Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo turun langsung ke Desa Tulamben, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, Bali, Jumat (17/7). Kedatangannya bukan tanpa alasan. Ia ingin memastikan kompleks Sekolah Rakyat (SR) di sana benar-benar siap menampung aktivitas belajar mengajar para siswa.
Berdiri di atas lahan seluas 5,67 hektare, sekolah ini dirancang menjadi pusat pendidikan terpadu. Dody berjalan menyusuri koridor, masuk ke beberapa ruang kelas, hingga mengecek fasilitas sanitasi. Hasilnya? Fasilitas utama dianggap sudah siap dipakai, meski catatan kecil tetap ada.
Catatan Detail Sang Menteri
Tidak banyak yang ia keluhkan. Namun, Dody cukup teliti melihat detail teknis yang luput dari perhatian. Ia menemukan titik genangan air di area kamar mandi. Selain itu, ketersediaan tempat sampah di beberapa sudut sekolah masih kurang.
“Secara keseluruhan, sarana dan prasarananya sudah baik. Yang masih perlu dibenahi adalah beberapa fasilitas pendukung tadi, seperti genangan di area kamar mandi dan penambahan tempat sampah,” ungkap Dody saat memberikan keterangan resmi di sela-sela kunjungannya.
Instruksinya tegas. Dody meminta penyedia jasa tidak menunda perbaikan kecil tersebut. Baginya, kenyamanan siswa saat menggunakan toilet atau kebersihan lingkungan sekolah adalah bagian integral dari proses belajar yang berkualitas.
Ia pun menitipkan pesan kepada pihak sekolah agar mendidik siswa membiasakan diri menggunakan fasilitas dengan benar. Jangan sampai bangunan megah ini rusak karena kurangnya perawatan dari penghuninya sendiri.
Proyek Jumbo Pendidikan
Sekolah Rakyat di Bali ini bukan sekadar bangunan ruang kelas biasa. Pemerintah merancangnya sebagai kompleks modern yang lengkap. Ada gedung SD, SMP, hingga SMA dalam satu lokasi. Fasilitas penunjangnya pun komplit; mulai dari asrama siswa, rumah susun untuk guru, gedung serbaguna, dapur, kantin, tempat ibadah, sampai lapangan olahraga.
Bisa dibayangkan, ini adalah ekosistem pendidikan yang cukup ambisius. Desain yang terpadu ini memungkinkan anak-anak menuntaskan pendidikan dasar hingga menengah atas tanpa harus berpindah jauh dari tempat tinggal mereka di wilayah Karangasem.
Anggaran yang digelontorkan pun tak main-main. Nilai kontrak proyek ini menyentuh angka Rp255,5 miliar. Bagi warga sekitar, angka ini adalah bentuk nyata kehadiran negara dalam memerangi ketimpangan akses pendidikan yang selama ini kerap menjadi kendala di wilayah pelosok.
Saat ini, jarum jam proyek hampir sampai di titik akhir. Progres fisik tercatat sudah mencapai 95,11 persen. Sisa pekerjaan hanya tinggal sentuhan akhir dan penyempurnaan fasilitas penunjang yang diminta Dody. Secara nasional, Dody sendiri mencatat sudah ada 82 unit Sekolah Rakyat serupa yang kini sudah fungsional dan menjadi tempat para siswa menimba ilmu.
Fokus Tahapan Selanjutnya
Meski bangunan utama sudah rampung dan siap digunakan, pengembangan tidak berhenti di sini. Pihak kementerian merencanakan penyelesaian bangunan pendukung lainnya secara bertahap. Hal ini disesuaikan dengan kebutuhan riil di lapangan serta proyeksi penambahan jumlah siswa di tahun-tahun mendatang.
Kehadiran sekolah di Tulamben ini menjadi harapan baru bagi warga Karangasem. Bukan sekadar soal gedung baru, melainkan tentang jaminan akses bagi anak-anak untuk mengejar mimpi mereka tanpa terhambat keterbatasan sarana. Kini, mata publik tertuju pada bagaimana operasional sekolah ini berjalan setelah serah terima tuntas dilakukan.
Penyedia jasa kini punya waktu sempit untuk menutup sisa 4,89 persen pekerjaan tersebut. Fokus mereka adalah membersihkan genangan air, menambah tempat sampah, dan memastikan semua instalasi air serta sanitasi berjalan lancar sebelum sekolah benar-benar dipenuhi keriuhan siswa di ruang kelas.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.