Sumber dari Liputan6.com menyebut Lucky bahkan siap menjadi orang tua angkat bagi anak-anak korban secara menyeluruh, sementara JPNN menegaskan fokus utamanya ada pada dua balita yang kehilangan ibu mereka, yang disebut sebagai orang tua tunggal.
Dua sumber itu sejalan pada inti berita: pendampingan tidak berhenti di rumah duka, melainkan masuk ke pemulihan fisik dan psikologis anak-anak yang selamat.
Pantura kembali mengingatkan soal keselamatan jalan
Kasus ini juga menyorot Jalur Pantura Indramayu sebagai ruas yang tidak bisa dipandang ringan. Jalur ini padat kendaraan, sering dipakai mobil pribadi, angkutan umum, dan kendaraan barang. Begitu kecelakaan terjadi, dampaknya bisa berlapis: korban jiwa, keluarga kehilangan pencari nafkah, anak-anak kehilangan orang tua, lalu beban sosial berpindah ke pemerintah daerah.
Karena itu, respons Lucky Hakim punya bobot politik sekaligus kemanusiaan. Sebagai kepala daerah, ia tidak hanya hadir dalam suasana duka, tetapi juga menandai bahwa tragedi semacam ini menuntut tindak lanjut yang lebih rapi, mulai dari bantuan awal sampai penanganan anak korban.
Di lapangan, publik biasanya menunggu dua hal: simpati dan tindakan. Kali ini, Pemkab Indramayu mencoba menunjukkan keduanya.
Langkah berikutnya kini bergantung pada proses hukum dan administrasi pengangkatan anak. Jika benar dijalankan, pendampingan itu akan menjadi salah satu bentuk tanggung jawab publik yang paling nyata setelah tragedi di Pantura. Dan bagi keluarga korban, hal terpenting sekarang sederhana saja: ada yang tetap menjaga dua balita itu saat dunia mereka berubah dalam satu malam.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.