Investor pemegang obligasi Sherritt International Corp. kini mendesak manajemen untuk tidak terpaku pada satu jalur penyelamatan saja. Mereka menuntut pihak perusahaan segera membuka pintu bagi proposal refinansialisasi dari investor lain yang dinilai lebih kredibel, alih-alih terus melaju dengan penawaran dari Gillon Capital LLC.
Persaingan tawaran ini menjadi krusial. Kelompok pemegang obligasi 2031 yang menguasai porsi utang signifikan mengaku telah memegang rancangan rekapitalisasi baru.
Proposal ini didukung oleh barisan investor strategis dan finansial, meski sampai sekarang identitas mereka masih tertutup rapat dari publik.
Bagi para pemegang obligasi, tawaran dari pihak eksternal ini bukan sekadar alternatif, melainkan jalan keluar yang lebih realistis dibandingkan rencana Gillon Capital yang dimiliki oleh Ray Washburne, seorang mantan penasihat era Donald Trump.
Ketegangan di Ruang Rapat
Nada keras keluar dari pernyataan resmi para pemegang obligasi pada Jumat lalu. Mereka menekankan bahwa konstituen kreditor yang terorganisir sudah siap di meja perundingan, namun komunikasi dengan manajemen Sherritt macet.
“Para pemangku kepentingan harus memahami bahwa suatu konstituen kreditor yang terorganisir ada dan siap terlibat, namun keterlibatan tersebut belum maju sesuai dengan urgensi situasi perusahaan,” tulis mereka dalam pernyataan resmi.
Posisi Sherritt saat ini memang sangat terjepit. Perusahaan pertambangan yang berbasis di Toronto ini sudah lama menjadi salah satu investor asing terbesar di Kuba. Sialnya, kebijakan sanksi ketat dari era Trump memukul habis operasional mereka.
Kuba tak lagi mampu mengimpor minyak dalam jumlah yang cukup untuk kebutuhan industri. Dampaknya? Produksi di tambang nikel dan kobalt di wilayah timur Kuba terpaksa dihentikan total pada Februari lalu.
Awalnya, langkah yang diambil manajemen cukup radikal. Mereka sempat ingin menutup seluruh usaha patungan dengan perusahaan milik negara Kuba dan angkat kaki dari pulau tersebut. Namun, angin berubah arah.
Sherritt mendadak mengumumkan kesepakatan awal untuk menjual saham pengendali kepada Gillon Capital. Kini, kedua pihak terkunci dalam periode pembicaraan eksklusif yang membatasi ruang gerak perusahaan untuk melirik penawaran lain.
Ancaman Kebangkrutan Nyata
Kelompok pemegang obligasi 2031 menolak tunduk pada skenario eksklusif tersebut. Mereka terang-terangan menyatakan ketidakpercayaan terhadap transaksi dengan Gillon Capital sebagai satu-satunya opsi yang bisa dijalankan. Bagi mereka, manajemen Sherritt terlalu terburu-buru mengambil keputusan di tengah situasi yang genting.
Kondisi keuangan Sherritt memang sudah di titik nadir. Bulan lalu saja, manajemen sudah melemparkan peringatan keras kepada pasar. Mereka mengakui ada keraguan serius mengenai kemampuan perusahaan untuk bertahan sebagai entitas bisnis atau going concern.
Beban utang yang menumpuk membuat mereka tidak memiliki cadangan kas yang cukup jika para pemberi pinjaman menuntut pembayaran instan akibat gagal bayar atau default.
Untuk mencegah kejatuhan lebih dalam, pemegang obligasi tidak sekadar bicara. Mereka sudah mengajukan lembar syarat atau term sheet untuk pendanaan darurat. Tujuannya sederhana: menjaga napas likuiditas perusahaan agar operasional tidak lumpuh total sambil mencari jalan keluar jangka panjang yang lebih sehat.
Sampai saat ini, nasib Sherritt masih menggantung di persimpangan jalan antara kesepakatan eksklusif dengan Gillon Capital atau membuka ruang bagi proposal baru yang dibawa oleh para kreditor.
Tekanan dari para pemegang obligasi ini memaksa direksi untuk segera memilih antara menyelamatkan perusahaan dengan suntikan dana dari investor yang teruji atau tetap bertahan pada rencana yang saat ini memicu gesekan tajam di internal perusahaan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.