Rabu, 8 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI BISNIS

Rupiah Tertekan Eskalasi Geopolitik Timur Tengah, Cadangan Devisa Jadi Penopang

Rupiah Tertekan Eskalasi Geopolitik Timur Tengah, Cadangan Devisa Jadi Penopang
Foto: Ahsanjaya/Pexels

JAKARTA — Nilai tukar rupiah pada Rabu pagi bergerak melemah di tengah memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah. Rupiah tercatat turun 4 poin atau 0,02 persen menjadi Rp17.984 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.980 per dolar AS.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan eskalasi geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang menekan pergerakan rupiah. Ketegangan kawasan kerap memicu kekhawatiran pasar dan mendorong pelaku pasar mencari aset yang dinilai lebih aman.

“Penyerangan besar AS ke Iran sebagai balasan atas serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz,” ujar Lukman kepada ANTARA di Jakarta, Rabu, menjelaskan pemicu ketegangan terbaru di kawasan.

Mengutip Sputnik, Amerika Serikat melancarkan serangkaian serangan baru ke Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut operasi tersebut merupakan respons atas serangan Iran terhadap tiga kapal dagang di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia.

Pada Selasa, laporan media nasional Iran, IRIB, menyebutkan sebuah kapal Qatar bernama Al-Rekayyat berusaha melewati Selat Hormuz melalui jalur Oman dengan dukungan Angkatan Laut AS. Kapal tersebut kemudian menjadi sasaran serangan setelah sejumlah peringatan disampaikan.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi lalu lintas energi global. Setiap gangguan di kawasan ini berpotensi memengaruhi harga minyak dunia sekaligus menimbulkan gejolak di pasar keuangan, termasuk nilai tukar mata uang negara berkembang.

Cadangan Devisa Jadi Penopang

Di sisi lain, rupiah mendapat sokongan dari data cadangan devisa Indonesia yang meningkat. Bank Indonesia melaporkan posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2026 mencapai 145,6 miliar dolar AS.

Angka tersebut naik tipis sebesar 700 juta dolar AS dari posisi akhir Mei 2026 yang sebesar 144,9 miliar dolar AS. Kenaikan ini menjadi sinyal positif bagi ketahanan eksternal perekonomian Indonesia di tengah tekanan global.

Menurut Bank Indonesia, perkembangan posisi cadangan devisa pada Juni 2026 terutama didorong oleh penerimaan pajak dan jasa. Cadangan devisa yang memadai penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan memenuhi kebutuhan pembiayaan.

Perkembangan tersebut terjadi di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar yang ditempuh otoritas moneter. Bank sentral secara berkala hadir di pasar untuk meredam volatilitas yang berlebihan.

Para pelaku pasar diperkirakan akan terus mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah sebagai penentu arah sentimen jangka pendek. Selama ketegangan berlanjut, tekanan terhadap mata uang negara berkembang berpotensi bertahan.

Meski demikian, fondasi ekonomi domestik yang relatif terjaga diharapkan mampu menahan pelemahan lebih dalam. Kombinasi antara cadangan devisa yang kuat dan kebijakan stabilisasi menjadi bantalan penting bagi rupiah menghadapi gejolak eksternal.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram