DENPASAR — Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS) bukan hanya soal disiplin kerja. Di Bali, momentum ini berakar pada nilai budaya yang menempatkan ayah sebagai pembimbing utama keluarga—sosok yang mewariskan adat, dharma, dan karakter kepada generasi berikutnya.
Kepala Perwakilan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (BKKBN) Bali, Ni Luh Gede Sukardiasih, melihat respons positif pada hari pertama tahun ajaran 2026 yang berlangsung Senin (13/7). Pantauan di sejumlah sekolah menunjukkan peningkatan keterlibatan ayah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, meski ibu tetap menjadi pengantar utama di banyak keluarga.
“Dari laporan berbagai daerah di Bali, terlihat jelas semakin banyak ayah yang hadir secara langsung. Memang belum mendominasi, tapi yang menggembirakan adalah kesadaran mereka untuk mengasuh dan mendidik anak,” ujar Sukardiasih di Denpasar, Senin.
Simbol Komitmen, Bukan Sekadar Ritual
BKKBN Bali memandang kehadiran ayah di hari pertama sekolah lebih dari sekadar tradisi. Ini adalah simbol komitmen nyata untuk terlibat dalam tumbuh kembang anak setiap hari, bukan hanya pada momen spesial itu saja. Investasi waktu pagi yang singkat, menurut Sukardiasih, adalah investasi bernilai tinggi bagi masa depan anak.
Keterlibatan ayah dalam pengasuhan di Bali terbukti berkontribusi pada perkembangan emosional anak, prestasi akademik, dan pembentukan karakter yang lebih solid. “Semangat budaya ini yang ingin terus kita hidupkan melalui GAMAS,” katanya.
Pesan ini sejalan dengan dukungan serupa dari pemerintah daerah lain—Aceh, DKI Jakarta, dan seluruh Indonesia—yang juga menggalakkan gerakan yang sama dengan edaran resmi.
Fleksibilitas Kerja: Keseimbangan Tanpa Kompromi
Potensi benturan antara jadwal kerja pagi dan jam masuk sekolah bukanlah dilema yang perlu dipertentangkan. Pemerintah Bali, melalui Surat Edaran Sekretaris Daerah tentang fleksibilitas jam kerja ASN pada hari pertama sekolah, menunjukkan bahwa keduanya bisa berjalan beriringan.
Di DKI Jakarta, Gubernur Pramono Anung menetapkan bahwa ASN dapat mengantar anak ke sekolah hingga pukul 12.00 WIB selama hari pertama sekolah berlangsung (13-15 Juli 2026).
Kebijakan serupa diterapkan di berbagai daerah, mencerminkan komitmen pemerintah pusat dan daerah bahwa pengasuhan anak bukan urusan keluarga semata—ini adalah bagian dari upaya membangun sumber daya manusia berkualitas nasional.
Sukardiasih menekankan bahwa fleksibilitas ini tidak mengurangi produktivitas aparatur sipil negara. Sebaliknya, kebijakan memberikan ruang kepada orang tua—khususnya ayah—untuk hadir pada momen krusial bagi perkembangan emosional anak. “GAMAS tidak mendorong orang tua meninggalkan pekerjaan, melainkan mengajak institusi memberikan ruang melalui pengaturan kerja yang lebih fleksibel,” jelasnya.
Konteks Budaya Lokal, Gerakan Nasional
Sementara gerakan ini berkembang di seluruh Indonesia, Bali memiliki keunikan. Nilai budaya Balinese yang menempatkan ayah sebagai pembimbing utama keluarga—bukan sekadar pencari nafkah—membuat GAMAS tidak terasa asing. Justru, gerakan ini memperkuat kembali peran tradisional yang mulai memudar di era modern.
Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, melihat kehadiran ayah di hari pertama sekolah sebagai langkah membangun hubungan emosional antara orang tua, anak, dan pihak sekolah. Ini juga momentum menyelaraskan pembinaan karakter antara rumah dan sekolah—kolaborasi yang sering terputus dalam rutinitas kerja orang tua modern.
Di lapangan, respons sekolah dan keluarga positif. Banyak ayah menggunakan momen ini untuk mengenal guru dan lingkungan sekolah anak secara langsung. Kehadiran mereka, sekecil apa pun dampak langsung di hari itu, mengirimkan sinyal kuat kepada anak: ayah peduli dengan pendidikan dan perkembangan mereka. Pesan itu lebih bermakna daripada sekadar antar-jemput rutin.
“Ini adalah investasi dalam hubungan keluarga dan pembangunan karakter generasi penerus,” kata Sukardiasih, menutup pandangannya tentang GAMAS sebagai gerakan yang sejalan dengan budaya lokal sekaligus kebutuhan nasional untuk merevitalisasi peran ayah dalam pengasuhan anak di Indonesia.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.