Label FDA saat ini menyebut obat testosteron hanya untuk pria dengan hipogonadisme, kondisi medis yang membuat kadar testosteron turun drastis. Namun, para influencer dan pendukung gerakan “Make America Healthy Again” kerap menjual testosteron sebagai jalan untuk terlihat lebih muda, membangun otot, dan menjaga ketajaman mental. Klaim semacam itu belum diterima mayoritas pakar medis.
Ilmu medis belum sepenuhnya sejalan
Meski begitu, sejumlah studi terbaru memang memberi sinyal manfaat testosteron pada kondisi tertentu, sambil sedikit meredakan kekhawatiran soal keamanan, terutama terkait jantung. Tahun lalu, FDA menghapus peringatan kotak hitam tentang potensi risiko serangan jantung dan stroke dari obat-obat testosteron.
Rangkaian studi National Institutes of Health pada pria lanjut usia juga menemukan bahwa testosteron membantu disfungsi ereksi, libido, dan beberapa ukuran seksual lain, dengan efek kecil pada suasana hati. Namun, manfaatnya minim atau nyaris tidak ada untuk kelelahan, memori, dan kesejahteraan umum. Studi lain menunjukkan kemungkinan perbaikan massa otot, kekuatan, dan kepadatan tulang.
Itulah sebabnya banyak dokter tetap berhati-hati. Pemeriksaan testosteron bukan tes sederhana. Kadar hormon itu naik turun sepanjang hari, sehingga hasilnya mudah berbeda jika sampel diambil pada waktu yang berbeda.
Pedoman medis yang berlaku sekarang cenderung meminta dokter berdiskusi dengan pasien yang memang punya gejala mengganggu dan hasil laboratorium yang konsisten rendah, bukan langsung melakukan skrining luas pada semua orang.
Anggota DPR dari Partai Demokrat sekaligus veteran Angkatan Udara, Chrissy Houlahan, ikut mengkritik pengumuman itu.
Ia mengatakan langkah Hegseth membuktikan sang menteri pertahanan “takes direction from the far corners of the manosphere.” Houlahan juga berharap tes testosteron nantinya tersedia untuk pria dan perempuan, serta prajurit perempuan mendapat akses ke sumber daya yang sama agar mereka juga bisa menjadi prajurit elite.
Pernyataan Houlahan menambah tekanan politik atas keputusan Hegseth, yang sejak awal masa jabatannya kerap memicu kontroversi terkait peran perempuan di militer.
Ia pernah mengatakan perempuan tidak seharusnya menduduki peran tempur dan bahwa jabatan semacam itu harus diukur dengan “highest male standard.” Dalam sejumlah langkah lain, ia juga disebut menahan promosi atau memecat beberapa pemimpin perempuan sejak memimpin Pentagon.
Hegseth juga sudah mengambil kebijakan medis lain untuk pasukan. Pada April lalu, ia mengumumkan pencabutan mandat vaksin flu yang sudah lama berlaku di militer, dengan alasan “medical autonomy” dan kebebasan beragama.
Dua bulan kemudian, wabah flu di kamp pelatihan Angkatan Udara Amerika Serikat membuat sedikitnya hampir 300 orang sakit. Kini, lewat tes testosteron militer, Pentagon kembali menaruh keputusan medis dan kesiapan tempur dalam satu tarik-menarik yang belum selesai.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.