MALANG — Presiden Prabowo Subianto memimpin langsung acara panen raya serentak di Lanud Abdulrachman Saleh, Pakis, Kabupaten Malang, Jumat (17/7/2026). Kehadiran Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dan tiga Kepala Staf Angkatan menandai komitmen militer dalam program ketahanan pangan nasional yang masif.
Panen melibatkan tiga komoditas strategis dalam satu operasi terkoordinasi: tebu ditangani TNI Angkatan Udara, kedelai oleh TNI Angkatan Laut, dan padi oleh TNI Angkatan Darat. Skala operasi mencerminkan upaya pemerintah menggerakkan seluruh institusi negara untuk mencapai swasembada pangan.
"TNI Adalah Bagian dari Rakyat"
Prabowo menekankan dalam pidatonya bahwa keterlibatan TNI melampaui pertahanan konvensional. “TNI dan Polri tidak hanya penjaga pertahanan keamanan negara, tapi anak kandung rakyat. TNI dan Polri harus selalu bersama rakyat di tengah-tengah rakyat. Kesulitan rakyat adalah kesulitan TNI,” ujar Presiden.
Pernyataan itu sekaligus merespons kritik tentang peran militer dalam sektor sipil. Prabowo tegas: jangan mempersoalkan “kenapa TNI ikut di sawah.” Menurutnya, kehadiran TNI di berbagai lini kehidupan masyarakat adalah keharusan untuk mengatasi kesulitan rakyat secara komprehensif.
Pada saat yang sama, Presiden memberikan respons berapi-api terhadap keluhan harga beras. “Yang mengatakan harga beras terlalu mahal, silakan tanam padi sendiri. Kalau petani tidak dapat penghasilan tinggi, suruh mereka tanam sendiri. Wenak aja,” ujarnya, membela hak petani memperoleh pendapatan layak.
Target Produksi Tebu 45 Persen dari Target Nasional
Panglima TNI melaporkan pencapaian signifikan di lapangan. Pada sektor tebu, TNI Angkatan Udara bekerja sama dengan Sinergi Gula Nusantara dan asosiasi petani mendampingi lahan seluas 236.048 hektare dengan potensi produksi 18,386 juta ton tebu—setara 1,36 juta ton gula.
“Kontribusi ini mencapai 45,05 persen dari target produksi gula nasional tahun 2026,” kata Agus Subiyanto. Angka itu menunjukkan beban tanggung jawab TNI dalam mencapai target swasembada yang ambisius.
Khusus di lokasi panen di Lanud Malang, ada 800,5 hektare lahan siap panen dengan estimasi hasil 72.045 ton tebu. Dari hilirisasi tebu itu, pemerintah melihat peluang multi-produk: molase, bioetanol industri dan farmasi, pupuk organik, serta produk turunan lain yang meningkatkan nilai ekonomi.
Kedelai dan Padi: Kontribusi Lebih Kecil, Target Ekspansi Besar
TNI Angkatan Laut menangani sektor kedelai dengan mendampingi lahan seluas 2.432 hektare yang menghasilkan 3.676 ton. Kontribusi itu 0,35 persen dari target produksi kedelai nasional 2026—angka kecil, tapi Panglima mengindikasikan ekspansi agresif.
“Kami telah membuka lahan baru di aset TNI AL dan lahan binaan Kodaeral seluas 3.110 hektare di tujuh wilayah dengan estimasi 5.287 ton tambahan,” kata Agus. Strategi ini bertujuan mengurangi ketergantungan impor kedelai, masalah kronis Indonesia yang menekan harga dan pasokan.
Untuk padi, TNI Angkatan Darat memikul beban terberat—komoditas paling strategis untuk stabilitas harga dan ketersediaan pangan pokok. Data spesifik produksi padi dari kedua sumber belum rinci, namun keterlibatan AD menunjukkan prioritas tertinggi Pemerintah dalam program ini.
Pertahanan Terbaik Adalah Rakyat Sejahtera
Prabowo menghubungkan keamanan nasional dengan ketahanan ekonomi rakyat. “Pertahanan terbaik adalah rakyat yang kuat dan sejahtera. Seluruh rakyat akan membela bangsa ini. Itulah mengapa TNI dan Polri harus berada di tengah-tengah rakyat,” ujarnya.
Framing ini mengubah narasi tradisional TNI sebagai institusi eksklusif pertahanan militer menjadi lembaga pembangunan multisektor. Namun, strategi itu juga menunjukkan keyakinan pemerintah bahwa stabilitas pangan—dan oleh karena itu kesejahteraan petani—adalah fondasi keamanan negara yang sesungguhnya.
Prabowo juga menyampaikan apresiasi langsung kepada petani dan nelayan. “Kalian adalah pahlawan sesungguhnya karena menghasilkan pangan bagi seluruh bangsa,” ujarnya. Pesan tersebut sekaligus isyarat bahwa pemerintah menyadari kontribusi sektor pertanian dan perlu ditingkatkan status ekonominya.
Program Didukung Penuh TNI dan Kementerian
Prabowo menjanjikan dukungan pemerintah bagi masyarakat yang ingin bertani. “TNI akan menyiapkan lahannya. Menteri Pertanian juga akan menyiapkan lahannya,” katanya. Janji ini mengindikasikan alokasi sumber daya dari TNI dan kementerian terkait secara bersamaan untuk mendorong partisipasi warga dalam program swasembada.
Dengan angka tebu mencapai 45 persen target nasional dan rencana ekspansi kedelai yang terstruktur, program panen raya bersama TNI menunjukkan hasil awal yang konkret. Namun, kecukupan target padi—komoditas paling penting untuk stabilitas harga beras—masih menjadi pertanyaan terbuka yang akan menentukan kesuksesan swasembada pangan 2026.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.