Di lapangan, situasinya jauh dari stabil. Centcom mengatakan operasi terbaru merupakan gelombang ketiga serangan AS pekan ini. Dalam satu hari terakhir, militer AS mengklaim telah menghantam ratusan titik yang dikaitkan dengan kemampuan rudal, drone, kapal perang, hingga sistem pengawasan Iran.
Dampak langsung ke kawasan dan publik
Bagi warga sipil dan dunia usaha, yang paling terasa bukan hanya dentuman rudal. Pengiriman barang bisa tertahan, premi asuransi naik, dan kapal niaga memilih memutar rute untuk menghindari area rawan. Negara-negara pengimpor energi juga harus menghitung ulang cadangan dan ongkos pengadaan.
Di Qatar, Kementerian Dalam Negeri menyebut tiga orang, termasuk satu anak, terluka akibat puing dari upaya pencegatan serangan. Di Kuwait, militer disebut sedang menghadapi target udara di wilayah udara mereka, sementara kementerian luar negeri negara itu mengecam serangan Iran sebagai eskalasi berbahaya yang melanggar kedaulatan dan Piagam PBB.
Rantai balas-serang ini juga menekan jalur diplomasi yang sebelumnya masih terbuka. Iran, melalui wakil negosiator utamanya Mohammad Bagher Ghalibaf, menulis di X bahwa “era kesepakatan sepihak telah berakhir” dan menegaskan Teheran akan membuat pengaturan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, merujuk pada dokumen yang ia unggah bersama unggahan itu.
Dengan serangan yang meluas ke Iran, Oman, Qatar, Kuwait, dan perairan strategis Teluk, pasar kini menunggu apakah pihak-pihak terkait masih punya ruang untuk menahan konflik agar tidak berubah jadi perang regional penuh. Seorang pejabat AS yang dikutip Axios menyebut Washington ingin “membebankan biaya berat” agar Iran tidak leluasa menyerang kapal dagang di selat tersebut.
“The United States is imposing a heavy cost,” kata pejabat itu. Kalimat yang singkat. Tapi sinyalnya jelas: tekanan belum berhenti, dan jalur laut paling penting di kawasan itu masih berada di ujung tanduk.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.