NEW YORK — larangan media sosial makin meluas ketika Inggris pada bulan ini resmi menyatakan akan menetapkan usia minimum 16 tahun untuk mengakses platform media sosial besar. Keputusan itu membuat tekanan terhadap raksasa teknologi berubah dari sekadar wacana menjadi aturan yang mulai menyeberang batas negara.
Gelombang kebijakan ini datang setelah Australia lebih dulu memicu preseden tahun lalu, saat negara itu memberlakukan batas usia pada layanan seperti Instagram, Facebook, YouTube, X, TikTok, dan Snapchat. Dari London sampai Canberra, pesan pemerintah makin jelas: akses anak ke platform digital tak lagi dibiarkan tanpa pagar.
Keluhan orang tua berubah jadi kebijakan
Arturo Béjar, mantan karyawan Meta yang kini dikenal sebagai whistleblower, mengatakan ia telah berbicara dengan orang tua di berbagai negara. Kesimpulannya sama. Mereka cemas membayangkan hari ketika anak-anak mereka cukup besar untuk benar-benar aktif di internet.
“Saya telah berbicara dengan orang tua dari beberapa negara, dan saya belum pernah bertemu orang tua dari anak kecil yang tidak ketakutan membayangkan saat anak mereka cukup besar untuk online. Atau anak muda yang tidak mengalami sesuatu yang buruk dan sebetulnya bisa dicegah,” kata Béjar, seperti dikutip dari laporan The Guardian.
Béjar, 55 tahun, pernah menjadi senior engineer dan konsultan di Meta. Ia juga menjadi saksi dalam persidangan di Amerika Serikat yang menyatakan Meta bertanggung jawab karena diduga merancang produk adiktif secara sengaja dan menyesatkan konsumen soal keamanan platformnya. Persidangan di California itu ikut memperkeras suasana politik di banyak negara.
Kalimatnya tajam. “Mereka [platform media sosial] terus menunjukkan kepada dunia mengapa kami tidak bisa mempercayai mereka,” ujarnya.
Meta menolak putusan itu dan menyatakan akan mengajukan banding. Perusahaan juga mengatakan masalah kesehatan mental remaja sangat kompleks dan tidak bisa diperas menjadi satu penyebab. Meta menambahkan bahwa mereka tetap berkomitmen membangun lingkungan yang aman dan mendukung bagi anak muda.
Inggris, Australia, dan efek berantai ke negara lain
Langkah Inggris bukan berdiri sendiri. Indonesia dan Malaysia sudah lebih dulu menerapkan larangan bagi pengguna di bawah 16 tahun pada platform tertentu, sementara Austria, Prancis, dan Norwegia juga tengah mempertimbangkan pembatasan usia serupa. Brasil bahkan mengambil langkah lebih luas dengan melarang ponsel di sekolah secara menyeluruh, sedangkan anak di bawah 16 tahun hanya boleh mengakses media sosial jika terhubung ke akun orang tua.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.