Biaya transaksi saham di BEI terdiri dari fee ke sekuritas dan pajak jual ke negara. Angkanya bisa berbeda antarperusahaan, tapi kisaran dasarnya relatif serupa.
| Jenis biaya | Besaran |
|---|---|
| Fee beli | 0,15% – 0,25% |
| Fee jual | 0,25% – 0,35% |
| Pajak jual | 0,1% final |
Data biaya ini penting karena memengaruhi hasil investasi, terutama untuk transaksi jangka pendek. Investor yang sering keluar-masuk saham biasanya lebih sensitif terhadap fee dan pajak dibanding investor yang menahan saham lebih lama.
Dampak langsung bagi investor ritel
Bagi investor ritel, kemudahan buka akun dan modal awal yang rendah membuat pasar saham makin terjangkau. Akibatnya, anak muda, pekerja kantoran, sampai pemula yang baru belajar investasi bisa masuk tanpa harus menunggu tabungan besar. Jalurnya juga lebih transparan karena semua proses tercatat di aplikasi dan terhubung ke sistem sekuritas resmi.
Tapi kemudahan itu juga punya konsekuensi. Investor yang buru-buru sering terjebak membeli saham hanya karena ramai dibicarakan, lalu panik saat harga turun. Di pasar modal, keputusan tetap harus berbasis data perusahaan, bukan sekadar ikut arus. Saham bank besar seperti BBCA, BBRI, TLKM, UNTR, dan ASII sering dipilih pemula karena likuid dan dikenal lebih stabil dibanding saham berisiko tinggi.
Fraksi harga baru dan pilihan saham awal
Mulai 2026, BEI memakai fraksi harga baru. Untuk saham di bawah Rp200, perdagangan bisa bergerak per Rp1, sehingga harga lebih fleksibel di level bawah. Ini memberi ruang yang lebih rapat untuk penawaran di saham murah, meski investor tetap perlu memahami risikonya.
Kalau baru mulai, saham blue chip di indeks LQ45 sering dipakai sebagai pintu masuk. Likuiditasnya tinggi, laporan keuangannya mudah diakses, dan pergerakan harganya cenderung tidak seacuh saham gorengan. Untuk langkah awal, disiplin jauh lebih penting daripada mengejar untung cepat.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.