JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Rupiah sempat terpuruk ke Rp17.704 per dolar AS pada pertengahan Mei 2026, titik terlemah sepanjang tahun ini. Tapi Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan kini sama-sama menyebut Juli sebagai titik balik.
Gubernur Bank Indonesia memproyeksikan rupiah berpeluang menguat mulai Juli–Agustus 2026. Alasannya sederhana: tekanan musiman yang selama ini menguras pasokan dolar sudah mereda. Sepanjang kuartal II, permintaan valas melonjak tajam seperti ada pembayaran biaya haji, repatriasi dividen perusahaan ke investor asing, impor BBM, hingga cicilan utang pemerintah yang menumpuk. Setelah semua itu selesai, tekanan terhadap rupiah diperkirakan jauh berkurang.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa senada. Dalam pernyataannya 10 Juni 2026, ia menyebut rupiah akan memasuki fase penguatan bertahap mulai Juli hingga Desember 2026 setelah sempat tertekan gejolak eksternal.
Catatan: Proyeksi ini disampaikan BI pada 19 Mei 2026 dan Menkeu pada 10 Juni 2026. Kurs bersifat fluktuatif. Data real-time tersedia di JISDOR BI.
Proyeksi Kurs Rupiah Juli 2026
Beberapa lembaga dan pejabat memberi angka yang cukup konkret:
| Lembaga/Narasumber | Proyeksi Juli 2026 | Keterangan |
|---|---|---|
| Bank Indonesia | Menuju Rp16.500/USD | Kisaran APBN Rp16.200–Rp16.800 |
| Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa | Menguat bertahap | Semester II 2026, mulai Juli |
| Dewan Energi Nasional (DEN) | Tekanan mereda | Setelah siklus pembayaran dividen selesai |
BI menegaskan target rata-rata Rp16.500 per dolar sepanjang 2026 masih dalam jangkauan, sesuai asumsi makro APBN 2026 yang dipatok di kisaran Rp16.200–Rp16.800.
Tiga Faktor di Balik Optimisme Juli
Pertama, siklus musiman. Kebutuhan dolar kuartal II memang selalu tinggi untuk haji, dividen, impor. Juli sudah keluar dari siklus itu, sehingga tekanan permintaan valas alami turun.
Kedua, koordinasi kebijakan. Pemerintah dan BI memperkuat sinergi lewat tiga jalur: pengelolaan devisa hasil ekspor (DHE), peningkatan pasokan valas di pasar domestik, dan pendalaman pasar keuangan untuk menarik lebih banyak investor institusi.
Ketiga, sinyal global yang sedikit membaik. Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed meski masih belum pasti kapan tetap menjadi angin segar bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.