Foto: Thom Gonzalez/Pexels

MANILA — Sidang impeachment Wakil Presiden Filipina Sara Duterte dimulai Senin lalu dengan pertaruhan besar: kredibilitas demokrasi negara itu sendiri. Pengadilan senat 92 hari ini bisa menentukan siapa yang memenangkan pertarungan dua dinasti paling berpengaruh di Filipina dan membuka atau menutup pintu kepresidenan bagi Duterte pada 2028.

Lebih dari 6.000 polisi, termasuk skuad anti-huru-hara, dikerahkan untuk menjaga gedung senat. Di sekitarnya, puluhan penunjuk rasa berdiri berhadapan dengan pendukung Duterte.

Suasana tegang mencerminkan taruhan politiknya: jika divonis bersalah atas dakwaan korupsi, penyalahgunaan dana publik, dan ancaman pembunuhan terhadap Presiden Ferdinand “Bongbong” Marcos Jr., Duterte bisa selamanya terlarang menjabat publik.

Duterte tidak hadir secara langsung, diwakili kuasa hukumnya. Pertahanannya sederhana namun tajam: kasus ini dimotori oleh ambisi politik, bukan bukti nyata. Momen ini, kata akademisi, akan menunjukkan apakah institusi demokrasi Filipina masih kuat atau sudah tergerus oleh permainan dinasti.

Dewan Rendah Sudah Putuskan: Impeach

Jalan Duterte ke persidangan ini dimulai di Dewan Perwakilan yang didominasi sekutu Marcos Jr. Pada Mei, ruang ini memvonis dengan tegas: 257 suara mendukung impeachment, hanya 25 menolak, sembilan abstain. Dakwaan mencakup pengayaan diri terselubung, aset tanpa penjelasan jelas, penyogokan pejabat, dan ancaman terbuka membunuh presiden—tokoh yang dulunya sekutu sebelum hubungan mereka meledak.

Juru dakwa, Gerville Luistro, menegaskan: “Ini saatnya republik menunjukkan hukum berlaku sama untuk yang berkuasa dan yang lemah.” Sebaliknya, Sheila Sison dari tim pertahanan Duterte berkata persidangan harus “dijaga agar tidak disalahgunakan.”

Angka-angka itu mencerminkan belahan: dinasti Marcos vs. dinasti Duterte, masing-masing menggenjot armada sekutu legislatif mereka.

Dua Dinasti, Satu Negara yang Terpecah

Sara Duterte naik ke kursi wakil presiden pada 2022 sebagai running mate Marcos Jr. Dia adalah putri Rodrigo Duterte, presiden dari 2016-2022 yang terkenal dengan kampanye anti-narkoba yang mematikan. Sebelumnya, dia walikota Davao selama bertahun-tahun—bastion kekuatan keluarganya.

Tapi perpecahan cepat datang. Duterte tuduh Marcos Jr. berkomplot dengan Mahkamah Pidana Internasional untuk menangkap ayahnya atas kejahatan terhadap kemanusiaan terkait kampanye narkoba mematikan itu. Pada Februari, Duterte formal umumkan pencalonan presiden 2028. Momen itu: tantangan terbuka.

Jean Franco, profesor ilmu politik Universitas Filipina, menjelaskan paradoks Filipina: “Politik di sini didominasi keluarga, bukan partai stabil. Kita punya koalisi, bukan platform ideologis.” Artinya, lembaga demokrasi sering menjadi medan pertaruhan pribadi, bukan prinsip.

Popularitas Tetap Kuat, Tapi Retak di Generasi Muda

Survei Maret menunjukkan 51% pemilih masih ingin Duterte jadi presiden—angka mengagumkan di tengah badai impeachment. Namun ada celah mengkhawatirkan: kepuasan bersih Duterte di kalangan 18-24 tahun jatuh 16 poin, dari +49 menjadi +33, dalam lima bulan terakhir.

Frank Araneta, mahasiswa 20 tahun dan wakil sekretaris jenderal Akbayan Youth, menangkap sentimen itu: “Kami merasa hanya ‘dekorasi’ bagi politisi yang ingin pamer demografi muda. Isu yang penting untuk kami—pendidikan, akuntabilitas, bubarkan dinasti—selalu ditinggalkan.”

Kalimatnya itu nyata. Sementara sidang berlangsung, generasi muda Indonesia dan Filipina—yang menyaksikan lewat media sosial—mulai bertanya: apakah sistem demokrasi kami benar-benar melayani keadilan, atau hanya panggung dinasti?

92 Hari yang Akan Ubah Filipina

Dino de Leon, pengacara hak asasi, melihat implikasi lebih luas: “Terlepas dari vonis, ini uji kekuatan dinasti Duterte.” Jika Duterte divonis, dia hilang 2028. Jika dibebaskan, Marcos Jr. terlihat lemah—merusak strategi 2028-nya sendiri.

Netizen Filipina menjuluki saga ini “#SenateFlix,” merancau dengan adegan dramatis: seorang senator dan bekas kepala polisi Ronald dela Rosa kabur dari surat perintah ICC. Persidangan menjadi hiburan dan tragedi sekaligus.

Bagi banyak Filipino, khususnya muda, 92 hari ini bukan hanya tentang Sara Duterte. Ini tentang apakah demokrasi mereka sungguh ada, atau hanya panggung tipuan.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda