Selasa, 14 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Laba Bank Mega Syariah Naik 17,56 Persen hingga Juni 2026

Grafik pertumbuhan laba Bank Mega Syariah mencapai 17,56 persen di 2026
Bank Mega Syariah mencatatkan pertumbuhan laba sebelum pajak sebesar 17,56 persen pada semester I 2026. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — PT Bank Mega Syariah mencatatkan kinerja keuangan yang solid sepanjang paruh pertama tahun ini. Laba sebelum pajak perseroan menanjak 17,56 persen secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi lebih dari Rp137 miliar per Juni 2026, naik dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang berada di angka Rp117 miliar.

Kenaikan profitabilitas ini beriringan dengan ekspansi penyaluran pembiayaan yang kini telah menembus angka Rp10 triliun. Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan lebih dari 6 persen jika dibandingkan posisi Juni 2025. Perolehan ini menunjukkan kemampuan bank dalam menjaga mesin pertumbuhan tetap menyala meski kondisi ekonomi nasional dibayangi oleh kebijakan moneter yang ketat.

Ekspansi pada Sektor Komersial dan Ritel

Corporate Secretary Division Head Bank Mega Syariah, Hanie Dewita, mengungkapkan bahwa pertumbuhan pembiayaan menjadi motor utama dalam mendongkrak performa perusahaan. Fokus penyaluran dana perseroan terkonsentrasi pada segmen komersial, terutama corporate banking dan business banking, yang dikombinasikan dengan penetrasi ritel melalui pembiayaan konsumer serta produk Syariah Card.

Data internal menunjukkan segmen komersial membukukan outstanding pembiayaan lebih dari Rp5,96 triliun hingga akhir Juni 2026. Angka ini melonjak lebih dari 15 persen secara year to date (ytd).

Kontribusi terbesar datang dari corporate banking yang mencapai Rp4,5 triliun, atau tumbuh 16 persen dari posisi akhir 2025. Sementara itu, business banking tercatat naik sekitar 12 persen menjadi Rp1,45 triliun.

Di sisi ritel, lonjakan signifikan terlihat pada produk Syariah Card. Outstanding pembiayaan produk ini mencapai lebih dari Rp325,4 miliar, melonjak tajam lebih dari 67 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Di sisi lain, pembiayaan konsumer juga mencatatkan kenaikan 17,73 persen secara tahunan dengan total Rp601 miliar.

Struktur Dana dan Dampak Makro

Selain kinerja pembiayaan, perseroan melakukan perbaikan pada struktur pendanaan guna menyeimbangkan neraca keuangan. Dana Pihak Ketiga (DPK) ritel menyentuh angka Rp5,84 triliun pada Juni 2026, atau meningkat lebih dari 3,6 persen dibandingkan posisi bulan sebelumnya. Pertumbuhan DPK ini didorong oleh kenaikan dana giro sebesar 24,03 persen dan tabungan yang naik 10 persen secara tahunan.

Strategi penguatan fundamental ini menjadi krusial saat industri perbankan nasional menghadapi tantangan suku bunga tinggi.

Di tengah tekanan BI Rate yang bertujuan menjaga nilai tukar rupiah, sektor keuangan syariah dituntut untuk lebih efisien dalam mengelola biaya dana sekaligus menjaga kualitas aset.

Kondisi suku bunga yang menanjak memang menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi daya beli masyarakat dan minat kredit di sektor properti yang sangat sensitif terhadap perubahan beban cicilan.

Hanie menegaskan komitmen perusahaan untuk terus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi biaya dana, dan kualitas portofolio pembiayaan. “Strategi ini penting agar Bank Mega Syariah dapat terus tumbuh secara sehat serta memberikan layanan keuangan syariah yang semakin relevan bagi masyarakat,” ujarnya.

Keberhasilan bank dalam mempertahankan pertumbuhan di tengah dinamika pasar keuangan saat ini mencerminkan resiliensi model bisnis berbasis syariah. Dengan menjaga rasio pembiayaan yang sehat, perusahaan berupaya untuk tetap memberikan kontribusi berkelanjutan terhadap profitabilitas di sisa tahun 2026.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda