JAKARTA — Jumlah satelit di orbit bumi rendah (LEO) kini melonjak drastis, menyentuh angka lebih dari 14.000 unit dan terus bertambah setiap bulan. Fenomena ini menciptakan masalah serius bagi para astronom karena pantulan cahaya satelit sering mengganggu observasi benda-benda langit.
Langit malam yang tadinya menjadi jendela pengamatan semesta bagi umat manusia, kini perlahan terganggu oleh polusi cahaya buatan.
Tim peneliti dari University of Surrey, Inggris, mengusulkan sebuah inovasi material untuk mengatasi tantangan tersebut. Mereka menguji efektivitas Vantablack 310, salah satu material hitam paling pekat yang pernah dikembangkan, sebagai pelapis badan satelit. Uji laboratorium menunjukkan hasil menjanjikan dengan hanya memantulkan 2 persen cahaya yang mengenai permukaannya.
Efek Vantablack 310 bagi Astronomi
Astrosfisikawan Astha Chaturvedi menyebut bahwa pemilihan material sederhana ini dapat memberikan dampak besar pada pengamatan astronomi tanpa harus merombak desain misi satelit secara ekstrem.
Dalam pengujian simulasi, satelit yang dilapisi Vantablack 310 mencatatkan skala magnitudo antara 6,7 hingga 7,0. Sebagai informasi, angka magnitudo yang lebih tinggi menunjukkan objek yang lebih redup, sehingga lebih aman bagi pengamatan teleskop.
Hasil ini jauh melampaui kinerja satelit konvensional yang tidak dilapisi cat khusus. Sebagai perbandingan, satelit SpaceX tanpa pelapis mencatat angka magnitudo 3,7 yang jauh lebih terang dan lebih mengganggu.
Bahkan, saat disandingkan dengan solusi serupa seperti DarkSat atau VisorSat, Vantablack 310 terbukti mampu menandingi atau memberikan performa yang lebih baik dalam meredam pantulan cahaya.
Penggunaan mikroskop elektron mengungkap rahasia di balik kemampuan ini. Permukaan satelit yang dilapisi Vantablack 310 memiliki tekstur unik menyerupai terumbu karang dengan depresi menyerupai rongga. Struktur fisik inilah yang secara efektif memerangkap cahaya, mencegahnya memantul kembali ke arah observatorium di Bumi.
Tantangan Validasi Luar Angkasa
Meskipun hasil uji laboratorium sangat impresif, para peneliti menekankan bahwa ini baru langkah awal. Studi tersebut fokus pada performa optik di bawah simulasi komputer. Penggunaan material ini di ruang angkasa yang ekstrem, dengan variasi suhu vakum dan radiasi tinggi, masih memerlukan pengujian ketahanan lingkungan yang lebih mendalam.
Penting untuk dicatat bahwa ketergantungan dunia modern terhadap satelit LEO, baik untuk sistem telekomunikasi maupun pusat data AI, tidak bisa dihentikan. Tanpa adanya tindakan mitigasi, pengamatan astronomi akan menghadapi hambatan permanen. Langkah nyata dari riset ini kini berlanjut pada misi satelit CubeSat bernama Jovian-1.
Melalui misi tersebut, tim akan mengambil pengukuran nyata dari daratan saat satelit berada di orbit. Jika validasi ini berhasil, penggunaan cat ultra-hitam bisa menjadi standar industri baru untuk menjaga langit malam tetap bersih bagi pengamat astronomi sekaligus mendukung keberlangsungan infrastruktur komunikasi global di masa depan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.