JAKARTA — daylight saving time permanen di Amerika Serikat kembali selangkah lebih dekat jadi kenyataan setelah DPR AS meloloskan Sunshine Protection Act. Jika Senat ikut setuju, Negeri Paman Sam tak lagi dua kali setahun memutar jam maju dan mundur seperti selama ini.
Langkah itu penting bukan cuma buat pembuat kebijakan di Washington. Di banyak kota, keputusan ini akan ikut mengubah ritme sekolah, jam berangkat kerja, sampai kapan orang masih mendapat cahaya matahari di sore hari. Dan itu bukan urusan kecil.
Langkah besar yang belum pernah terjadi di DPR
Rancangan undang-undang bipartisan itu kini melaju ke Senat AS. Menurut laporan PBS NewsHour, inilah kemajuan terbesar sejauh ini untuk mengakhiri tradisi perubahan jam dua kali setahun yang selama puluhan tahun memicu debat panjang.
Scott Yates, pendiri Lock the Clock Alliance, menyebut momen ini sebagai terobosan yang belum pernah dicapai sebelumnya. “Kami belum pernah melihat ini lolos di DPR sebelumnya. Ini langkah besar maju,” kata Yates dalam wawancara dengan Geoff Bennett.
Ia juga menekankan dukungan lintas partai yang luas. Menurut Yates, suara dari Partai Republik dan Demokrat sama-sama terlihat kuat. “Dengan momentum seperti ini, kami bisa pergi ke Senat dan mengatakan, lihat, inilah yang diinginkan orang,” ujarnya.
Kenapa perdebatan ini tak kunjung selesai
Pokok sengketanya sederhana, tapi sensitif. Banyak orang setuju soal satu hal: mereka lelah memindahkan jam dua kali setahun. Namun soal waktu mana yang harus dipertahankan, kubu pendukung masih terbelah antara daylight saving time permanen dan waktu standar permanen.
Yates menyebut ada jalan tengah lewat masa transisi dua tahun. Gagasan itu memberi waktu bagi tiap negara bagian, dewan sekolah, dan pemangku kebijakan lokal untuk menilai jam mana yang paling cocok bagi mereka. “Tidak ada solusi sempurna yang cocok untuk semua negara bagian,” katanya.
Pendekatan itu juga jadi alasan mengapa beberapa negara bagian seperti Indiana dan Michigan kerap disebut dalam debat ini. Bagi Yates, kedua wilayah itu disebut lebih pas memakai waktu standar permanen. Tapi keputusan akhir, tegasnya, sebaiknya tetap berada di tangan negara bagian.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.