Jumat, 10 Juli 2026 WIB
BREAKING
POLITIK PEMERINTAHAN

Golkar soal Sikap PDIP Partai Penyeimbang: Rakyat yang Menilai

Logo Partai Golkar dan PDIP dengan latar belakang gedung pemerintah
Partai Golkar merespons sikap PDI Perjuangan sebagai partai penyeimbang tanpa mempersoalkan. Masing-masing partai memiliki visi berbeda dalam sistem presidensial Indonesia. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Partai Golkar membiarkan PDI Perjuangan menentukan posisi politiknya sendiri. Sekretaris Jenderal Golkar Sarmuji mengatakan partainya tidak akan mempersoalkan pilihan PDIP menjadi partai penyeimbang dalam sistem pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

“Terserah PDI Perjuangan saja, mau posisi apa silakan saja. Nanti rakyat yang menilai,” ujar Sarmuji saat dihubungi Kamis (9 Juli).

Respons santai itu keluar setelah Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menerbitkan surat internal tertanggal 1 Juli yang menjelaskan basis konstitusional dan teoretis penempatan partainya sebagai penyeimbang—bukan oposisi atau anggota koalisi kabinet.

Golkar: Hormat Pilihan Politik PDIP

Sarmuji menegaskan Golkar menghormati keputusan itu. Namun ia juga menyisipkan definisi sendiri tentang apa itu politik.

“Kami menghormati saja. Tapi kalau saya sendiri, politik adalah sikap dan tindakan,” katanya. Pernyataan itu secara halus menunjukkan bahwa Golkar—yang merupakan bagian dari koalisi kabinet Merah Putih—menilai posisi bukan hanya soal deklarasi, melainkan konsistensi dalam aksi nyata.

Sikap Golkar ini mencerminkan kepraktisan dalam dinamika koalisi. Meski sering terdapat ketegangan internal, partai ini memilih tidak memicu kontroversi lebih lanjut dengan PDI Perjuangan. Keputusan itu sejalan dengan strategi Golkar untuk tetap mempertahankan stabilitas pemerintahan tanpa perlu melakukan konfrontasi terbuka dengan fraksi oposisi.

Megawati: Penyeimbang Adalah Konsep Konstitusional

Dalam surat bernomor 1275/IN/DPP/VI/2026 yang diteken 1 Juli dan telah diverifikasi Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat, Megawati menguraikan alasan tekstual mengapa PDIP memilih posisi itu.

Ia menunjuk sistem presidensial Indonesia yang—berbeda dari sistem parlementer—tidak mengenal kategori oposisi dan koalisi dalam konstitusi. Dalam logika presiden dan legislatif yang terpisah, keberlangsungan pemerintahan tidak bergantung pada dukungan mayoritas DPR. Presiden hanya dapat dijatuhkan melalui mekanisme pemakzulan (impeachment), bukan melalui pemungutan suara kepercayaan parlemen.

“Demokrasi Indonesia bukanlah demokrasi blok-blokan kekuasaan, melainkan demokrasi yang bertumpu pada kedaulatan rakyat dan supremasi konstitusi,” tulis Megawati dalam surat itu.

Pengertian ini telah Megawati sampaikan sejak Kongres VI PDIP di Kabupaten Badung, Bali, 1 Agustus 2025. Pada kesempatan itu, ia sudah menegaskan bahwa Indonesia tidak mengenal istilah oposisi dan koalisi sebagai kategori ketatanegaraan yang diatur konstitusi.

Fondasi Teori: Responsible Opposition Sartori

Megawati memperkuat argumen dengan mengutip pemikiran ilmuwan politik Giovanni Sartori dari bukunya Parties and Party Systems: A Framework for Analysis (1976). Sartori memperkenalkan konsep “responsible opposition”—oposisi yang tidak sekadar menolak dan mengkritik, tetapi memiliki kesadaran membawa tanggung jawab terhadap kelangsungan sistem pemerintahan.

Dengan pemahaman itu, Sartori membedakan oposisi yang bertanggung jawab dari “irresponsible opposition”—yakni pihak yang menjadikan penolakan sebagai tujuan tanpa memperhitungkan dampak stabilitas negara dan kesejahteraan rakyat.

“Atas dasar pemahaman konstitusional, pengalaman historis, dan landasan teoretis tersebut, PDI Perjuangan menggunakan istilah ‘partai penyeimbang’,” tulis Megawati.

Makna Sebenarnya: Daya Koreksi Demokrasi

Dalam konteks yang lebih luas, posisi penyeimbang menurut Megawati memiliki tujuan strategis. Tanpa adanya kekuatan penyeimbang, demokrasi akan kehilangan daya korektifnya—kemampuan untuk mengawasi dan mengarahkan kekuasaan agar tetap sejalan dengan kepentingan rakyat.

Istilah “penyeimbang” itu sendiri bukan pilihan taktis sesaat berdasarkan dinamika kekuasaan. Sebaliknya, ia merupakan pilihan prinsipial yang didasarkan pada pemahaman mendalam tentang sistem ketatanegaraan Indonesia.

PDIP berkomitmen untuk tetap kritis dan memberikan koreksi kepada pemerintahan Prabowo, namun tanpa menempatkan diri dalam kategori legal “oposisi resmi” yang tidak dikenal dalam konstitusi presidensial.

Respons Politik: Fokus ke Rakyat

Respon Sarmuji yang menyerahkan penilaian kepada rakyat menunjukkan bahwa perdebatan posisi partai ini—meski penting secara akademis dan konstitusional—pada akhirnya akan diukur dari hasil konkret. Apakah PDIP benar-benar menjalankan fungsi penyeimbang dengan kritis namun bertanggung jawab, atau semata retorika politis tanpa substansi?

Pertanyaan itu akan terjawab dalam kurun waktu ke depan ketika PDIP menghadapi keputusan kebijakan pemerintahan Prabowo. Apakah partai itu akan menunjukkan daya koreksi yang nyata—melalui pernyataan, voting di DPR, atau tindakan lain—atau akan bersikap abu-abu seperti yang beberapa pihak khawatirkan.

Untuk saat ini, Golkar memilih bergerak pragmatis: menghormati posisi PDIP tanpa membuka konflik, sambil tetap menekankan bahwa dalam dunia nyata, politik adalah tindakan nyata—bukan sekadar deklarasi.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda