Bagi pembaca di Indonesia, peristiwa ini relevan karena banyak wilayah pegunungan di Tanah Air menghadapi masalah serupa: pembukaan lahan, penambangan, pemotongan tebing, dan pembangunan di lereng yang tidak stabil. Bencana tidak selalu datang semata karena hujan. Kadang, manusia ikut mempercepatnya.
Korban masih dicari, angka bisa berubah
Hingga laporan terakhir yang dihimpun DW, petugas menyebut lebih dari 10 orang masih mungkin tertimbun. NDTV melaporkan angka itu berdasarkan keterangan pejabat di lapangan. Namun, jumlah korban jiwa masih berpotensi berubah karena operasi pencarian terus berjalan dan akses ke titik longsor belum sepenuhnya aman.
Di sisi lain, Al Jazeera dalam pembaruan terpisah melaporkan jumlah korban tewas bisa mencapai sedikitnya lima orang. Perbedaan angka seperti ini lazim pada jam-jam pertama bencana besar, saat data dari rumah sakit, petugas lapangan, dan pemerintah belum sepenuhnya sinkron. Yang pasti, situasinya belum selesai.
Kerusakan di Wayanad juga mengingatkan publik pada longsor besar tahun lalu di wilayah yang sama. Pada 2024, lebih dari 250 orang dilaporkan tewas akibat longsor yang dipicu hujan monsun deras. Kala itu, mantan Chief Minister Pinarayi Vijayan menyebutnya sebagai salah satu bencana alam terburuk yang pernah dialami Kerala.
Karena itu, perhatian kini tertuju pada dua hal: penyelamatan korban yang kemungkinan masih tertimbun dan evaluasi atas aktivitas pembangunan di kawasan rawan. Jika dugaan unsur kelalaian benar, pertanyaan tentang siapa yang bertanggung jawab akan ikut membesar. Bukan hanya soal cuaca.
“Kami bergerak untuk memastikan semua operasi penyelamatan dilakukan segera,” kata Chief Minister VD Satheeshan melalui X. “Tidak boleh ada penundaan.”

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.