LONDON — Regulator media Inggris, Ofcom, resmi membuka investigasi TikTok pada Kamis, 16 Juli, untuk menilai apakah unit perusahaan di Inggris gagal atau sedang gagal melindungi anak-anak dari konten berbahaya.
Langkah ini muncul sebulan setelah pemerintah Inggris memberlakukan larangan penuh penggunaan media sosial bagi pengguna di bawah 16 tahun, disertai pembatasan pada platform gim dan siaran langsung. TikTok membantah melanggar aturan dan menyatakan sistemnya sudah memakai pembatasan usia serta teknologi inferensi umur yang canggih.
Investigasi TikTok dan fokus Ofcom
Ofcom menyebut pemeriksaannya akan menyorot dua hal utama: apakah TikTok memiliki cara yang memadai untuk mengenali apakah seorang pengguna masih anak-anak, dan apakah sistem serta proses internalnya cukup kuat untuk mencegah anak melihat konten yang berbahaya.
Regulator itu juga menegaskan bahwa pembukaan investigasi bukan berarti Ofcom sudah menyimpulkan ada pelanggaran. Artinya, tahap ini masih pencarian fakta. Tapi sinyalnya jelas. Inggris sedang menekan platform besar agar membuktikan bahwa keamanan anak benar-benar masuk ke desain produk, bukan sekadar slogan.
Pada Mei lalu, Ofcom sudah mengatakan TikTok belum menjabarkan langkah yang bermakna untuk melindungi anak-anak Inggris dari konten online berbahaya. Pernyataan itu jadi salah satu pijakan penting mengapa pengawasan kini meningkat. TikTok kini harus menunjukkan dokumen, sistem, dan praktik yang lebih konkret di hadapan regulator.
Tekanan regulasi makin kuat di Inggris
Kasus ini berdiri di atas gelombang kebijakan baru di Inggris. Pemerintah negara itu pada bulan lalu memperketat akses media sosial bagi anak di bawah 16 tahun. Pembatasan serupa juga menyentuh gim dan layanan live-streaming, yang dinilai ikut membawa risiko paparan konten tak pantas maupun interaksi yang sulit dikontrol.
Di Eropa, tekanan ke platform digital juga tidak ringan. CNBC melaporkan seorang pejabat kebijakan publik TikTok, Ali Law, mengeklaim platform itu memiliki lebih dari 50 pengaturan keamanan bawaan untuk pengguna di bawah 16 tahun.
CNBC juga mencatat TikTok kerap dikritik karena fitur yang dianggap adiktif, seperti gulir tanpa akhir dan putar otomatis. Di saat yang sama, Uni Eropa mendorong pembatasan akses media sosial untuk anak-anak.
Artinya, isu yang dihadapi TikTok bukan cuma soal satu negara. Ini sudah masuk ke percakapan yang lebih besar: sampai di mana tanggung jawab platform, dan sejauh mana pemerintah boleh ikut membatasi cara anak memakai aplikasi yang dibangun untuk konsumsi cepat dan terus-menerus.
Dampaknya ke pengguna, orang tua, dan industri aplikasi
Bagi keluarga di Inggris, investigasi ini bisa berdampak langsung pada cara anak mengakses aplikasi populer. Jika Ofcom menilai perlindungan TikTok belum cukup, regulator punya ruang untuk menekan perusahaan agar memperketat verifikasi usia, menyaring rekomendasi konten, atau membatasi fitur tertentu yang mudah mendorong paparan berisiko.
Untuk industri media sosial, langkah Ofcom memberi pesan keras. Perusahaan tidak bisa lagi hanya mengandalkan label “ramah remaja” atau setelan keamanan yang tersembunyi di menu. Regulator kini menuntut bukti kerja sistem, bukan klaim pemasaran. Dan itu bisa memicu standar baru yang ikut diikuti negara lain, termasuk di Asia.
Dalam pernyataan yang dikirim ke Reuters, juru bicara TikTok mengatakan perusahaan menerapkan pengalaman yang sesuai usia lewat aturan platform yang disusun bersama ahli dan teknologi inferensi usia. TikTok juga menyatakan yakin telah memenuhi kewajiban di bawah Online Safety Act dan akan bekerja sama dengan Ofcom untuk membuktikannya.
Di titik ini, yang paling penting bukan hanya apakah TikTok menang atau kalah di hadapan regulator. Yang dipertaruhkan adalah ukuran baru soal keamanan digital anak. Ofcom kini memeriksa apakah TikTok benar-benar bisa membuktikan klaim itu, di tengah tekanan hukum yang terus naik dan sorotan publik yang belum mereda.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.