JAKARTA — Fenomena penggunaan kecerdasan buatan dalam pemrograman, atau yang kerap disebut vibecoding, kini mulai menyisakan masalah baru bagi banyak perusahaan. Sebuah tim pengembang perangkat lunak bernama Slopfix meluncurkan layanan unik untuk membersihkan tumpukan kode yang dihasilkan AI, dengan mematok biaya sebesar 10.000 dolar AS atau setara Rp155 juta per minggu.
Tim yang digawangi oleh tiga pengembang—Maciej, Kuba, dan Krzysztof—ini menangkap peluang di tengah meningkatnya keluhan perusahaan atas basis kode yang membengkak tanpa kendali. Proyek yang dibangun dengan bantuan AI sering kali kehilangan konteks dan logika setelah mencapai skala tertentu.
Kondisi ini memicu duplikasi fungsi, fitur yang tidak berfungsi, hingga halusinasi kode yang merusak sistem inti.
Ironi Membersihkan Kode dengan AI
Langkah yang diambil Slopfix tergolong paradoks. Mereka menggunakan alat berbasis AI untuk mendeteksi ‘lemak’ atau kode sampah hasil buatan AI lainnya. Namun, mereka menegaskan bahwa AI yang digunakan bekerja dengan pengawasan ketat.
Pengembang manusia tetap memegang kendali penuh atas keputusan akhir, sementara AI hanya berfungsi sebagai pemindai untuk menemukan logika yang rusak atau fungsi yang berulang.
Metode kerja mereka melibatkan evaluasi menyeluruh, mulai dari per layar hingga per titik akhir (endpoint). Selain itu, mereka menawarkan garansi perbaikan selama dua minggu untuk memastikan sistem tetap stabil setelah proses pembersihan selesai.
Pendekatan ini ditujukan bagi perusahaan yang telanjur terjebak dalam pengembangan berbasis AI dan kini kesulitan mengelola tumpukan kode yang berantakan.
Efisiensi Biaya Berbasis Target
Meskipun angka 10.000 dolar AS terdengar fantastis, Slopfix menerapkan sistem pembayaran berbasis performa. Biaya tersebut bukanlah tarif tetap yang dibayarkan di muka, melainkan bayaran yang disesuaikan dengan seberapa besar target pengurangan kode yang berhasil dicapai oleh tim. Jika mereka gagal mencapai target, perusahaan tidak harus membayar penuh.
Sebelum kontrak disepakati, Slopfix terlebih dahulu melakukan analisis basis kode secara gratis. Jika mereka merasa masalah pada proyek tersebut tidak bisa diperbaiki, mereka akan menolak kontrak tersebut sejak awal. Transparansi ini menjadi poin penting bagi klien agar tidak membuang anggaran pada proyek yang sudah tidak bisa diselamatkan secara struktural.
Munculnya layanan seperti Slopfix menunjukkan bahwa industri perangkat lunak mulai menyadari keterbatasan AI dalam menjaga kualitas kode jangka panjang.
Bagi perusahaan di Indonesia yang sedang mengakselerasi transformasi digital dengan teknologi serupa, tren ini menjadi peringatan untuk tidak sepenuhnya mengandalkan otomatisasi tanpa pengawasan teknis dari tenaga ahli yang memahami struktur logika sistem.
Ke depannya, peran konsultan yang mampu memitigasi risiko dari kode hasil AI kemungkinan besar akan menjadi kebutuhan baru di pasar pengembangan perangkat lunak.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.